Oleh: Agus Riyanto | 5 Maret 2010

AGAR CINLOK TIDAK BERBUAH LUKA


Cinta sesaat

CINLOK: Jangan Berakhir Duka

Apa kabar sahabat pembaca yang budiman? Semoga Anda semua sehat wal afiat, senantiasa dalam limpahan rahmat dan karunia-Nya.

Tulisan ini merupakan jawaban curhat sahabat saya yang sedang mengalami masalah cinta yang baru terjalin saat bersama dalam sebuah kegiatan, atau bisa dikatakan cinlok alias cinta lokasi. Singkat cerita, meskipun bahagia pada awalnya, namun di akhir kegiatan ternyata kebersamaan dan kemesraan yang terjalin bukannya makin erat, tapi justru sebaliknya. Dan salah satu pihak merasa perasaannya digantung…

***

Di awal kenalan udah naksir kamu

Kapan kamu akan ungkapkan padaku

Aku akan menunggu kesempatan itu

Buruan katakan padaku kalau kamu cinta aku

Resah hatiku menunggu kamu nembak aku…

Tak sabar lagi diriku sampai terbawa ke dalam mimpi…

***

Cinta lokasi, sah-sah saja jika itu terjadi pada seseorang. Akibat mengikuti kegiatan bersama, entah itu kegiatan kampus, organisasi, tugas kerja, atau shooting film misalnya, pasti kita akan bertemu dengan banyak orang yang baru kenal. Tidak bisa juga dihindari berjumpa dengan lewan jenis sehingga saling mengenal dan dekat satu sama lain. Apalagi jika kegiatan bersama ini berlangsung cukup lama, sebulan misalnya, maka interaksi yang intens di antara kedua belah pihak bisa menumbuhkan benih-benih cinta. Bahkan hal ini juga bisa membuat seseorang meninggalkan kekasih yang telah lama menjalin hubungan dengannya demi lawan jenis yang baru dijumpainya tersebut. Logikanya, barang baru biasanya lebih menarik untuk dimiliki daripada barang lama yang biasanya sudah terasa bosan. Hal ini sejalan dengan pepatah Jawa, “Witing tresno jalaran soko kulino” atau cinta itu tumbuh karena terbiasa, yakni terbiasa bertemu, terbiasa melakukan aktivitas bersama-sama, dan kebersamaan lainnya.

Jika makin hari komunikasi yang terjalin makin baik, dan setelah kegiatan atau proyek yang dikerjakan bersama, hubungan mereka makin erat tentu tidak jadi masalah. Namun jika saat bersama mereka mesra, tapi setelah kegiatan hampir selesai salah satu menjauh dan ketika berpisah mereka justru makin jauh, tentu ada pihak yang akan terluka. Misalnya, pihak pria yang mulai dan si wanita juga menerima, namun di akhir kebersamaan si pria seolah tidak sayang lagi, jelas saja sang wanita merasa terluka dan merana. Kenapa? Karena dia telah membuka hatinya dan terlanjur menyayangi sang pria, namun si dia justru menjauh tanpa ada alasan yang pasti.

“Kenapa dia yang mulai, tapi sekarang malah membiarkanku menahan rasa ini? Kenapa sikapnya berubah setelah aku sayang dia? Baru kali ini aku bertemu dengan cowok seperti itu… tidak bertanggung jawab. Sakit hati ini mas…”, demikian keluh sahabat saya.

Bagi orang yang tidak melakukan pacaran sebelum nikah tentu hal itu tidak pernah ada dalam dunianya, Namun umumnya muda-mudi di negeri ini terlibat asmara dengan lawan jenis dalam pencarian cinta mereka. Hal ini karena jalan hidup dan pemahaman agama masing-masing, tidak semua mengharamkan pacaran. Di sini saya tidak akan memperdebatkan hal tersebut, namun karena masalah sudah terlanjur terjadi maka sekarang bagaimana mencari solusi. Karena prinsip orang tentang pacaran berbeda-beda, maka lebih baik kita arahkan saja agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Cinlok yang sudah terjalin harapannya mungkin untuk seterusnya, meskipun sudah tidak dalam satu kegiatan bersama lagi. Setelah berpisah ke tempat masing-masing, tentu hubungan ingin tetap terjaga. Jika yang terjadi adalah seperti dikisahkan di atas, maka tips berikut ini semoga bisa dijadikan solusi. Bagi Anda yang sedang mengalaminya, semoga bermanfat…

Renungkan apa itu benar-benar rasa “cinta”

Sebelum terjadi cinlok, pasti terjadi pedekate (pendekatan) terlebih dahulu. Entah si pria atau wanita yang lebih dulu. Biasanya yang naksir duluan memberikan sinyal. Kalau di kepalanya dipasang antena cinta, pasti akan bunyi: toeng…toeng…toeng…toeng! Dan pupil matanya yang hitam akan berubah warna menjadi merah jambu, he..he..he.

Jika ada si dia kemudian menyatakan sayang, bukannya cinta, kemudian Anda pun bilang hal yang sama maka sekarang renungkanlah. Apakah benar rasa yang ada di hatimu itu perasaan “cinta”? Ataukah hanya rasa kesepian sehingga saat ada lawan jenis yang sayang kepada Anda, hal itu bagai bintang jatuh? Mungkin saja perasaan itu hanya emosi sesaat akibat komunikasi yang intens dengan si dia. Masalahnya, si dia kini telah menjauh. Tentu Anda harus mempertimbangkan perasaan itu, apakah cinta sejati ataukah hanya pelampiasan emosi sesaat saja.

Mintalah kepastian

Jika si dia telah berani bilang sayang, namun kemudian sikapnya berubah dan malah menjauh maka tanyakan padanya apa sebabnya. Mungkin dia salah paham ketika melihat Anda dekat dengan cowok lain, atau ada hal lain yang merubah suasana hatinya. Mintalah kepastian agar Anda tahu isi hati si dia yang sebenarnya. Jika tidak berani secara langsung, bisa minta bantuan orang ketiga. Jika Anda sudah tahu perasaan si dia, itu akan membuat lega—apa pun jawabannya.

Jujurlah pada diri sendiri

Rasa sakit karena cinta kita tidak mendapat respon yang kita harapkan, apalagi si dia pernah dekat dan menyatakan sayang mungkin akan membuat sedih. Namun coba jujurlah pada diri sendiri, apakah Anda benar-benar cinta pada si dia yang notabene baru dikenal dalam hitungan hari atau minggu, karena cinlok lagi. Semudah itukah Anda jatuh cinta pada orang yang baru dikenal, meski pernah dekat, namun sudah cukupkah Anda mengenal si dia luar dalam?

Sebelum Anda bertemu si dia, sangat mungkin sudah ada seseorang di hati Anda. Apakah secepat itu Anda akan membuang cinta yang mungkin sudah lama bersemayam karena datangnya cowok yang baru Anda kenal tersebut? Untuk itu, jujurlah pada diri sendiri mana yang lebih memberatkan hatimu. Apalagi si dia telah menjauh seiring berakhirnya kegiatan/pekerjaan yang Anda lakukan bersama.

Sandarkan cintamu pada Sang Pemilik Cinta

Mencintai dan menyayangi sesama makhluk memang wajar dan merupakan perbuatan terpuji. Namun jika cinta itu mengharap balasan yang sama, saat tidak terbalas akan menimbulkan luka di salah satu pihak. Itulah karakteristik cinta kita pada umumnya, cinta yang bersyarat dan banyak faktor yang mempengaruhi intensitas dan kedalamannya.

Untuk itu, agar cinta Anda tidak berpeluang menimbulkan luka dan kesedihan maka sandarkanlah cintamu pada Sang Pemilik Cinta. Dia-lah Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Cinta-Nya tidak bersyarat dan tidak bertepi, akan tetap abadi walau langit runtuh dan dunia hancur berkeping-keping. Karena kasih dan sayang-Nya, kita yang banyak dosa ini masih diberi napas dan kesempatan  untuk bertaubat. Jika kita bisa menyandarkan cinta hanya kepada-Nya maka tidak ada faktor eksternal yang akan mengganggu suasana hati kita, karena cinta kita kepada sesama adalah refleksi cinta kita kepada Sang Pemilik yang menguasai hati hamba-hamba-Nya. Ketika kita disakiti dan diabaikan orang lain, kita tetap bahagia karena kebahagiaan itu datangnya dari cinta yang hakiki.

Dan saya juga harus bersyukur karena tidak ditakdirkan syuting bareng Sandra Dewi sehingga tidak harus mengalami cinlok seperti sahabat saya tersebut.

Tidak cinlok

Sandra Dewi

Meskipun demikian saya sangat prihatin karena saat syuting film “Hantu Pocong Datang Bulan”, saya tidak bisa menghindar dari cinlok. Bukan sebuah anugerah tentunya, karena yang jatuh cinta pada saya ternyata pocongnya, ha..ha..ha.. (khusus yang ini jangan dipercaya, hanya ilusi belaka, hehehe…)

Tersenyumlah

Tersenyumlah, dengan senyuman manis

Demikianlah, semoga uraian di atas bermanfaat. Salam cinta dari hati!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: