Oleh: Agus Riyanto | 12 Maret 2009

BULAN SABIT: JADILAH PURNAMA!!!




Pada artikel yang lalu saya menulis tentang “Bulan: Sabit untuk Purnama atau Purnama untuk Sabit?” yang isinya belumlah mencerminkan judul artikel tersebut dan menimbulkan pertanyaan bagi sahabat yang membacanya. Bahkan senyum saya sempat tersungging ketika membaca komentar Pak Wuryanano–seorang pengusaha, motivator dan life inspirator yang luar biasa prima dan saya kagumi. Pasalnya beliau menghubungkan kata “bulan” tersebut dengan wanita; tentang keadaan wanita bila masih didatangi bulan (atau kedatangan bulan), atau harapan wanita tentang bulan agar selalu datang padanya, dan seterusnya… He..he..he.. saya juga jadi teringat teman saya yang baru menikah, kemudian mereka berbulan madu. Atau ketika teman saya yang lain kelelahan dalam aktivitasnya, maka kemudian dia minum STMJ (Susu, Telor, Madu, Jahe). Hmm… yang ini malah tidak ada hubungannya sama sekali. Hanya ada kata “madu”-nya, dan sebelumnya ada kata “bulan madu”. Bicara tentang bulan, saya juga jadi ingat pernah mimpi berjalan malam hari diiringi bulan, bulan purnama, anehnya bulannya ada empat, tapi itu sekedar mimpi… bunga tidur di malam hari.

Terlepas dari semua persepsi di atas tentang bulan, mari sekarang kita ulas kata “bulan” dari sisi yang lain, sebagaimana maksud dari tulisan saya sebelumnya, yakni pesan dari seorang sahabat–sang penulis novel “Kepribadian Alina”, kepada saya di suatu malam. Semoga pesan ini bisa bermanfaat pula untuk sahabat-sahabat yang lain, yang saat ini masih dalam proses pencarian jati diri atau proses perjuangan menjadi manusia dewasa yang lebih baik dan bijaksana.

Sahabat-sahabatku, terutama yang baru terjun ke dunia nyata, meninggalkan dunia pendidikan formal dan bersaing di dunia kerja atau wirausaha, mencoba menapaki kehidupan dengan dua kaki kita atau terbang dengan dua sayap kita yang masih lemah; karena tidak mungkin kita bergantung terus-menerus pada orangtua. Kita pasti akan merasakan betapa di luar sana terkadang tidak seindah atau semudah yang dibayangkan dahulu, ketika kita masih bisa bebas melambungkan mimpi-mimpi kita. Sebagai contoh, beberapa teman yang saya kenal, yang telah meraih gelar kesarjanaannya di bidang masing-masing, masih harus berjuang keras mendapatkan pekerjaan, meskipun itu tidak sesuai keahlian yang mereka pelajari di bangku sekolah/kuliah. Terkadang kehidupan juga terasa keras atau bahkan mungkin kejam bagi kita ketika harus melangkah dari titik nol dan menaiki tangga dengan kedua tangan dan kaki kita sendiri dari anak tangga paling bawah karena orangtua kita hanya bisa membantu dengan doa dan restu yang tulus.

Saya pun sering melihat perjuangan hidup rakyat Indonesia yang sesungguhnya naik-turun bus-bus antar kota/propinsi atau di kereta api kelas ekonomi yang mana di situ bisa dilihat wajah rakyat jelata negeri kita berjuang mencari uang untuk bertahan hidup dengan cara apa pun yang penting halal dan benar-benar kerja keras yang butuh mental baja, bahkan banyak di antara mereka yang cacat secara fisik berjuang di situ seorang diri. Bila seorang koruptor melihat realita ini secara langsung dengan hati nuraninya, saya yakin ia akan mengembalikan uang negara yang mereka curi.

Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri jutaan generasi muda kita saat ini masih belum bisa menyalurkan produktivitasnya alias masih menganggur. Jika orang tuanya kaya raya, tentu tidak masalah. Namun jika mereka berjuang untuk makan saja susah, bukankah generasi muda itu harus berani berkorban demi masa depan dirinya, juga keluarganya. Belum lagi kita dihadapkan dengan persaingan yang kian ketat, di mana dunia kerja maupun wirausaha di era informasi seperti sekarang ini lebih menuntut manusia yang canggih dalam arti memiliki keahlian sesuai kebutuhan jaman, maka banyak dari kita—anak-anak muda yang merasa rendah diri, terbentur keterbatasan pendidikan dan keahlian, keturunan (tidak ada koneksi), kesehatan, modal untuk usaha, atau lainnya. Terlebih lagi bagi mereka yang memiliki cacat secara fisik… bagaimana akan menatap masa depan???

Untuk itu, kita harus memiliki tekad yang kuat dan keberanian dalam melangkah. Dan juga motivasi dari dalam diri, bahwa kita—generasi muda Indonesia—harus bisa menembus segala keterbatasan dan pantang menyerah dalam menghadapi segala tantangan atau hambatan. Jika kita di jalan yang benar, kenapa harus takut? Meskipun kita saat ini nampak tiada arti, tidak dianggap dan sering orang lain (pada umumnya) memandang dengan sebelah mata. “Kamu tahu apa…? Belum makan asam garam…”, dan seterusnya. Pendek kata, kita seolah masih dianggap anak kecil yang akan tetap kecil.

Maka kali ini saya akan mengetengahkan pesan dari Mba Suminaring Prasojo, yang selain menulis novel, juga biasa menulis skenario, baik untuk film maupun iklan. Berikut ini pesan dari beliau:

Ingat tentang bulan sabit…? Meski kecil, dia masih punya kesempatan untuk tumbuh jadi purnama, terangi sekitar dengan cahaya putih keperakan… Keep fight!”.

Sahabat-sahabatku, indah bukan…? Bila kita saat ini tidak atau lebih tepatnya belum memiliki arti apa-apa, diibaratkan bagai bulan sabit. Bila kita lihat bulan sabit, kita tahu bahwa bentuknya tidak sempurna, terlihat hanya secuil dan tidak bisa memancarkan cahaya hingga bisa menerangi kegelapan malam. Kita seakan tiada makna. Namun ingat bahwa itu semua tidaklah selamanya, jika kita yakin bahwa kita akan terus bertumbuh dan suatu saat nanti bisa menjadi purnama. Setelah menjadi purnamalah kita bisa memberikan cahaya (tepatnya memantulkan cahaya matahari) di tengah kegelapan malam sehingga bisa menerangi mereka yang sedang berada di pekatnya gulita. “Menerangi” di sini bisa diartikan secara luas. Bisa untuk diri sendiri sehinga tidak terjerembab ke lembah dosa, bisa untuk keluarga sehingga menjadi keluarga sakinah, mawaddah warahmah; atau untuk masyarakat, bangsa dan negara—tergantung posisi dan kemampuan kita. Yang jelas, jangan sepelekan potensi diri kita untuk memberikan sumbangsih untuk sebuah kepentingan yang lebih mulia; untuk kejayaan bangsa misalnya, dan lain-lain—apa pun profesi kita saat ini.

Demikianlah sahabat-sahabat muda, kita harus berani berbuat hal positif, sekecil apa pun yang kita bisa. Saya bicara dari segi orang yang fisiknya secara umum sempurna. Coba bayangkan jika kita tidak memiliki tangan atau kaki, buta, tuli, bisu, dan sebagainya; tentu semua itu butuh mental dan kegigihan yang lebih dahsyat lagi agar bisa bangkit dari segala kekurangan dan keterbatasan untuk bisa menjadi seorang manusia yang bermanfaat.

Karena sedikit penulis wanita yang saya kenal, selain Ibu Hartati Nurwijaya (bermukim di Megara – Yunani) dan Mba Eni Kusuma (Banyuwangi), maka untuk lebih memantapkan artikel ini, semalam kembali saya menghubungi Mba Suminaring Prasojo untuk meminta pesannya kepada kaum muda seperti saya dan anda (yang masih muda atau walau tua namun berjiwa muda). Dan tidak sia-sia saya meminta nasehat beliau, karena kemudian beliau berpesan kepada kita sebagai berikut:

Jangan takut menjadi kecil dan tak dipandang siapa pun…, tapi tetaplah melangkah! Sebab segalanya dimulai dari hal yang kecil…

Terima kasih Mba… atas nasehatnya yang luar biasa. Saya memang tidak memiliki kakak secara biologis, namun saya harus bersyukur banyak sahabat penulis yang saya anggap seperti kakak dan juga ayah angkat, sehingga di  saat-saat beban di pundak ini terasa berat, masih ada tempat untuk meminta nasehat.

Saya pun merasa terharu sendiri ketika adik bungsu saya belum lama lulus sekolah kemudian diterima bekerja di sebuah perusahan di dekat ibu kota. Dia dengan keinginan dan kesadarannya sendiri meminta satu eksemplar buku saya, “Born To Be A Champion” untuk dibawa serta pergi merantau meninggalkan kampung halaman demi masa depan. Ada kata yang tak terucap di hati, “Titip adik saya ya Allah… jangan sampai dia merasakan penderitaan seperti yang pernah kakaknya rasakan…”. Sayalah yang selalu mengantarkannya sampai di dalam bus dengan pesan terakhir, “Jaga shalatmu ya dik…!” karena kami muslim, dan ingin menjadi seorang muslim yang taat.

Praragraf di atas hanya sedikit contoh memposisikan diri menjadi “purnama”, meskipun kita bukanlah bulan. Kadang bagi adik-adik kita yang baru keluar dari kawah candradimuka bernama “sekolah” atau “kampus” butuh sedikit sandaran atau sentuhan motivasi dari kita, karena mereka belum tahu belantara seperti apa yang akan mereka masuki, dan kita pun tahu atau pernah merasakan bahwa dunia ini terkadang tidak seindah impian kita di saat sekolah dulu. Dan yang paling menakutkan adalah ketika kita melakukan langkah pertama.

Bagi sahabat-sahabat yang bisa memberikan lebih, pasti akan lebih indah. Namun jika kita sendiri masih dalam langkah-langkah pertama tersebut maka tidak ada salahnya saya mengulang pesan Mba Suminaring Prasojo di atas, “Jangan takut menjadi kecil dan tak dipandang siapa pun…, tapi tetaplah melangkah! Sebab segalanya dimulai dari hal yang kecil…”.

Dan sebagai penutup, mari kita renungkan kata bijak berikut ini:

Jika Anda tidak bisa menatap ke depan karena masa depan Anda suram dan gelap, dan Anda tidak bisa menoleh ke belakang karena masa lalu Anda mengecewakan dan menyakitkan, maka tengadahlah ke atas ke arah Allah…, pasti Anda akan memperoleh pertolongan-Nya.

~ Ulama

Iklan

Responses

  1. terus terang saya baru membaca secara pintas aja, tapi Artikel-artikel mas Agus R ini sudah sangat berbobot, sudah tidak perlu diragukan lagi. sangat inspiratif. selamat membaca.

    salam sukses dari hati.

  2. Terima kasih Mas Anwar.:-)

    Btw, saya masih kepikiran untuk segera menyelesaikan buku kumpulan puisi kita yang kedua…
    Informasikan ke teman-teman lain untuk segera menyelesaikan naskahnya ya, sehingga bisa segera kita seleksi naskah yang layak.

    Semangati juga yang lain yang sedang belajar berdikari!
    Sampaikan salam kangenku pada mereka, lama tidak kumpul-kumpul…

  3. Jadi terharu nih setelah baca tentang bulan sabit…. Kayaknya, saya juga musti lebih berbenah diri lagi, agar beban berat ini terasa ringan dilewati.
    Oh ya, Mas Agus, ada sedikit koreksi nih…
    Saya belum pernah nulis script untuk iklan.
    Skenario yang saya tulis baru untuk film, operet, dan pertunjukan wayang….
    Makasih, sudah berbagi semangat dengan saya. Tetap melangkah ya, sekecil apa pun langkah Mas Agus….! jangan pernah berhenti!!!

  4. Terima kasih sharing penyemangatnya Mba.:-)

    Mohon maaf juga kesalahan tulis tentang menulis skenario iklan. Semoga ke depan jadi bisa nulis script/skenario untuk iklan… Contohnya yang seperti: “Ekspresinya maannnaaa?!!!” hehehe…

    Beban berat akan terasa ringan jika kita tetap semangat, ikhlas dan senantiasa bersyukur kepada Allah SWT.

    Salam SDA!

  5. Segera berkembang menjadi BESAR, dan semakin membesar… 🙂

    Jangan terlalu lama “adem ayem” tetap jadi KECIL, meskipun nggak takut menjadi kecil.

    Jangan terlalu lama menjadi bulan sabit…cepat berubah menjadi Bulan PURNAMA yang menerangi seisi bumi…dengan cahayanya yang lembut menyejukkan.

    Ayo cepat melangkah maju secepat kilat!

    Salam Sukses Penuh Berkah dari Surabaya,

    Wuryanano 🙂
    Motivational Blog – Support Your Success
    Entrepreneur Campus – Support Your Future

  6. A sweeter smile, 🙂
    a brighter day…

    Hope everything turn out great for you today.:-)

    Matur nuwun support-nya.

  7. indah sekali bahasanya.

    “Jangan takut menjadi kecil dan tak dipandang siapa pun…, tapi tetaplah melangkah! Sebab segalanya dimulai dari hal yang kecil…”.

    saya ingat pesan aagym:
    mulai dari yang kecil
    mulai dari diri sendiri
    mulai saat ini.

    Ucapan seperti:
    Kamu tahu apa…? Belum makan asam garam…”, dan seterusnya. Pendek kata, kita seolah masih dianggap anak kecil yang akan tetap kecil.

    jawab aja:
    Kalau aku ga pernah mencoba kapan aku dapat asam garamnya??

  8. mas motivasinya pas bgt wat q,q akan berjuang trus,demi masa depan q,mas trus berkarya ditunggu lho,q dikasih tau ya

  9. lakukan apa yang bisa dengan apa yang kau punya kapanpun n dimanapun kau berada

  10. Halo bung,
    Anda semakin dahsyat dan semakin bersinar. Bulan sabitnya bertambah besar dan akan menjadi bulan purnama. Saya salut sama Anda.
    Kmrn saya sempat nginap di RS, pendarahan gigi bung.
    Artikel anda kali ini amat menyentuh.

    Salam Champion…!

  11. thank ats mtivasinya mga q kn jdi purnama

  12. Hello Bung Odop, senang Anda berkenan mampir dan memberi apresiasi.:-)
    Syukurlah Anda sudah sehat kembali…
    Saya juga kagum dengan Anda, bung. Anda makin luar biasa prima!

    Untuk Mas Adi: SUKSES untuk ujian sekolahmu, mas..
    Do your best!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: