Oleh: Agus Riyanto | 20 Agustus 2011

BERKENALAN DENGAN “INFLASI”


Sahabat pembaca yang budiman, Anda pasti pernah mendengar kata “inflasi”. Walaupun demikian, mungkin di antara Anda ada yang belum paham benar apa itu inflasi. Namun jika Anda perhatikan, rupiah yang kita miliki semakin hari nilainya semakin menurun. Jika dulu, misal 20 tahun lalu saat kita masih sekolah TK atau SD, uang jajan kita Rp 25,- itu sudah cukup banyak. Namun, 25 rupiah di tahun 2011 ini sudah tidak ada nilainya. Artinya, daya beli atau nilai tukar uang tersebut sudah jauh berkurang seiring berlalunya waktu.  Sekarang Rp 1.000,- cuma dapat permen 10 buah, kalau 30 tahun lalu mungkin bisa dapat ribuan buah. Jadi ada gejala bahwa harga-harga barang dan jasa terus naik, atau dengan kata lain nilai tukar uang terhadap barang/jasa juga menurun secara berkesinambungan. Untuk itu posting kali ini akan mencoba mengulas tentang inflasi. Semoga ada manfaatnya bagi pembaca.

Inflasi merupakan gejala ekonomi yang menarik untuk diperhatikan. Inflasi sangat erat kaitannya dengan kondisi ekonomi suatu negara. Inflasi kadang juga membuat pemerintah dan pejabat Bank Sentral bekerja ekstra keras karenanya.

Indonesia pernah mengalami masa-masa berat dalam perekonomiannya yang disebabkan oleh sangat tingginya laju inflasi, yaitu pada masa 1966-1968 dan 1972-1974, dengan laju inflasi di atas 80% dan 25% per tahunnya (Anton H. Gunawan, 1991).

Pada periode 1970-1971 tingkat inflasi menunjukkan kecenderungan menurun sebagai dampak kebijakan stabilisasi pemerintah. Tetapi pada tahun 1972-1974 inflasi meningkat tajam, sekitar 47.04% untuk GDP deflator, dan 29.07% untuk GDY deflator. Kenaikan ini disebabkan oleh faktor peningkatan uang beredar akibat kenaikan harga migas dan bantuan luar negeri (pandangan monetaris), serta disebabkan kenaikan harga beras yang meningkatkan permintaan agregat. Lonjakan inflasi kembali terjadi pada periode 1978-1981 akibat adanya kebijakan devaluasi 15 November 1978. Kebijakan tersebut meningkatkan harga barang yang diperdagangkan (traded goods) dan harga migas. Jadi selama periode ini, inflasi lebih banyak merupakan demand pull inflation dan cost push inflation. Periode sesudahnya, peningkatan terjadi pada tahun 1983 dan 1991-1993, dan tingkat inflasi periode ini relatif stabil, dengan tingkat inflasi satu digit, yaitu di bawah 10%. Rendahnya tingkat inflasi ini disebabkan rendahnya tingkat pertumbuhan permintaan agregat dan keberhasilan swasembada pangan. Sedangkan lonjakan-lonjakan inflasi dipengaruhi oleh faktor permintaan dan penawaran yang bekerja sekaligus (Sri Mulyani Indrawati, 1996).

Setelah masa itu, Indonesia kembali mengalami inflasi yang tinggi hingga mencapai 80% pada tahun 1998. Hal tersebut diakibatkan oleh krisis moneter yang dialami Indonesia dan negara-negara lain di Asia. Gejolak ekonomi yang terjadi pada saat itu ditandai dengan terdepresiasinya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dari Rp 2.559 per US$ 1 pada bulan Juli 2007 menjadi Rp 15.000 per US$ 1 pada bulan Januari 2008. Hal ini berarti dalam kurun waktu enam bulan nilai tukar rupiah turun hingga 300% terhadap dolar Amerika Serikat. Akibat dari peristiwa ini adalah meningkatnya ongkos produksi produk yang mengandung komponen impor secara drastis sehingga mendorong peningkatan harga-harga barang secara umum, yang lebih kita kenal dengan inflasi.

Pengertian Inflasi

Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada (atau mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari barang–barang lain (Boediono, 1995).

Menurut R.G. Lipsey, inflasi adalah naiknya tingkat harga yang disertai dengan dampak negatif bagi masyarakat berupa tekanan terhadap taraf hidup (Anton Hermanto Gunawan, 1991).

Menurut A. P. Lehner, inflasi adalah keadaan di mana terjadi kelebihan permintaan (Excess Demand) terhadap barang-barang dalam perekonomian secara keseluruhan (Anton Hermanto Gunawan, 1991).

Sementara itu Ackley mendefinisikan inflasi sebagai suatu kenaikan harga yang terus menerus dari barang dan jasa secara umum (bukan satu macam barang saja dan sesaat). Dalam hal ini, kenaikan harga yang sporadis bukan dikatakan  sebagai inflasi (Iswardono, 1990).

Menurut T. Nakamaru, beberapa alasan yang dapat dikemukakan tentang pentingnya inflasi diperhatikan dan dipelajari, yaitu :

  1. Inflasi memperburuk distribusi pendapatan (yang tak seimbang).
  2. Inflasi menyebabkan berkurangnya tabungan domestik yang merupakan sumber dana investasi bagi negara-negara berkembang.
  3. Inflasi mengakibatkan terjadinya defisit neraca perdagangan serta meningkatkan besarnya utang luar negeri.
  4. Inflasi dapat menimbulkan ketidakstabilan politik.
  5. Inflasi dapat juga menyebabkan atau merangsang pertumbuhan ekonomi melalui transfer sumber-sumber dari masyarakat ke pihak investor.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dimana barang dan jasa tersebut merupakan kebutuhan pokok masyarakat, atau turunnya daya jual mata uang suatu negara.

Menurut Bank Indonesia, kestabilan inflasi merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pentingnya pengendalian inflasi didasarkan pada pertimbangan bahwa inflasi yang tinggi dan tidak stabil memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat. Dampak tersebut antara lain :

Pertama, inflasi yang tinggi akan menyebabkan pendapatan riil masyarakat akan terus turun sehingga standar hidup dari masyarakat turun dan akhirnya menjadikan semua orang, terutama orang miskin, bertambah miskin.

Kedua, inflasi yang tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian (uncertainty) bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa inflasi yang tidak stabil akan menyulitkan keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi, dan produksi, yang pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Ketiga, tingkat inflasi domestik yang lebih tinggi dibanding dengan tingkat inflasi di negara tetangga menjadikan tingkat bunga domestik riil menjadi tidak kompetitif sehingga dapat memberikan tekanan pada nilai rupiah.

Demikian sekelumit tentang topik inflasi. Bagaimana pendapat Anda?


Responses

  1. Inflasi di negeri ini menurut hemat saya adalah akibat perilaku para pejabat negara yang sebagian punya watak buruk, seenaknya sendiri, yang penting mereka bisa enak tidak terpengaruh problem ekonomi yang bagaimana pun.

    Rakyat negeri ini termasuk sangat sabar, sehingga meski inflasi tinggi, rakyat tetap tegar menjalani kehidupannya.

    Salam Luar Biasa Prima!

    • Betul sekali Pak…
      Meski telah berganti orde lama orde baru, orde reformasi, tetap saja budaya pejabat negeri ini tetap sama: korupsi!
      Selama penyakit tersebut masih tetap ada, rakyat kecil akan terus menderita dan ketimpangan ekonomi akan tetap tinggi.

      Seharusnya gaji tinggi dan fasilitas yang luar biasa membuat kinerja birokrat kita juga makin baik…

  2. seep dech pax,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: