Oleh: Agus Riyanto | 28 Maret 2009

MENULIS, SIAPA TAKUT?


Artikel ini saya tulis untuk menjawab pertanyaan seorang sahabat pembaca dari Bogor yang bercita-cita menjadi penulis buku, tetapi masih mengalami kesulitan dan merasa belum pantas menulis buku.

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas sharingnya. Bukan berarti saya lebih pandai dari anda, namun mari kita belajar bersama karena pada hakikatnya kita sama-sama menjadi pembelajar dalam kehidupan ini. Pembelajar sejati tak ‘kan pernah berhenti belajar selama hayat masih dikandung badan… Keep learning!

***

Sahabatku, sebetulnya menulis bukanlah hal yang sulit, namun juga tidaklah mudah. Menulis membutuhkan tekad, kerendahan hati untuk terus belajar dan suasana yang hati yang kondusif. Tentang kiat-kiat menulis sudah pernah saya bahas. Silahkan anda buka halaman “Tips”, di situ saya mengulas tips menulis yang efektif agar hasilnya lebih maksimal, baik dalam menulis artikel maupun buku. Semoga uraian tersebut  bisa memberikan manfaat dan inspirasi kepada anda yang membutuhkan.

Sedangkan perasaan “belum pantas” menulis buku, saya harap itu anda singkirkan, dan gantilah segera dengan afirmasi “saya harus bisa menulis buku”. Dalam hal ini kita bisa belajar dari para penulis ternama yang bisa menembus keterbatasan dirinya. Misalnya Eni Kusuma; beliau menulis buku ketika masih berprofesi sebagai pembantu rumah tangga di Hong Kong. Banyak juga penulis ternama yang menulis karya terbaik mereka ketika berada dalam penjara atau keadaan lain yang tidaklah nyaman. Atau jika anda merasa masih terlalu muda untuk menulis buku, coba lihatlah dua sahabat saya, Rusdin S. Rauf dan Nistain Odop. Mereka mulai menulis buku ketika masih sangat muda, hingga sekarang buku-bukunya terus bermunculan. Mereka sangat produktif dalam menulis meskipun masih muda secara usia. Mereka sudah luar biasa prima, meskipun masih muda dan menulis sejak di bangku kuliah. Tidak ada aturan menulis itu harus menunggu tua. Lha, kalau umur kita ternyata pendek bagaimana? Tidak juga menjadi penulis itu harus berpendidikan tinggi, S1, S2 atau S3… Lha, kalau eSnya habis, lantas kita memilih eS krim donk, hehehe. Kan nggak lucu… So, tunggu apa lagi kalau mau menjadi penulis? Menulislah sekarang juga!!!

Banyak buku yang mengajarkan “how to” atau resep cespleng dalam hal kepenulisan. Banyak juga pelatihan di bidang ini. Anda bisa mencobanya sekali waktu. Yang penting anda memiliki kemauan dan passion yang kuat untuk menulis. Dan kunci utamanya adalah mulailah menulis. Kapan? Kapan lagi kalau tidak sekarang juga! Siapa tahu besok kita sudah tidak ada di dunia ini lagi… Bukankah akan sangat rugi jika kita menunda-nunda terus?

Untuk menambah wawasan kita bersama, berikut ini saya kutipkan sharing dan tips dalam menulis dari Pak Eko Jalu Santosountuk saya beberapa waktu silam, sebagai mana berikut ini :

1. Menulis itu hasilnya tulisan yang sifatnya seperti benda mati. Ibarat bikin patung, jadi patung mati.

Nah, inilah bedanya…. dia tidak melihat sebuah tulisan itu hidup. Coba anda dengarkan lagunya Rossa yang judulnya “Cinta”, karangan lama Titik Puspa. Anda mendengarnya akan menangis tersedu-sedu, seperti disayat sembilu, jantung anda akan berdegup lebih kencang, air mata anda membasahi pipi, dan anda akan terenyuh, betapa jeritan anak manusia akan arti cinta.

Kok bisa? Nah, menyanyi itu sama dengan menulis. Kalau anda menulis dengan format resmi model “Maju Tak Gentar”, tentu berbeda dengan gaya Kelly Clarkson menyanyi Because of You. Menulis itu mengkomunikasikan makna isi hati anda kepada pembaca. Seperti melihat lukisan, ada yang menangis, ada yang terenyuh, ada yang EGP, capek dech…. karena dia buta seni lukis.

Lalu bagaimana meniupkan kehidupan kepada tulisan? Berikan isi hati anda yang terdalam. Kalau menulis jangan…. “Stadion penuh berisi banyak pendaftar Trans Corp, tercatat ada 65.000 pendaftar yang menghadiri stadion”, itu model Maju Tak Gentar. Semua orang disuruh menyanyi selalu lagu “Maju Tak Gentar”, kalau tidak “Halo-halo Bandung”.

Cobalah menulis…. “Stadion yang panas terik, sungguh menggosongkan semangat para pencari kerja, dengan peluh bercucuran, membasahi seluruh jiwanya, karena sudah lelah menanti harapan tak kunjung datang, dan Trans Corp datang dengan heboh dengan gegap gempita menyongsong duka para pencari kerja dengan harapan… Nyatakah harapan itu, atau hanya secercah cahaya di tengah kegelapan tak pasti. Para pelamar tergopoh-gopoh datang memenuhi stadion tempat harapan para pencari kerja hanya mencari sesuap nasi, di tengah kegalauan hatinya yang sudah pedih, pilu, merana mengharapkan masa depan tak pasti.”

Anda sudah mengambil tissue?

2. Tulisan itu tergantung dari isinya.

Tidak. tulisan itu tergantung delivery-nya. Ibarat makanan bergizi, penuh karbohidrat, protein, nutrisinya bagus, tapi disajikan jelek, warnanya tidak membangkitkan selera, maka mau dimakan juga terasa seperti bubur promina.

3. Tulisan tergantung ide, tergantung cara memulainya. Seperti anda mau berenang, mau langsung gaya dada, gaya katak, gaya bebas, malah terlalu banyak dipikir jadinya gaya batu.

Menulis itu menyambung hati anda ke telunjuk dan jari tengah anda (bagi yang mengetik dengan 11 jari). Bagaimana cara menyambungnya…? Harus dicoba. Setrumlah hati anda, bagaimana hasilnya? Jantung kita itu kadang dimonitor dengan mesin EEG; keluarnya tut, tut, tut… kalau tuuuuuuut… anda mati.

Tulisan juga begitu, kalau tut, tut, tut bernyawa.  Kalau tuuuuuuut… capek dech, orang tidak membaca.

4. Tulisan itu tergantung kemampuan bahasa anda.

Coba anda baca tulisan berikut ini…

“Rumah Kaiu” kalau anda membacanya tanpa perhatian, terbaca… “hcvd uil3byobv”, tidak ada artinya bukan? Kalau anda memberi perhatian, dan tulisan itu  mengalir, pasti terbaca… “RUMAH KAYU”, bukan? Jangan takut dengan tata bahasa, asal jangan bahasa sms saja.

5. Menulis tergantung dari berapa banyak buku-buku yang anda baca.

Bukan begitu, itu namanya mengetik ulang. Kalau menulis anda cukup memiliki satu buku; Buku Hati… Anda tinggal membaca isi hati anda dan membantu menuliskan saja. Kadang anda akan menulis tanpa sadar, tiba-tiba menjadi sebuah tulisan bermakna.

***

Demikian sahabat, jawaban yang bisa saya kemukakan. Saya rasa tips dari Pak Eko Jalu Santoso juga sudah lengkap. Semoga tulisan ini bisa membangkitkan semangat bagi anda (dan siapa saja) yang punya goal untuk menulis buku. Perlu diketahui, menulis juga seperti menabung… menulislah sedikit demi sedikit, artikel demi artikel, maka lama-lama tersusunlah buku anda yang baru. Tinggal ambil tema atau topik yang anda kuasai, cari beberapa referensi, dan sekali lagi: mulailah sekarang juga!

Selamat berkarya, semoga bermanfaat!

Iklan

Responses

  1. oh ya aku juga kemarin menjawab pertanyaan dari sahabat tentang bagaimana menulis cerpen. Coba saja dilihat di
    http://arifismanto.wordpress.com/2008/12/06/cara-menulis-cerpen/

  2. Kalau saya menulisnya tergantung “mood” di hati.
    Dan menulisnya seingatnya dan sebisanya aja.
    Saya masih perlu belajar terus bagaimana menulis yang baik itu.

    Nice post, Bro… 🙂

    Salam Sukses Penuh Berkah dari Surabaya,

    Wuryanano 🙂
    Motivational Blog – Support Your Success
    Entrepreneur Campus – Support Your Future

  3. sepertinya saya harus lebih banyak belajar untuk menjadi seorang penulis sejati, tidak sekedar Copy-Paste dari artikel yang saya dapat dari email, hiks2…

    Setahap demi setahap semoga saya bisa benar-benar menjadi seorang penulis seperti kang AGus yang telah menulis sebuah buku Motivasi ” Born to be a Champion “, tetap semangat. ! : )

  4. wah karya tulis yang bagus…sekedar kunjungan singkat setelah lama berkelana di rimba maya…untuk mempererat tali silahturahmi dan saya juga menunggu kunjungan balik ke blog puisi dan sajak saya…terima kasih

  5. Alasan terlalu sibukpun tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak bisa menulis. Katanya menulis bisa meluangkan waktu hanya 30 menit saja. Wah, saya sudah coba tapi warming up-nya atau set-up time pikiran saya butuh waktu juga. Terima kasih Pak Agus, sudah memotivasi saya lagi.

  6. assalamualaikum_
    insya ALLAH, saya bisa (amin).
    doakan yah.

  7. Sebelum menulis harus belajar fisika dulu, belajar tentang frekuensi, supaya ketika menulis mampu menghasilkan tulisan yang mampu menyamakan frekuensi pembacanya sehingga timbul resonansi, pembaca larut dalam cerita yang merupakan imaginasi pengarangnya.

    Saya mampu mempelajari ilmunya, namun masih saja kesulitan. Kebetulan saya seorang guru fisika jadi selalu pengaplikasikan kehidupan sesuai dengan ilmu yang saya pahami, namun menuliskannya masih jauh panggang dari api atau kebaliknya masih jauh api dari panggang.

    Salam kenal. Dan terima kasih motivasinya.

  8. Begitu sukarkah menghasilkan buku, sama ada buku fiksyen, buku ilmiah atau buku bukan fiksyen? Buku individu yang hendak menjadi penulis tetapi ramai yang tidak berjaya, apatah lagi sebagai penulis yang dapat memberikan sumbangan yang bermakna di dalam dunia penulisan. Malah bukan menjadi rahsia lagi, ada yang masih lagi bermain dengan angan-angan. Mengapa anda hendak menadi penulis buku? Menulis buku dapat dilakukan sepenuh masa sebagai profesional dan dapat juga sebagai kerjaya sampingan.

  9. Wah, terima kasih sahabat semua.;-)

    Sebuah kehormatan Dr. Jeniri Amir dari negeri jiran, Malaysia, berkenan mampir dan memberikan apresiasi….

    Apa yang dikatakan Mr. Jeniri Amir memang benar sekali…
    So, menulislah sekarang juga!

  10. salam kenal aja deh 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: