Oleh: Agus Riyanto | 11 Juli 2009

BERSAMA MEMBANGUN INDONESIA


Di dunia ini, siapa sih orangnya yang tidak ingin sukses. Semua orang, entah itu di kota maupun di desa, berpendidikan ataupun tidak berpendidikan, besar – kecil, tua – muda, pasti ingin sukses. Meskipun definisi sukses bagi tiap orang berbeda-beda, bagi saya, sukses sejati adalah sukses yang dimulai dari hati dan pikiran; sukses tidak hanya berpatokan pada materi saja, tapi sukses yang holistik, sehingga ketika diberi amanah—baik berupa harta, ilmu, profesi, pangkat, maupun jabatan—semua itu bisa dipergunakan untuk kemaslahatan/kebaikan bersama, untuk membangun negeri tercinta ini.

Kita mungkin masih merasa prihatin dengan keadaan bangsa dan negara kita saat ini. Kita mungkin masih hanya bisa menyaksikan, merasakan, kemudian mengeluh. Kita sebenarnya mengharapkan perubahan dan perbaikan keadaan terjadi, tapi hal yang kita lakukan dari dulu sampai sekarang tetap sama. Kita tidak melakukan pendekatan dan hal yang berbeda, yang memungkinkan hasil berbeda pula.

***

Dulu, saat saya masih kecil, uang Rp 100 sangat besar nilainya bagi saya. Kalau untuk membeli jajan/makanan, bisa kenyang seharian. Tapi sekarang, walaupun uang itu tergeletak di tepi jalan, anak kecil jaman sekarang akan malu memungutnya. Waktu saya hidup di Brunei, uang 100 (Ringgit Brunei) bisa untuk makan sebulan. Apalagi kalau uang 100 (dolar Amerika)… Bila inflasi Rupiah berjalan terus dengan begitu cepatnya seperti sekarang ini, akan seperti apa nilainya di masa anak cucu generasi kita nanti?

Belum lagi masalah pengangguran yang mengakibatkan berbondong-bondongnya warga negara kita mengadu nasib mengais rejeki di negeri orang. Kalau profesinya layak dan mengharumkan nama bangsa, mungkin tak masalah. Tapi mayoritas dari mereka menjual tenaga menjadi pembantu rumah tangga dan pekerjaan kelas bawah lainnya. Saya tidak pernah meremehkan jenis profesi ini. Yang membuat saya sedih, sering sekali kita melihat dan mendengar berita di berbagai media cetak dan televisi, mereka ada yang disiksa. Ada yang tidak tahan dan melarikan diri dari apartemen lantai 15 dengan kain yang disambung-sambung, namun baru sampai lantai 12, talinya sudah habis. Dia menjadi berita nasional, bahkan internasional. Dia adalah salah satu warga negara kita, yang dulu katanya “gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo” dan terkenal dengan kekayaan dan keindahan alamnya. Sebagai sebuah bangsa, kita seharusnya malu melihat semua itu. Maksud hati pergi merantau untuk memperbaiki ekonomi keluarga, namun malang, pulang-pulang badan kurus kering dan penuh luka, bahkan lebih malang lagi ada yang pulang dalam keadaan badan terbujur kaku terbungkus kain kafan. Apakah sudah begitu miskinnya negeri ini untuk sekedar memberi kehidupan bagi warga/penduduknya???

Sebagai pemuda, saya juga prihatin dengan kenakalan remaja jaman ini. Pergaulan bebas dan narkotika yang merajalela. Sungguh mengerikan kerusakan yang sudah terjadi. Kita harus bersyukur masih dilindungi Yang Maha Kuasa dari bencana yang satu ini, dan kita juga harus percaya masih sangat banyak kawan yang sependapat dan mau peduli dengan keadaan ini.

Di bidang Sumber Daya Alam, hutan kita juga sudah rusak semakin parah oleh orang-orang kita sendiri dan banjir melanda tiap tahun di mana-mana. Di Porong – Sidoarjo, lumpur Lapindo telah menimbulkan kerusakan lingkungan yang dahsyat. Dalam kurun waktu beberapa tahun yang lalu, negeri kita juga diguncang berbagai bencana alam; dari Tsunami di Aceh, Nias, dan pantai selatan pulau Jawa, gempa di Yogyakarta dan beberapa tempat lain, serta kecelakaan transportasi, baik darat, laut maupun udara.

Apakah bumi kita sudah terlalu tua? Mungkin. Atau apakah manusia sudah terlalu berlebihan dalam membuat kerusakan di atas bumi ini? Mungkin juga. Atau apakah—seperti syair lagu Ebit G. Ade—kita terlalu bangga dengan dosa-dosa??

Renungkanlah! Korupsi masih terjadi di mana-mana, bahkan di lembaga-lembaga wakil rakyat yang konon katanya “terhormat”. Kehidupan materialistis, konsumtif, hedonis dan individual semakin membudaya. Tontonan dan sinetron-sinetron di televisi yang umumnya tidak mendidik ditelan mentah-mentah oleh generasi muda, dan lain sebagainya.

Melihat semua itu, apakah kita akan pasrah dan diam saja? Tentu tidak! Masih banyak yang peduli dan siap sedia berjuang memperbaiki dan membangun kembali negeri ini. Hari esok adalah hari yang penuh harapan. Masa depan adalah masa yang menjanjikan. Bangsa Indonesia akan bangkit menjadi bangsa yang dahsyat dan luar biasa kalau kita bahu membahu membangun negeri ini bersama-sama. Kalau bukan kita, siapa lagi?!

Di mulai dari diri sendiri, mari kita sama-sama belajar dan berproses menjadi manusia yang bermanfaat. Saling membantu dan saling mengingatkan, berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan dan ketakwaan dengan penuh kesadaran dan kesabaran. Percayalah, setiap diri kita akan memberi warna pada peradaban negeri ini.

Semoga masing-masing dari kita bisa membawa sedikit perubahan, memberikan sedikit pencerahan, dan menularkan sedikit semangat kepada sesama. Kita semua pasti sangat merindukan bangsa ini bangkit menjadi bangsa yang berjaya dan berakhlak mulia.

Semoga siapa pun akhirnya Presiden dan Wakil Presiden yang terpilih secara demokratis dari Pilpres tanggal 8 Juli 2009 yang lalu bisa membawa perubahan yang lebih baik terhadap masa depan negeri ini. Lebih dari itu, kita pasti ingin bangsa kita menjadi bangsa yang bermartabat dan mandiri. Jangan pertaruhkan nasib dan ekonomi bangsa kita kepada lembaga keuangan internasional dan bangsa lain.

Mari bersama membangun Indonesia!


Responses

  1. mudah-mudahan saya bisa merubah bangsa Indonesia menjadi lebih baik lagi dan lagi di masa depan. Amien

  2. Just Info : Apa Ini Yang Disebut Kemerdekaan ?
    Selengkapnya hanya di http://rohayadi.wordpress.com🙂

  3. Sejauh langkah meninggalkan jejak, sejauh itu pula lah perjalanan negeri ini. Entah itu jejak yg menyisakan harapan atau yg membuat luka, namun yg pasti negeri haus akan tindakan yg nyata untuk merubah peradabannya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: