Oleh: Agus Riyanto | 21 Juli 2012

DALAM TEMPAAN KEPOMPONG RAMADHAN


Di belakang rumah kerabat saya ada sebidang tanah yang tidak dimanfaatkan. Di situ tumbuh subur rerumputan, dan menjadi tempat hidup belalang, lintah, kaki seribu, dan juga ulat. Burung-burung pun banyak yang hinggap di tanah untuk mencari makanan. Mungkin mereka menemukan biji-biji bunga rumput di situ sebagai sarapan pagi. Belalang juga tidak ketinggalan melompat ke sana ke mari.

Ulat yang rakus

Ketika saya perhatikan, ternyata di dedaunan rumput liar yang agak tinggi terdapat ulat-ulat hitam yang besar. Bulunya lebat dan bila terkena kulit akan menyebabkan gatal-gatal. Tak heran jika dedaunan tumbuhan liar itu rusak parah karena dimakan ulat tersebut. Ulat-ulat tersebut terlihat rakus. Buktinya tidak hanya tumbuhan liar itu yang daun-daunnya hampir habis, namun juga rumput dan semak lain yang terlihat daun-daunnya rusak berantakan.

Jika ada wanita melihat ulat itu pasti dia merasa jijik, takut, atau bahkan mungkin ada yang pingsan jika ulat itu hinggap merayap di bajunya. Kesannya ulat itu binatang yang rakus dan menjiijkkan. Kalau ada yang melihat pasti ingin membunuhnya atau pergi menjauh karena merasa jijik. Ulat kecil saja takut, apalagi ulat yang besar. Jika ada yang besar dan panjang sampai satu meter, itu bukan ulat raksana. Itu ular namanya… 🙂

Meskipun kesannya negatif, jika kita amati lebih jauh, tidak selamanya ulat itu menjadi ulat sampai mati. Setelah cukup menjalani fase sebagai ulat yang buruk rupa maka ia pun akan mencari tempat yang aman dari segala gangguan untuk kemudian berubah menjadi kepompong. Badannya terbujur kaku tak berdaya, menggantung di dahan atau dedaunan. Ia tak peduli walau siang hari panas terik menyengatnya dan malam hari udara dingin menusuknya. Bahkan tak jarang hujan dan badai menerpanya. Ia tetap kokoh diam di tempatnya, tidak lagi rakus memakan dedaunan, tidak juga minum-minum sampai sempoyongan. Ia bersemedi beberapa lama dalam tempaan yang dahsyat sebelum berubah menjadi diri yang baru, diri yang penuh pesona keindahan.

Kepompong

Beberapa waktu kemudian, akhirnya keluarlah ia dari kepompongnya menjadi diri yang sama sekali baru, indah memukau dengan sayap barunya, dan tubuh yang cantik. Jauh beda dari wujudnya semula. Dan kini ia telah memiliki keahlian baru, yakni bisa terbang! Lalu ia pun terbang berkelana mencari kuntum-kuntum bunga yang indah untuk menghisap sari bunga dan menebarkan telur-telur generasi penerus kehidupannya.

Kupu-kupu nan Cantik

***

Demikianlah sahabat, kisah di atas saya ambil sebagai gambaran kehidupan kita di Bulan Suci Ramadhan ini. Kita ibarat sedang menjalani fase kepompong yang penuh tempaan. Di bulan Ramadhan ini kita dididik dan ditempa imannya. Kita dilatih dan diuji ketaatannya kepada Alloh SWT. Kita diharuskan menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari—yang mana semua itu halal saat di luar bulan Ramadhan.

Saat berpuasa, kita mungkin bisa berbohong kepada orang lain. Kita mengaku berpuasa pada orang-orang di sekitar kita, padahal di kamar kita makan dan minum. Kita menyangka tidak ada yang tahu. Namun dalam berpuasa, kita tidak mungkin bersembunyi dari pengawasan Alloh. Tidak ada satu pun orang yang bisa berbohong pada-Nya. Maka dalam Puasa Ramadhan ini iman kita dilatih agar sadar bahwa kita senantiasa dalam pengawasan Alloh SWT. Kita dilatih jujur karena puasa kita diawasi langsung oleh Tuhan yang Maha Mengawasi dan Maha Mengetahui. Oleh karena itu, Alloh yang akan memberi pahala secara langsung pada hambanya yang berpuasa, karena mereka menahan makan, minum, dan nafsu syahwat karena Alloh.

Sebagaimana digambarkan di atas, setelah menjadi kepompong, ulat pun menjadi kupu-kupu yang cantik. Seperti kita ketahui, kupu-kupu memiliki bentuk dan sifat yang sama sekali berbeda dengan ulat, bentuk masa lalunya sebelum menjadi kepompong.

Kupu-kupu hanya menghisap madu bunga, dia tidak serakah dan sembarang makan seperti saat menjadi ulat. Hal ini menggambarkan kepada kita bahwa orang yang puasanya sukses, diterima di sisi-Nya, sebelas bulan berikutnya setelah Ramadhan berlalu dia pun menjadi pribadi yang baru. Pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Jika sebelum Ramadhan apa saja dimakan dan diminum. Jika sebelum Ramadhan daging babi, harta hasil korupsi, harta hasil suap, dan harta haram lainnya ia makan dengan lahapnya, maka setelah sebulan penuh ditempa dalam kepompon Ramadhan ia tidak lagi makan makanan dan harta haram.

Begitu juga jika sebelum Ramadhan sering menenggak minuman keras dan mengkonsumsi narkoba sampai over dosis, maka setelah ditempa dalam kepompong Ramadhan ia tidak lagi doyan minuman dan barang yang begituan.

Jika sebelum Ramadhan suka kencan dengan banyak wanita, maka setelah berpuasa Ramadhan dan puasanya itu membekas, ia pun hanya kencan dengan wanita yang sah dan halal saja yaitu istrinya.

Jika sebelum Ramadhan suka ghibah (membicarakan orang lain), namimah (mengadu domba), durhaka pada orang tua, marah-marah, dan perbuatan dosa lainnya, maka setelah dididik Ramadhan ia pun menjadi pribadi yang lebih baik diam daripada ghibah dan namimah, berbakti kepada orang tua, penyabar, dan semakin jauh dari perbuatan dosa atau maksiat.

Namimah atau mengadu domba di sini bukan mengadu domba atau kambing dalam arti sebenarnya. Bukan… Bukan itu maksudnya… 🙂 Bukan domba yang diadu atau dipertandingkan supaya saling menanduk. Mengadu domba disini adalah membuat dua orang atau lebih saling bermusuhan, bertengkar, berperang, atau bersengketa sebab ulah mulut kita yang penuh racun fitnah.

Jika sebelum Ramadhan kita malas sholat lima waktu, malas membaca dan mengkaji Al Qur’an, tidak hormat pada orang tua, tidak sayang pada yang lebih muda, pelit (anti sedekah), dan tidak takut melanggar larangan Alloh, maka jika puasa kita sukses otomatis kita akan menjadi hamba Alloh yang rajin sholat (tidak hanya sholat fardlu namun juga sholat-sholat sunnah), rajin tadarus Al Qur’an, mau mempelajari dan mengamalkan isi Al Qur’an dalam kehidupan, memuliakan orang tua, menyayangi yang lebih muda, rajin sedekah, dan takutnya minta ampun jika melanggar larangan Alloh (berbuat maksiat).

Jika sebelum Ramadhan sholatnya bolong-bolong kita merasa happy happy saja, maka setelah puasa Ramadhan dengan sungguh-sungguh dan sukses, kita akan merasa takut, ada sesuatu yang seperti hilang, atau gundah gulana jika ada sholat fardlu yang tidak kita laksanakan. Sholat seakan menjadi sesuatu yang sesuatu banget bagi kita.

Pendek kata, lahir-batin kita menjadi cakep, bagus akhlaknya, bagus ibadahnya, bersih jiwanya, dan makin dekat dengan Alloh SWT. Bila diumpamakan seperti kisah di depan, kita bagaikan kupu-kupu setelah sebulan penuh hidup menepi dalam kepompong Ramadhan.

Kupu-kupu kan cantiknya luar biasa… Mereka yang dulu jijik dan pingsan ketika melihat ulat justru sekarang berlarian mengejar dan ingin menangkapnya. Seolah mereka lupa kupu-kupu itu adalah metamorfosis si ulat yang dahulu membuat mereka pingsan… 🙂

Jadi, bisa diartikan menjadi kupu-kupu di sini adalah perwujudan dari tujuan diwajibkannya berpuasa seperti tersurat dalam Al Qur’an surat Al Baqoroh ayat 183 yakni “la’allakum tattaquun” atau agar kalian menjadi orang yang bertakwa.

Bulan Ramadhan juga merupakan bulan maghfiroh (ampunan Alloh). Bagi siapa? Ya, bagi mereka yang mau dengan sungguh-sungguh mohon ampun kepada Alloh. Dan bagi mereka yang sukses dalam puasanya akan mendapat anugerah ‘itkum minannaar atau terbebas dari siksa neraka. Maka setelah berpuasa Ramadhan sebulan penuh kita akan berjumpa dengan Idul Fitri, yakni kembali kepada fitrah atau kesucian jiwa, suci bersih dari dosa-dosa, dengan catatan tentunya. Yakni kita berpuasa dengan kesungguhan dan keikhlasan penuh, juga memohon ampun atau bertaubat dengan taubatan nashuha.

Sahabat pembaca yang dirahmati Alloh SWT, sebagai penutup artikel ini akhirnya saya mengucapkan:

Marhaban ya Ramadhan

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1433 Hijriyyah, semoga kita sukses mendapat ridlo dan ampunan Alloh SWT, serta menjadi hamba yang takwa hingga malaikat maut datang menjemput, aamiin.

Semoga bermanfaat [AR].

Iklan

Responses

  1. ditunggu artikel berikutnya..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: