Oleh: Agus Riyanto | 15 September 2012

PERSAHABATAN KERANG DAN MUTIARA


Kerang dan Mutiara yang indah

Kerang dan Mutiara yang indah

Mengingat kata “persahabatan dan cinta”, saya jadi teringat kisah tentang Kerang dan Mutiara. Dua kata yang sudah familiar dan sering dikait-kaitkan satu sama lain. Sekitar 7 atau 8 tahun lalu saya pernah membaca kisah ini di internet. Menyentuh dan mengesankan.

Tergelitik dengan kisah tersebut, saya pun coba mencarinya kembali dan menemukannya di salah satu posting di www(dot)nomor1(dot)com. Dari redaksinya, saya tahu itu bukan tempat asal kisah ini dipublikasikan. Andaikan saya tahu siapa pengarang kisah ini, pasti saya senang sekali mengenalnya.

Kisah ini menyajikan tentang bagaimana perkenalan berubah menjadi persahabatan, persahabatan berubah menjadi cinta, namun kemudian cinta itu berakhir dengan perpisahan. Bagaimana menghadapi perpisahan itu, akan menjadi wacana bagi sahabat yang mungkin akan, sedang, atau pernah mengalaminya.

Setelah saya edit dan memoles beberapa bagian agar lebih enak dibaca, saya persembahkan kisah berikut ini untuk sahabat pembaca yang budiman. Semoga ada manfaatnya. Selamat membaca!

***

Malam ini angin berhembus lembut. Permukaan laut tenang, ada sedikit cahaya rembulan menerobos masuk ke dasar laut di mana seekor Kerang sedang duduk menikmati suasana temaram dan tenang. Gelombang lembut di dasar laut sana membawa pasir-pasir menari mengikuti arus bermain.

Sebutir Pasir masuk ke dalam tubuh Kerang, membuat sang Kerang kaget.

“Heiii, siapakah kau gerangan?” sang Kerang bertanya.

“Aku adalah Pasir, gelombang lautlah yang membawa aku ke tempatmu. Siapakah engkau?” tanya sang Pasir.

“Aku Kerang, penghuni dasar lautan ini.”

Demikianlah perkenalan sang Kerang dengan butir Pasir tersebut.

Perkenalan tersebut pada awalnya hampa rasanya, mungkin hanya ibarat sebutir Pasir besarnya. Sampai suatu saat, sang Dewi Rembulan melihat persahabatan yang hampa tersebut.

Sang Dewi berkata, “Wahai Kerang, tidakkah kau dapat lebih mencurahkan rasa persahabatanmu pada butir Pasir tersebut? Dia begitu kecil dan lembut. Mulai sekarang biar aku mengajarkan bagaimana rasa persahabatan itu agar hidupmu lebih berarti.”

Dengan lembut dan sungguh-sungguh sang Dewi mengajarkan. Tidak sia-sia apa yang diajakan sang Dewi Rembulan. Persahabatan antara sang Kerang dengan butir Pasir lembut tersebut berbuah hasil. Ada canda, ada tawa, dan mereka pun kadang berbagi masalah. Persahabatan itu telah merubah butir Pasir lembut tersebut menjadi sebutir Mutiara muda yang berwarna putih. Warna putih tersebut merupakan warisan sang Dewi Rembulan kepada mereka.

Di suatu siang yang terik, pada saat mereka sedang berbagi rasa di dasar laut yang berselimut Pasir putih. Tiba-tiba mereka mendengar seruan, “Hai sahabat, apa yang sedang kalian lakukan?”

Sang Kerang menjawab, “Siapakah engkau gerangan?“

“Wahai Kerang, tidakkah engkau mengenali aku? Aku Surya, dewa penguasa matahari yang menyinari seluruh bumi di siang hari. Aku melihat persahabatanmu dan Mutiara muda itu tulus sekali.”

Sang Kerang menjawab, “Itu merupakan hasil didikan Dewi Rembulan yang lembut dan penuh cinta kasih.“

“Kalau begitu, biar aku lengkapi ajaran sang Dewi. Biar aku ajarkan kepada kalian tentang hangatnya cinta,” jawab sang Matahari.

Seiring terbit dan tenggelamnya mentari, sang raja Surya memupuk sang Kerang dan Mutiara muda dengan perasaan cinta. Jatuh cintalah sang Kerang dengan Mutiara muda itu. Mutiara muda itu sekarang menjadi sebutir Mutiara putih bersih dan berkilau mewarisi sifat sang dewa Surya, dan dibalut dengan cinta sang Kerang. Indah sekali…

Hidup sang Kerang dan butir Mutiara itu indah sekali. Cinta mereka tulus. Berbagai  duka, suka, dan gelombang mereka lalui bersama. Tidak ada hari-hari seindah hari-hari yang mereka lalui.

Suatu hari seekor Ikan yang lewat berkata kepada sang butir Mutiara, “Wahai Mutiara elok, tahun depan raja dari kerajaan di seberang sana akan mengadakan pemilihan Mutiara terindah. Tidakkah kau tertarik untuk mengikutinya? Rupamu elok, aku yakin raja akan memilihmu,” kata sang Ikan

“Benarkah begitu?” tanya sang Mutiara. “Aku akan menyampaikan kabar gembira ini pada sang Kerang kekasihku“, sambung sang Mutiara.

Mulai saat itu sang Mutiara rajin mempercantik diri. Sang Kerang juga memberinya semangat dan dorongan. Namun sang Kerang tidak menyadari, keinginan besar sang Mutiara untuk menang telah merubah sikap sang Mutiara.

Sampai suatu hari Mutiara tersebut berkata kepada sang Kerang, “Wahai kekasihku Kerang, perlombaan itu hampir tiba saatnya, dan aku ingin keluar sebagai pemenang. Aku ingin mencapai cita-citaku… Adalah lebih baik mulai saat ini kau menjadi temanku saja, bukan seorang kekasih. Aku ingin mencurahkan seluruh perhatianku untuk lomba itu. Aku tidak mau terganggu…”

Kata-kata tersebut melukai perasaan sang Kerang. Air matanya pun jatuh. “Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku menyayangimu dengan segenap hatiku. Tidakkah engkau tau perasaanku? Aku memang tidak mudah mengungkapkan perasaanku. Aku kaku laksana kulitku yang keras ini, tapi mengapa…?”

“Kerang yang baik, untuk apa engkau menangis? Aku akan tetap menjadi sahabatmu, dan aku tetap akan menjaga hubungan kita,” kata sang Mutiara menenangkan.

Akhirnya tiba waktu perlombaan tersebut. Melihat keindahan Sang Mutiara, raja pun langsung jatuh hati. “Inilah Mutiara terindah yang pernah aku jumpai, aku memilihnya!” kata sang raja.

Akhirnya Mutiara tersebut bersanding menjadi liontin sang raja. Setiap hari sang raja memandang dan mengaguminya.

Liontin Mutiara Sang Raja

Liontin Mutiara Sang Raja

Sang Mutiara telah melupakan sang Kerang. Sang Mutiara asyik melayani sang raja. Tinggallah sang Kerang yang kembali duduk di keheningan dasar laut sana. Sepi, hampa rasanya hidup sang Kerang setelah kepergian Mutiara.

Setiap hari ia menunggu sang Angin menyampaikan kabar dari sang Mutiara. Satu hari, dua hari, seminggu tidak ada kabar dari sang Mutiara. “Biarlah aku menitip pesanku pada sang Angin untuk Mutiaraku,” pikir sang Kerang.

“Wahai Angin, sampaikan rasa rinduku pada Mutiaraku yang ada di negeri seberang sana,” pekik sang Kerang.

Sang Angin menyampaikan pesan tersebut. Namun apa kata sang Mutiara, “Angin, sampaikan kepada sang Kerang supaya jangan ganggu aku lagi. Aku sibuk sekali melayani sang raja, dan sampaikan juga padanya untuk mencari Mutiara lain saja.“

Kabar ini membuat sang Kerang sedih, namun dalam kesedihannya rasa sayang sang Kerang terhadap sang Mutiara mengalahkan rasa kecewanya. Ia tetap berdoa pada Ilahi agar sang Mutiara selalu dalam keadaan bahagia.

***

Sahabat yang luar biasa, dalam kehidupan nyata ini banyak perkenalan yang berlanjut menjadi persahabatan. Hari demi hari, persahabatan itu pun kian dekat dan mesra hingga bermuara pada sebuah perasaan cinta. Jika kedua belah pihak memiliki perasaan yang sama, punya komitmen, dan mau menanggung suka dan duka dalam melewati badai kehidupan bersama-sama, hubungan itu bisa berakhir dengan sebuah jenjang pernikahan yang suci.

Namun bisa juga percintaan itu berakhir dengan sebuah perpisahan yang menyakitkan bagi salah satu pihak atau keduanya. Luka dari cinta itu cuma bisa disembuhkan oleh waktu, atau cinta baru yang lebih tulus dan setia. Kalaupun cinta itu dapat kembali lagi menjadi sebuah persahabatan, percayalah rasa persahabatan itu akan lain. Mungkin akan hambar, tak seperti dulu lagi. Tak jarang percintaan itu berakhir pula menjadi sebuah permusuhan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Jika Anda sekarang dalam posisi Kerang atau sedang menjadi Mutiara indah tersebut, pasti punya pertimbangan yang bijak untuk langkah selanjutnya. Yang jelas, kita harus tetap Bangkit, Maju dan Raih Mimpi!—apapun keadaan kita saat ini.


Responses

  1. Tulisan yang sangat inspiratif…
    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

    • Terima kasih apresiasinya Mas Mochammad🙂
      Semoga bermanfaat.

      • Sama-sama, Dek Agus Riyanto. Pasti bermanfaat…🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: