Oleh: Agus Riyanto | 15 Januari 2009

BAHASA QALBU UNTUK PARA SYUHADA


 

Masih terbayang ketika menulis artikel ini, mayat-mayat yang berlumuran darah dibopong oleh keluarga atau orang lain yang masih tersisa, atau puluhan jenazah dijajarkan dihadapan jama’ah untuk dishalati dan didoakan, yang merupakan korban kebiadaban sebagian manusia yang congkak dan merasa berhak membunuh manusia lain, menghancurkan tempat tinggalnya dan merebut tanah miliknya dengan paksa. Di televisi, di koran, juga di internet… semua media masih menjadikannya berita utama.

Tidak sanggup saya membayangkan seperti apa perasaan mereka sesaat sebelum ajal menjemput dengan paksa, atau perasaan orang-orang tercinta di dekatnya ketika harus mengangkat potongan tubuh kerabatnya, mengumpulkan dan membungkusnya dengan kain kafan atau kain seadanya. Tak sanggup saya mencoba menggapai suasana qalbu mereka. Bagaimana hati seorang ibu yang ditinggal anaknya; anak yang ditinggal ayah, ibu atau keduanya; suami yang ditinggal istri, anak, atau keduanya; istri yang ditinggal suami, anak, atau keduanya; atau mereka yang mendapati semua anggota keluarganya telah terbujur kaku bersimbah darah di sela-sela puing-puing bangunan yang hancur diterjang bom maut milik segelintir bangsa yang kebiadabannya diakui dunia. Atau perasaan takut anak-anak yang tubuhnya menjadi sasaran mortir dan peluru tajam tentara tak berperasaan, sesaat sebelum ruhnya diangkat ke langit.

Di awal tahun yang indah bagi sebagian orang, ternyata di sudut bumi lain di ujung sana telah terjadi lagi tragedi kemanusiaan yang menghancurkan perdamaian dan rasa kemanusiaan. Darah kembali mengalir dan korban-korban jiwa tak berdosa kembali berjatuhan. Sejarah kelam terulang lagi dan menodai jiwa kemanusiaan yang adil dan beradab. Bukankah semua agama mengajarkan perdamaian, kerukunan dan kasih sayang. Mari kita tingkatkan kerukunan dan toleransi antar umat beragama di negeri kita. Dan jangan ada lagi pertumpahan darah yang seringnya merenggut korban tak berdosa. Di mana-mana yang namanya perang hanya akan menimbulkan satu hal, yakni penderitaan.

Dan melihat penderitaan mereka—saudara-saudara kita di Palestina, apakah kita pantas berhura-hura menikmati sisa umur yang ada, atau bersenang-senang karena merasa kebaikan kita sudah cukup untuk menebus dosa-dosa kita. Jika kaki kita terinjak teman sebelah, mungkin kita akan marah; atau ketika kaki kita membentur batu dan berdarah, mungkin mulut kita akan mengaduh dan mata kita juga akan meneteskan air mata. Tidak bisakah kita sedikit merenung bahwa mereka juga sama seperti kita, manusia yang punya hak untuk hidup aman dan damai, punya hak atas tanah air yang bebas dan merdeka, dan punya hak untuk menatap masa depan dengan sinar harapan yang kian terang. Jika agama kita berbeda, bukankah kita bisa merasakannya sebagai sesama umat manusia ciptaan Tuhan yang sedang menjalani kehidupan di atas planet bernama bumi.

Apa justru kita merasa senang melihat pertunjukan maut di televisi, melihat film perang nyata secara langsung, dan melihat mayat-mayat bergelimpangan?

Di manakah nurani kita yang sering berteriak bahwa kita ini manusia yang paling shaleh dan taat beragama? Yang (jika muslim) sering menangis di atas sajadah dengan tubuh tertekuk nyaris menyentuh lantai… Di mana nurani kita?

Bicara mengenai kelembutan nurani, saya jadi teringat salah seorang teman saya. Saya tidak habis pikir ketika ada orang yang sengaja menunjukkan slip gaji milik salah seorang teman saya–yang harusnya dirahasiakan, dan memang dia telah meminta untuk dirahasiakan—kepada semua orang. Wajar saja teman saya itu marah dan minta pengertian kepada orang tersebut secara baik-baik. Namun karena orang tersebut malah seolah tuli dan bisu, teman saya tersebut pun mengeluarkan taringnya. Eh, malah orang itu mengeluarkan pahlawannya dari balik pintu–bak Salahudin Al Ayubi, sang pahlawan Perang Salib yang berhasil merebut kembali Yerussalem pada tahun 1187 M. Setelah tahu maksud kurang bermutu di balik semua itu, tidak bisa dihindari bila sahabat-sahabat dekat teman saya yang tahu kasusnya sejak awal juga ikut merasa gerah. Saya tidak bisa membayangkan jika teman saya tidak bisa meredam amarah sahabat-sahabatnya. Saya tahu sahabatnya di tempat ia berkarya lebih dari 70 orang, sahabatnya di karang taruna ada puluhan orang, sahabatnya di tempat ia memperdalam agama ada belasan orang, belum lagi di kampus atau sahabat yang sering dia ajak berpacu di jalan raya. Untungnya dia paham betul bahwa musuh sejatinya bukanlah orang yang sedang mencari sensasi tersebut, tapi mereka yang telah membunuh sesama manusia tak berdosa di Jalur Gaza atau para koruptor negeri ini yang membuat rakyat sengsara.

Yang saya lebih heran lagi, orang tersebut katanya jika di forum-forum yang dikunjungi banyak orang mengaku sangat alim, sangat taat beribadah dan memiliki kelembutan hati yang luar biasa. Sudah begitu sombongkah ia sehingga di atas amal-amal mulianya itu dia bisa berbuat sedemikian rupa kepada teman saya? Mungkinkah ia merasa telah menjadi manusia yang paling sempurna sehingga merasa apa pun yang ia lakukan adalah benar? Apakah dengan menjatuhkan harga diri teman saya, ia akan menjadi lebih mulia?

Saya pun menjadi tidak yakin bahwa dia telah menemukan Tuhannya dalam perjalanan panjang hidupnya yang konon penuh derita dan air mata. Hal sepele yang dia lakukan, tapi sangat prinsip dan menunjukkan kualitas amal-amalnya. Ini jauh berbeda dengan patriotisme jihad warga Palestina di Jalur Gaza.

Atau merasa diri lebih baik ketika saya iseng menyapa teman, “Kenapa tidak segera bergegas ketika kamu mendengar adzan?”

Ternyata saya salah, karena sesungguhnya dialah orangnya yang sering adzan atau bahkan yang shalat di depan para jama’ah. Atau ketika ada teman yang mempermasalahkan kenapa saya harus menuliskan goal setting saya untuk satu tahun ke depan di atas kertas, dan menyangka itu menjadi doa-doa yang saya teriakkan. Ia ternyata tidak tahu bahwa jika doa-doa saya harus ditulis maka saya akan kelelahan, dan mungkin dia lupa bahwa doa adalah urusan seorang hamba dengan Sang Pencipta. Bukan urusan yang harus dia bahas. Menganggap cara dia berdoa itulah yang terbaik dan yang lain tidak akan didengar Tuhan karena mungkin yang berdoa hanya seorang manusia hina. Semua doa pasti sampai kepada Yang Maha Kuasa, tapi hanya Dia yang berhak mengabulkannya.

Demikianlah, tanpa kita sadari, kadang kita merasa amal kita sudah sangat banyak, ibadah kita sudah terlalu mengagumkan, sedekah kita sudah bisa menjadi contoh, kebaikan kita sudah pantas menjadi panutan, dan tutur kata kita adalah petunjuk bagi sesama. Dan kita pun telah yakin bahwa Allah SWT pasti menerima semua amal kita itu. Namun di lain sisi kita masih tertawa terbahak-bahak dengan segala sesuatu yang menyenangkan nafsu kita, sementara kita tahu masih banyak saudara-saudara kita di lain sudut bumi yang kelaparan, tidur tanpa rumah dalam udara dengan suhu di bawah nol derajat selsius dengan listrik yang telah dihancurkan musuh. Atau terlupa bahwa belum tentu semua amal yang kita bangga-banggakan itu diterima oleh Allah, Rabb Alam Semesta. Di manakah nurani kita? Di manakah empati kita? Di manakah ruh amal-amal ibadah kita (yang selama ini kita pamerkan) melihat keadaan di sekitar kita?

Mungkinkah karena begitu sempurnanya karunia yang dititipkan Allah kepada kita sehingga kita lupa akan hakikat hidup, buah dari amal shaleh dan penilaian dari Dia, Sang Penguasa Alam?

Jika ibadah kita sudah benar, tentunya kita tidak akan merasa diri paling benar, paling mulia, paling khusyu’, paling baik, dan tidak akan mencoba menabur fitnah kepada sesama manusia lain yang punya iman, atau paling tidak ikut merasakan cobaan yang sedang dihadapi saudara-saudara kita di sudut bumi yang lain.

Kita seharusnya malu kepada mereka yang menjadi syuhada di Jalur Gaza, Palestina dan kelurga yang ditinggalkannya. Meski mereka kehilangan orang-orang tercinta dan dizhalimi tiada henti, namun tiada pernah mereka meratapi kesedihannya dan mengabarkan kepada dunia betapa menderitanya mereka menjalani cobaan perang yang menimpa mereka. Justru hanya pekik takbir yang mereka teriakkan, “Allaahu akbar!!!”, meskipun tidak pernah sekali pun mereka berucap “I Love You, Allah” di hadapan sesama manusia. Mereka tetap tegar; dan anak-anak pun berdiri pantang menyerah menghadapi musuh dan berkata, “Meski kami hanya punya batu sebagai senjata, namun Allah ada di hati kami. Kami yakin batu ini akan mengalahkan jet tempur, helikopter apache, tank, dan pasukan khusus musuh yang datang menyerang!”. Iman dan ihsan mereka teruji oleh keadaan. Dan mereka tidak pernah berkata, “Sayalah orang paling bertaqwa di dunia ini”, meski mati syahid menjadi akhir perjalanan mereka dan darah mereka mengalir membasahi tanah airnya, membasa tanah di mana mereka dilahirkan dan tanah di mana jasad mereka dikuburkan. Merekalah pahlawan sejati, tidak saja bagi agama yang dia peluk, tapi juga bagi negerinya dan juga Tuhannya.

Allah tidak mengambil orang-orang yang kita cintai untuk menguji kita, tapi untuk menunjukkan siapa yang syahid dan siapa yang sia-sia, siapa yang ikhlas dan siapa yang riya’. Tiadakah kita merindukan derajat yang mulia di sisinya, di mana hanya Allah yang tahu amal-amal terindah kita? Semoga masih ada amal yang kita sembunyikan dari mengharap pujian sesama manusia.

Sahabat-sahabatku, sudah saatnya—mulai sekarang—kita memperbaiki diri, meneladani keikhlasan para syuhada, dan menggunakan bahasa qalbu dalam kehidupan kita, dalam beramal, dalam dedikasi hidup dan dalam kita berkarya. Bukan lagi hanya bahasa keyboard komputer, apalagi bahasa bibir merah bergincu yang akan luntur terkena gerimis.

Sebagai penutup, saya berharap semoga saudara-saudara kita yang menjadi syuhada di Jalur Gaza mendapat balasan yang paling sempurna dari Allah SWT dan kita yang hidup aman, damai dan merdeka di bumi Indonesia bisa lebih bersyukur dan merefleksikan perjuangan dan pengorbanan mereka dalam kehidupan kita sehari-hari–tidak hanya dalam lisan, tapi juga dalam hati.

Iklan

Responses

  1. Ketika membaca comment saya ini, bayangkanlah tepat di depan anda tiba-tiba jatuh satu ton bom yang menembus atap rumah atau kantor anda, dan belum ada satu detik kemudian bom itu meledak persis di hadapan anda…, menghancurkan semua yang ada di sekitar anda termasuk diri anda…

    Pejamkan mata anda, lalu buka kembali…
    Jika ternyata anda sekarang masih utuh dengan napas dan jantung yang berdetak, panjatkanlah syukur yang tulus sedalam-dalamnya kepada Allah SWT…

    Salam SDA!

  2. orang yang memiliki hati nurani pastinya merasakan apa yang dirasakan orang lain. Mencoba empati bagaimanakah seandainya saya yang merasakannya. Seandainya saya ditempat dia. Kilas jungkir aku di dia, dia di aku.

    dengan introspeksi diri kali jalan yang terbaik dari semua permasalahan.
    Sodara kita sedang di landa musibah. Mari kita berdoa untuk mereka.

  3. amin yaa rabbal alamin

  4. Tak kan ada yang sia-sia dalam membela kemuliaan/izzah Islam, BerJihadlah sesuai dengan kemampuan yang qta miliki.

    Allah Ta’ala berfirman:

    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا (71) وَإِنَّ مِنْكُمْ لَمَنْ لَيُبَطِّئَنَّ فَإِنْ أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَالَ قَدْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيَّ إِذْ لَمْ أَكُنْ مَعَهُمْ شَهِيدًا (72) وَلَئِنْ أَصَابَكُمْ فَضْلٌ مِنَ اللَّهِ لَيَقُولَنَّ كَأَنْ لَمْ تَكُنْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ مَوَدَّةٌ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَعَهُمْ فَأَفُوزَ فَوْزًا عَظِيمًا.

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama!. Dan Sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: “Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka. Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah Dia mengatakan seolah-oleh belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: “Wahai kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula).” (QS. An Nisa’: 71-73)

    Allah Ta’ala berfirman:

    إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآَنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

    Artinya: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.” (At Taubah:111)

    Maha benar Allah Yang tidak menyelisihi janjiNya, tapi apakah kita termasuk kaum yang bersyukur? Tidak ada yang bisa menjadikan seluruh hidupnya dari awal sampi akhir baik kecuali mujahid, seluruh waktunya dihabiskan untuk meraih pahala baik terbunuh atau menang. Demikianlah, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Anas Attoify, “Maka bersegerahlah menyambut seruan Ilahi untuk berjihad di jalanNya, jika terdapat di dalam hati rasa berat maka terbukti kita menjadi kaum munafik dan tidak menunjukan jalan bagi kaum yang fasik.”

    Wallahu a’lam

  5. Ma kasih karena sudah sudi mampir ke pondok saya.
    saya juga akan sering-sering mampir ke rumah anda
    mana tau saya butuh sesuatu disana untuk saya bawa pulang ke pondok saya
    jangan di gembok ya….!!

    semoga di tahun 20009, tragedi kemanusiaan seperti yang terjadi pada tahun 2008 tidak terjadi lagi. kita hanya bisa memikirkan yang terbaik, melakukan yang terbaik, mengharapkan yang terbaik. lebih dari itu biarkan Tuhan melakukan sisanya

  6. Baru saja saya menyapa anda dan teman-teman lainnya dalam sebuah karya saya. Tanpa bertanya terlebih dahulu, saya telah mencantumkan nama anda di dalam deretan nama-nama yang ada. Semoga anda tidak berkeberatan. Dan apabila ada kesalahan dalam penulisan nama anda mohon beritahu ke kami, maka kami akan segera memperbaikinya. Saya juga telah membaca karya anda yang terbaru. Indah dan penuh makna. Saya dapat melihat keseriusan anda dalam tulisan ini. Salam untuk anda dan selamat berjuang, tetap semangat.

  7. allahuakbar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: