Oleh: Agus Riyanto | 25 Desember 2008

LOVE STORY aka 2008: JADI BODOH KARENA CINTA


~ SEBUAH PENUTUP AKHIR TAHUN ~

Pada kesempatan yang berbahagia ini kembali saya mencoba menjawab pertanyaan dari sahabat pembaca yang berdomisili di ujung timur Pulau Jawa yang intinya mengapa kita jadi bodoh karena cinta. Biasanya dengan dalih cinta-lah, sayang-lah, toleran-lah, nobody perfect-lah, seseorang jadi menurunkan standar tentang kualitas pasangan yang kadang membuat diri tampak bodoh dan sering merugikan diri sendiri.

Hmm, mata saya jadi berputar-putar (bingung plus ngantuk…). Mungkin tulisan ini juga akan menjadi artikel terakhir saya yang membahas tentang cinta di tahun ini (tahun 2008). Dengan segala keterbatasan yang ada pada diri saya, berikut akan saya coba ulas semampunya. Dan saya rasa tulisan ini lebih cocok dibaca oleh pasukan PJI (Persatuan Jomblo Indonesia) yang masih tersisa, karena di bulan ini saja saya sudah kondangan ke sepuluh tempat yang berbeda (yang membuat saya terkena kanker alias kantong kering, sebagai imbas krisis moneter global juga kali, hehehe…), mungkin di daerah teman-teman malah lebih banyak lagi. Ini merupakan indikasi bahwa pasukan PJI semakin berkurang.

***

Cinta… lagi-lagi cinta… Baru kemarin saya berenang di samudera cinta tak bersyarat, sekarang saya harus menyelam lagi untuk mencoba membuka tabir, kenapa cinta—untuk sebagian orang—dirasa sebagai sesuatu yang membuat dirinya menjadi merasa “bodoh”.

Dari pertanyaan di atas, saya berasumsi bahwa sahabat saya tersebut adalah seorang yang terpelajar dan menginginkan pasangan dengan standar atau kriteria tertentu. Meskipun melalui komunikasi yang cukup lama, saya tahu background pendidikan dan pekerjaannya, namun saya sendiri tidak tahu kriteria pasangan yang dia idam-idamkan dalam kehidupan rumah tangganya nanti itu seperti apa. Tapi yang jelas, pertanyaan di atas membuat saya berpikir; apakah pada kenyataannya banyak para pencari cinta yang telah melepas idealismenya karena pasangan (jodoh) dengan standar yang diidam-idamkan belum juga datang, sementara umur telah mengejar… Tapi kenapa semua itu membuat yang bersangkutan merasa diri “bodoh” dan dirugikan?

Saya menilai wajar bila kita memiliki standar kualitas pasangan atau kriteria jodoh idaman yang kita harapkan. Yang tidak wajar adalah bila diri kita tidak berusaha memiliki kualitas yang sama seperti kualitas pasangan yang kita idam-idamkan.

Dan seperti biasa, kali ini pun saya harus mengembalikan urusan ini kepada agama. Di sini karena penulis adalah seorang muslim maka saya akan mengemukakan sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw bersabda, “Dinikahi perempuan karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah karena agamanya niscaya akan selamatlah engkau.”.

Karena saya mengemukakan sebuah hadits, bukan berarti saya adalah seorang yang ahli ilmu agama. Saya hanya seorang yang sedang belajar agama dan ingin mengamalkannya, tidak lebih. Untuk itu, semoga apa yang saya tulis ini bisa dianggap sekedar sharing antar sesama pencari cinta.

Saya berharap anda sudah memahami apa yang dimaksud dengan “jadi bodoh karena cinta”. Saya paham apa yang dimaksud, cuma sedikit kesulitan mengungkapkan dengan kata-kata. Semoga di bawah nanti bisa ada contoh yang bisa diungkapkan.

Selanjutnya, agar kita tidak jadi bodoh karena cinta, mungkin kiat-kiat berikut bisa dipraktekkan.

Jangan Mengejar yang Sempurna

Kebanyakan dari kita pasti menginginkan segala sesuatu yang sempurna, termasuk juga dalam hal pasangan hidup. Kita pasti menginginkan yang terbaik atau best of the best. Jika kita perempuan, pasti menginginkan jodoh kita adalah seorang laki-laki yang mempunyai semua kriteria berikut ini:

1. Kaya

2. Tampan

3. Cerdas

4. Keturunan orang terpandang

5. Taat beragama atau alim

6. Setia

7. Dan sifat-sifat malaikat lainnya (sifat malaikat = sifat yang mendekati kesempurnaan)

Begitu juga bagi seorang laki-laki, pasti menginginkan calon istri yang memiliki ciri-ciri di atas. Bedanya cuma tampan diganti cantik. Ini boleh-boleh saja. Tapi pertanyaannya: apa ada orang yang memiliki semua ciri di atas? Kalau pun ada, apa dia mau menjadi pasangan hidup kita?

Bagi yang menginginkan pasangan yang kaya, silahkan… Yang penting jika ada orang kaya yang mau dengan anda. Bagi yang menginginkan pasangan yang cantik atau tampan, juga terserah… kalau ada yang mau juga, dan seterusnya. Atau anugerah jika kita bertemu jodoh yang memiliki kesemua ciri di atas.

Namun masalahnya, bagi anda yang ternyata belum bertemu pangeran atau puteri idaman, kenapa harus merasa diri bodoh?? Dibawa santai saja… Keep smile, gitu loh

Untuk itu, jangan terlalu mematok, “Saya harus dapat jodoh yang begini… begini… dan begini…”. Kita lihat diri sendiri saja dulu, apa kualitas diri kita sudah seperti diri ideal pasangan yang ingin kita dapatkan, ataukah belum. Sehingga daripada merasa diri bodoh, lebih baik yuuuk… kita tingkatkan kualitas diri kita secara menyeluruh, baik mental maupun spiritual.

Terlalu mengejar pasangan yang sempurna bisa menjadi salah satu sebab kita bodoh karena cinta. Untuk itu, perbaikan diri secara terus menerus (kaizen) bisa menjadi jawaban agar kita tidak merasa bodoh dan rugi ketika menghadapi kenyataan pahit menjadi salah satu member pasukan PJI dan harus menurunkan standar kualitas jodoh kita. Kita pasti menyadari bahwa diri kita bukanlah makhluk yang sempurna, sehingga pasangan kita pun mungkin bukanlah orang yang sempurna. Dan yang pasti, jodoh itu dalam genggaman Allah kan, meskipun kita juga harus mengikhtiarkannya. Never give-up dan tetap semangat!

Iklan (berhenti sebentar): keponakan saya yang cakep dan baru berumur 2,5 bulan datang dan minta dipangku… tadinya saya mau ngetik sambil mangku si kecil, tapi ternyata susah juga…

Ok, kita lanjutkan kembali…

Carilah Cinta yang Menghargai Diri Kita Seutuhnya

Mencintai memang selalu butuh pengorbanan. Contohnya ibu atau ayah yang mencintai kita, beliau telah berkorban banyak sekali demi kebahagiaan kita. Demikian juga cinta kita kepada seseorang yang kita harapkan menjadi pendamping hidup kita; semua ternyata butuh sebuah pengorbanan. Dan ini juga sering terjadi, ketika kita mencintai seseorang, namun cinta kita tidak diperhitungkan, dianggap angin lalu, dipandang sebelah telinga (eh… maksudnya: sebelah mata), atau dengan kata lain: disepelekan. Kita pun kembali harus berkorban, yakni korban perasaan atau kecewa alias broken heart. Jika terjadi hal demikian, bisa dipastikan, kita lebih merasa bodoh lagi karena cinta.

Mungkin si dia melakukan hal itu karena memandang diri kita terlalu banyak kekurangannya, bukan tipe idealnya, bukan dari kalangan high class, bukan orang terkenal, bukan best of the best, dan lain-lain. Untuk itu, carilah cinta yang benar-benar menghargai diri kita seutuhnya. Cinta yang memanusiakan kita sepenuhnya. Memanusiakan di sini maksudnya menghargai perasaan kita dan menganggap kita juga manusia ciptaan Tuhan seperti dirinya juga, sehingga tidak disepelekan atau dicuekin begitu saja. Carilah cinta yang mau menerima diri kita apa adanya!

Sebagai contoh, saya memiliki seorang mentor yang luar biasa prima. Beliau adalah seorang top manager di sebuah perusahaan multinasional dan penulis bestseller juga, sedangkan saya hanya orang biasa-biasa saja, bahkan sangat biasa. Namun ketika saya mengirim SMS ke beliau, pasti selalu dibalas sesibuk apapun, meskipun saat itu beliau sedang meeting atau bahkan sedang nyetir mobil sekalipun. Kalau saya telepon, pasti selalu diangkat; jika tidak berarti beliau sedang sangat sibuk dan beliau selalu menelepon balik. Saya pun tidak berani miscall karena beliau pasti akan telepon balik, menanyakan apa ada yang penting yang ingin disampaikan. Pendek kata, beliau sangat menghargai saya yang bukan orang penting, bukan siapa-siapa ini. Beliau sungguh memanusiakan saya, meskipun status sosial kami berbeda dan umurnya juga sekitar 14 tahun di atas saya. Bisa dibayangkan kan bagaimana akhlak beliau kepada orang lain yang selevel dengannya.

Dari beliaulah saya belajar untuk melakukan hal yang sama. Untuk membalas setiap SMS yang masuk, terutama dari sahabat-sahabat pembaca. Karena dari merekalah saya banyak belajar realitas kehidupan sesama manusia yang terpisah jarak dan kadang berbeda pulau. Hingga pernah ketika tengah malam saya baru saja hendak tidur, ada saja SMS yang masuk yang bermaksud hendak curhat. Saya nggak berani nyuekin, namun saya hanya membalas dengan janji akan menyempatkan waktu di lain hari. Pendek kata, semua SMS yang beridentitas, email, dan telepon yang masuk, kalau saya sedang sempat pasti akan saya jawab. Jika terpaksa saya sedang sibuk, maka setelah kesibukan itu selesai saya akan menyempatkan waktu (belajar dari sang mentor) untuk menjawabnya.

Dan di lain kesempatan, saya juga mengalami saat di mana SMS saya tidak pernah dibalas, telepon saya tidak pernah diangkat, atau email saya juga tidak pernah dijawab; saya pun belajar dari beliau ini… Jikalau nanti saya sudah menjadi orang yang dianggap “penting”, saya tidak akan melakukan apa yang dilakukan beliau tersebut. Takutnya kalau kita nyuekin sesama manusia, ntar kualat… Yang Di Atas juga akan nyuekin saya. [Catatan: nyuekin berasal dari kata dasar cuek, bukanlah kata yang baku dalam Bahasa Indonesia. Kata searti yang baku adalah membiarkan atau mengabaikan; tidak memedulikan].

Demikian juga dalam hal cinta. Terkadang kita juga nyuekin atau kalau pasukan PJI mungkin lebih seringnya: dicuekin. Maksudnya yang dicuekin adalah cintanya… Dalam kasus ini hampir bisa dipastikan akan muncul perasaan “menjadi bodoh karena cinta”. Saya juga berprasangka bahwa anda (sahabat yang bertanya) mengalami hal yang sama. Untuk itu, solusi kedua yang saya tawarkan adalah carilah cinta yang mau menghargai anda seutuhnya.

Di mana? Kapan datangnya? Apa yang harus dilakukan?

Hmm, wallaahu a’lam… saya nggak bisa jawab, hehehe… Yang jelas teruslah berusaha, harapan jangan sampai sirna, dan perbanyak doa pada Yang Maha Kuasa. Akan ada saat di mana yang anda nanti-nantikan itu benar-benar datang ke dalam realitas hidup anda. Dan kalau bisa, jangan memasang standar yang terlalu tinggi (high quality) agar anda tidak merasa bodoh dan dirugikan karena “cinta”, karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Sekali lagi, never give-up dan selalu positive feeling!

Belajar Berhusnuzhan (Baik Sangka) dan Ilmu Ikhlas

Hal selanjutnya yang bisa anda lakukan agar tidak jadi bodoh karena cinta yakni berusahalah untuk selalu barhusnuzhan atau berbaik sangka. Kepada siapa? Kepada Allah yang telah menggariskan takdir perjalanan cinta anda, juga kepada sesama manusia yang mungkin telah mengecewakan harapan anda sehingga anda merasa bodoh dan akhirnya menurunkan standar pasangan yang telah anda tetapkan. Berbaiksangkalah, mungkin anda sedang dibimbing untuk belajar sesuatu dari pengalaman yang sedang anda lewati, atau agar anda lebih mendekat lagi pada Sang Pencipta.

Selain itu, kita juga bisa sambil belajar dan menerapkan ilmu ikhlas…, yakni ikhlas untuk menerima kenyataan yang mungkin untuk sementara waktu ini tidak sesuai dengan harapan anda. Ikhlas menerima takdir Allah yang telah terjadi, di samping kita juga terus berikhtiar untuk mendapatkan yang terbaik.

Terapkan pada Diri Sendiri Standar dari Allah SWT

Kita tidak akan merasa bodoh jika diri kita menyandarkan segala sesuatu kepada Sang Penguasa Alam. Kita juga tidak akan merasa rugi terhadap semua kenyataan hidup yang terjadi jika kita yakin apa yang menimpa diri kita, baik suka maupun duka, semua itu adalah atas kehendak-Nya, karena Dia-lah yang Maha Tahu yang terbaik untuk kita.

Dan ada hal yang lebih penting lagi untuk kita terapkan pada diri sendiri agar kita tidak merasa kecewa lagi terhadap sesuatu yang terjadi di luar kehendak dan kuasa kita. Apa yang bisa dilakukan? Terapkan standar atau kualitas tertinggi dari Allah pada diri kita sendiri terlebih dahulu. Apa itu? Bila anda seorang muslim, pasti pernah mendengar firman Allah dalam Al Qur’an yang berbunyi, “…Inna akramakum ‘indallaahu atqaakum. Innallaaha ‘aliimun khabiir”.

“…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [QS. Al Hujurat: 13].

Tetapkan standar untuk diri kita sendiri terlebih dahulu, yakni menjadi pribadi yang bertaqwa kepada Allah SWT. Ini adalah standar yang tersulit yang bisa kita capai, tapi inilah standar tertinggi bagi manusia untuk bisa meraih kedudukan yang paling mulia di sisi Allah. Kalau kita sudah mencapai standar ini, niscaya tidak akan pernah ada yang namanya kecewa atau jadi bodoh karena cinta, karena cinta kita tidak melekat kepada selain Dia. Adapun cinta kita kepada sesama manusia yang berlawanan jenis dengan kita hanyalah sebagai refleksi cinta kita pada Sang Pencipta dan untuk memenuhi sunnah Rasul-Nya. Saya juga pernah mendengar sebuah hadits, “Cintailah apa yang ada di bumi, niscaya yang di atas langit akan mencintaimu”.

Menjadi Pandai karena Cinta

Ini adalah jurus terakhir agar tidak menjadi bodoh karena cinta, yakni dengan menjadikan cinta sesuatu yang membuat kita pandai. Koq bisa? Ya, bisa saja. Daripada jadi “bodoh”, lebih baik jadi “pandai” kan?

Terus, bagaimana caranya donk?

Ya, dengan membuat persepsi yang positif pada kata “cinta” itu sendiri. Cinta sejati kan milik Allah dan akan turun ke hati manusia dengan kehendak Allah juga.

Misalnya, ketika dalam sebuah adegan film Pasukan PJI Mencari Cinta (ini hanya film fiktif) saya berkata. “Dan kini saya harus pergi… Selamat tinggal cinta…”

Maka kalau kita tidak pandai, orang akan menganggap bahwa saya benar-benar akan meninggalkan apa yang disebut “cinta”; mungkin orang yang dicintai atau juga perasaan cinta itu sendiri. Dengan kata lain, saya akan mengunci pintu hati saya sampai waktu yang tidak ditentukan.

Namun coba kalau persepsinya dirubah…

“Dan kini saya harus pergi… Selamat tinggal cinta…”

“Mau ke mana, Mas? Kenapa cinta ditinggalkan? Apa anda sudah berputus asa dalam pencarian cinta?”

“Saya harus pergi meninggalkan semua cinta di masa lalu yang mungkin telah menorehkan luka demi luka, karena saya tidak ingin masa lalu itu menjadi semacam trauma atau mental block yang menghalangi datangnya cinta baru yang saya harapkan. Saya ingin ada cinta baru yang bisa hadir di hati ini dan menjadi pelabuhan terakhir hatiku… Masa lalu adalah kenangan dan masa depan adalah harapan… Sekarang, saya ingin pergi menjemput cintamu…”

“???”

Dalam film di atas, saya pun harus melakoni sebuah adegan di mana saya harus melompat dan menyelamatkan tubuh sang puteri dari semburan peluru yang ditembakkan segerombolan penjahat. Walaupun sang puteri akhirnya selamat, ternyata di tubuh saya bersarang tiga buah peluru yang hampir menembus jantung saya [ha..ha..ha… ini film laga romantis]. Dan jika skenarionya menuntut saya harus mati dalam adegan tersebut maka judul filmnya dirubah menjadi “Mati Demi Cinta”.

Berhenti sebentar… ada film fiktif sedang lewat…

Begitulah, jika kita merasa bodoh karena cinta, itu mungkin karena di hati kita masih ada trauma atau luka lama yang dipelihara, sehingga kita tidak rela ketika harus sedikit menurunkan standar pasangan yang kita impikan. Kita kembalikan hati kita ke titik nol (zero), dan mulai lagi sesuatu yang baru dengan membebaskan pikiran kita dari prasangka masa lalu.

Menjadi pandai karena cinta seperti kupu-kupu yang baru keluar dari kepompongnya, kemudian bisa terbang. Terbangkan cinta kita hingga menembus pintu-pintu langit. Jika cinta kita sudah sampai di langit, semoga cinta yang di bumi akan datang juga.

***

Demikian jawaban yang bisa saya kemukakan. Semoga anda bisa memahami penjelasan saya yang terkesan cukup njlimet. Dan saya rasa benar-benar tulisan ini cocoknya untuk pasukan PJI yang masih tersisa. Sedangkan di bawah ini hanya sekedar curahan hati dari saya yang sering ditanya seputar dunia percintaan oleh sahabat-sahabat saya dari berbagai penjuru negeri. Berikut adalah ikhtisar kisah cinta yang saya alami selama satu tahun ini (tahun 2008)…

***

Epilog: Sebuah Rekapan Cinta

Sering ditanya tentang masalah “cinta”, dan saya menjawabnya walaupun kadang kurang ilmiah, tentunya saya mengalami dan sedikit mengerti tentang “cinta” itu sendiri. Sebenarnya dulu saya hanya ingin memiliki satu kisah cinta, yakni cinta pertama dan sekaligus terakhir. Namun saya tidak bisa menghindari kehendak Yang Maha Kuasa yang mengharuskan saya menjalani berkali-kali ritual patah hati, walaupun dalam beberapa kasus mungkin saya yang mematahkan hati. Mungkin inilah hikmahnya, saya menjadi bisa berbagi cerita dengan sahabat-sahabat semua dan bisa sharing seputar “cinta”.

Tahun 2008 bisa dikatakan tahun penuh cinta bagi saya, namun juga sekaligus menjadi tahun kesendirian saya yang paling sunyi (bingung… maksudnya apa?).

Dalam data rekapan buku akuntansi cinta saya telah tercatat bahwa tahun ini ada beberapa transaksi hati yang terjadi dalam hidup saya. Saya tidak akan menceritakan kisah cinta jarak jauh saya (dengan penghuni planet Mars kali…). Saya hanya menghitung yang ada dalam satu wilayah domisili saya dan saya kenal face to face dengan orangnya.

a. mengharap cinta saya kembali lagi atau C-L-B-K = 2

b. saya tidak bisa memenuhi harapan cinta yang datang pada saya = 3

c. saya dikecewakan karena cinta saya tidak diterima = 1

Jadi, jika dikalkulasi ternyata saya tidak begitu rugi, artinya antara dikecewakan dan membuat kecewa mungkin lebih banyak membuat kecewa. Namun ini masalah hati, semua itu di luar kehendak saya dan tiada pernah ada maksud itu disengaja. Dalam hal ini saya mungkin malah menjadi bodoh karena cinta. Di saat ada sekurang-kurangnya 3 hati yang mengharapkan, saya malah berharap kepada 1 hati yang justru mengecewakan saya. Sekali lagi ini masalah perasaan, tidak bisa diulas lebih jauh. Namun sepertinya, pertanyaan di atas sesuai dengan tema Love Story saya tahun ini; “Love Story aka 2008: Jadi Bodoh karena Cinta”. Saya ucapkan terima kasih untuk sahabat yang bertanya tersebut!

Yang cukup menarik, di awal tahun ternyata saya sempat menjalin cinta dengan seorang gadis yang nama depannya ada embel-embel Raden Roro, anak orang kaya dan tinggal tergantung keseriusan saya, namun ternyata justru saya yang memutuskannya. Kenapa? Itulah cinta atau jodoh, tidak bisa dipaksakan. Dengan dia, saya seringnya berantem. Namun, sampai sekarang dia masih menjadi teman baik dan kadang menanyakan kapan undangan saya akan dikirim ke sana.

Ada lagi seseorang yang kisahnya pernah diceritakan di artikel tentang cinta di sini, juga masih mengharap saya datang ke rumahnya, bukan dengan fisik saja tentunya, tapi dengan membawa cinta juga. Dia seorang ahli tahajjud dan seorang muslimah yang taat. Dia juga masih bersahabat baik dengan saya hingga sekarang. Ternyata dia pernah (atau mungkin sering) mampir ke sini, dan meninggalkan jejak meskipun dengan nama lain. Di sini saya mohon maaf juga.

Yang terakhir, lain dari yang lain. Ada seorang gadis yang mengungkapkan hatinya ke Pak Dhe saya. Dari Pak Dhe lapor ke ayah saya, itu pun saat saya dalam keadaan tidak serius. Katanya si dia menunggu jawabannya. Saya tadinya berpikir, “Ah, masa ada yang seperti itu? Mana ada gadis yang mau sama saya…” Namun ketika berbincang dengan nenek saya, hal yang sama dikemukakan, hanya beliau tidak berani bilang langsung ke saya saat itu. Kan seolah-olah masa laki-laki yang dilamar… mungkin takut saya akan tersinggung. Jujur saya orangnya tidak bisa mengerti perasaan wanita itu seperti apa. Saya harus bagaimana…? Makanya tolong ajari saya tentang cinta, hehehe… Akhirnya saya hanya diam karena dia tidak mendekati saya secara langsung, sikap yang mencerminkan jawaban “tidak” bagiku. Katanya dia seorang pegawai sebuah lembaga keuangan. Di sini saya kembali mohon maaf.

Dan yang menolak saya adalah seorang gadis yang sangat manis, sangat tekun menunaikan puasa sunnah dan masih pelajar. Prinsipnya sangat kuat, yakni tidak akan pacaran sebelum lulus. Ternyata saya ada pesaingnya juga, bahkan dia nyerangnya habis-habisan dengan taktik memikat hati orang tua si gadis, tapi mungkin nasibnya juga sama dengan saya (si dia pernah bilang bahwa dia juga tidak suka pesaing saya tersebut). Kalau ternyata kelak dia ngajak CLBK juga (capee dech…), baru bisa jadi Love Story edisi mendatang. Sungguh, saya lelah jika harus CLBK-an terus, hehehe… Makanya bagi saya selalu tidak ada kesempatan kedua. Intinya saya menghormati keputusannya dan karena saya memberi batas waktu agar cinta saya tidak bernasib sama seperti teman saya [9 tahun mencintai satu orang yang sama, tapi setelah itu si gadis disambar orang lain… mengerikan!], maka kembali saya harus berkelana mencari cinta.

Jika semua gadis yang dimaksud di atas tidak sengaja membaca tulisan ini, semoga mereka mengerti betapa rumitnya perjalanan cinta saya, karena kisah di atas ada yang terjadi dalam waktu bersamaan. Dan dari cerita saya di atas, anda mungkin bisa menangkap bahwa saya lebih memilih seorang gadis karena agamanya. Alasannya: mengikuti hadits yang saya kutipkan di awal tulisan ini. Alasan lebih rinci bisa dijelaskan di lain waktu.

Hmm, buat apa diceritakan segala… seperti tanda-tanda orang akan pergi bertapa saja…

Dan saya sedikit bisa tertawa lepas ketika seorang sahabat pembaca ada yang memberi gelar kehormatan “DOKTER CINTA” pada saya [lihat di komentar artikel “Ketika Cinta Dikhianati”]. Saya harus tertawa karena saya ini ternyata seorang Dokter Cinta yang mengalami komplikasi. Ya, karena di samping harus memberi resep-resep pada pasien saya (kalau ada), ternyata saya juga harus mengobati luka atau penyakit saya sendiri. Akhirnya saya hanya bisa melakukan self healing. Adapun resep untuk diri saya sendiri hanyalah mengembalikan segala urusan kepada Allah SWT, karena saya percaya Allah Maha Adil dan telah memberikan (menakdirkan) yang terbaik untuk diri saya. Oh ya, terima kasih atas gelar baru yang diberikan tersebut…

Dari epilog di atas, anda tahu bahwa Love Story yang harus saya jalani itu rumit, melelahkan dan jujur sekarang saya sudah merasa bosan untuk kembali “patah hati” atau “mematahkan hati”. Untuk itu, saya berharap dan memohon kepada Allah agar untuk tahun depan (tahun 2009) tidak perlu ada banyak kisah cinta lagi. Cukup satu saja (kalau bisa) untuk yang terakhir kali sebelum saya mati!

Ya Allah, pertemukanlah saya dengan gadis yang mencintai saya dan saya pun mencintainya. Jadikan yang ini pelabuhan terakhir hatiku. Please, Allah… please…!

Hehehe… jika doa di atas relevan juga untuk sahabat-sahabat pasukan PJI yang lain, boleh dipraktekkan. Silahkan…

Dan ini syair lagu untuk Love Story saya di tahun 2009…

***

Ketika waktu mendatangkan cinta

Aku putuskan memilih dirimu

Setitik rasa itu menetes dan semakin parah…

***

Bisa ku rasa getar jantungmu

Mencintaiku, palaki aku

Jadikanlah diriku pilihan terakhir hatimu…

***

Jalan ini jauh, namun kita tempuh

Bagai bumi ini hanya milik berdua

***

Biar ku berlebihan mendekatimu

Namun ku tulus…

[Butterfly – Melly Goeslow feat Andhika Pratama]

***

Kesan-kesan Tak Terlupakan

Sebagai pemilik blog sederhana ini, banyak sekali yang berkesan sepanjang tahun 2008. Di antaranya adalah ada seorang sahabat yang mengungkapkan kekagumannya pada saya hingga diri saya terbawa dalam mimpinya. Terima kasih telah memimpikan saya yang tidak ada apa-apanya ini. Sebuah kehormatan saya bisa hadir dalam mimpi sahabat yang jauh di sana.

Di artikel-artikel yang telah lalu, saya telah sedikit demi sedikit mengisahkan masa kecil, masa sekolah, masa muda, dan latar belakang kelurga saya yang sangat sederhana. Dari situ anda jadi tahu bahwa saya ini orang yang biasa-biasa saja, bahkan sangaaat biasa. Semoga itu bisa membuat anda lebih obyektif dalam menilai saya yang penuh keterbatasan dan kekurangan ini.

Pernah suatu kali saya juga harus berdebat dengan seorang siswi Madrasah Aliyah yang juga sedang belajar di pesantren karena salah paham, namun dia akhirnya minta maaf. Karena beberapa hari kemudian ada nomor asing yang sering mengganggu, maka saya suruh seorang teman untuk menanganinya. Entah apa yang terjadi di antara mereka, ternyata ada yang jadian via telepon. Dasar teman saya ini tukang gombal juga. Tapi anehnya hubungan mereka bubar beberapa saat setelah si gadis tahu teman saya dan saya adalah orang yang berbeda. Dipikirnya teman saya itu adalah saya, hehehe… Tobat! Tidak lagi-lagi nomor nyasar saya kasih ke dia. Saya kemudian membuka artikel-artikel lama saya yang mungkin ada nomor hp saya di situ, kemudian nomor hp saya di semua artikel tersebut saya hapus.

Tujuan saya mencantumkan nomor hp adalah untuk mendapatkan mentor, dan itu sudah saya dapatkan, karena beliau yang menghubungi saya lebih dulu. Dan ternyata jalan dari Allah itu indah. Saya yang nyaris melupakan bahwa saya pernah menjadi Pelajar Teladan Kabupaten ternyata kemudian menemukan mentor seorang mantan finalis Mahasiswa Teladan Nasional. Ya, lewat dunia maya ini, namun kemudian menjadi nyata karena kami sudah bertemu face to face.

Ada lagi email yang membuat saya tersenyum. Ada seorang sahabat pembaca yang terus terang, dikiranya saya ini orangnya serius, tegang, pokoknya menakutkan… ternyata kalau bercanda jadi nggak mutu ya? Mungkin dia melihat dari foto saya. Memang saya terbiasa berpakaian resmi, dan empat hari kerja dalam sepekan saya harus menggunakan dasi. Gaya keren, tapi kantong bolong, hehehe… [Jujur… biar cewek-cewek pada kabur…! Habis heran, kenapa kebanyakan yang curhat cewek semua…] Piss ya!

Sebenarnya masih banyak kesan lain, tapi tidak bisa saya tulis semua karena akan menyita banyak halaman dan waktu anda untuk membacanya.

Mungkin kesan yang kurang menyenangkan bagi saya hanya satu. Saya menemukan janji-janji dari sesama sahabat penulis lain pada saya yang seolah-olah hanya main-main. Jika serius, saya akan sangat berterima kasih, karena di antaranya ada yang berjanji akan mengirimi saya buku karyanya. Belum lagi ada yang minta diajari menjadi penulis, tapi sampai sekarang sepi-sepi saja [Maksudnya saya yang harus belajar dari dia dalam hal kepenulisan]. Dari sini saya belajar tentang bagaimana saya harus berjanji agar tidak mengingkari.

***

PENUTUP: SENJA CINTA DI PENGHUJUNG TAHUN

Tidak terasa satu tahun kebersamaan kita akan segera berlalu. Tahun 2008 akan segera pergi dengan segala kenangan, pahit-manis, suka-duka, sedih-bahagia; dan selamat datang tahun 2009 yang masih menyisakan harapan dan misteri. Untuk itu, pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tulus untuk sahabat-sahabatku semua, terutama yang sering curhat, berbagi kisah atau pengalaman dalam menempuh suka dan duka kehidupan ini.

Untuk seorang mahasiswi di Semarang, yang dengan tiada malu menceritakan aibnya kepada orang yang bukan siapa-siapa ini. Biasanya orang lebih suka menceritakan kehebatannya, tapi yang ini sanggup menceritakan sisi gelap dirinya pada saya. Tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Apapun yang telah terjadi pasti ada hikmahnya. Dari situ, saya bersedia menjadi kakak angkat anda jika anda mau, yang penting sekarang anda bersedia berkomitmen untuk kembali ke jalan yang diridhai-Nya. Jika ada apa-apa, silahkan disampaikan saja. Jangan dipendam sendiri. Saya bersedia membantu semampunya.

Untuk seorang mahasiswi di Medan yang sedang menyelesaikan skripsinya, sukses selalu untuk anda. Semoga anda bisa tetap menghargai orang tua yang melarang cinta anda kepada si dia yang beda suku, dan segera menemukan soulmate in love yang dinanti.

Untuk seorang gadis muda yang sedang mencalonkan diri menjadi anggota DPR dalam Pemilu April 2009 nanti di Palembang, semoga sukses juga. Do your best for our country!

Untuk seorang gadis yang bercita-cita menjadi seorang motivator di Surabaya, tetap semangat dan never give up! Kalau boleh saya memberi saran: ilmu kependidikan anda agar diamalkan.

Terima kasih untuk seorang gadis rupawan, master akuntansi FE-UI di Jakarta yang mahabbahnya saya kagumi. Anda benar-benar telah mengajarkan bahasa keyboard di dunia IT yang bertolak belakang dengan kepribadian para motivator kepada saya. Terima kasih atas diskusi singkatnya. Semoga cita-cita anda tercapai semua!

Terima kasih untuk Bapak H. Bobby Herwibowo, Lc yang telah memberi ijin via telepon artikel-artikelnya tentang haji diposting di sini, semata-mata untuk meneguhkan agar hamba yang hina ini bisa mewujudkan mimpi untuk sampai ke Tanah Suci menyempurnakan Rukun Islam.

Terima kasih juga tak kan terlewat untuk sahabat saya, Mas Arif Ismanto, S.Kel, yang telah ikut mengisi rumah virtualku yang sederhana ini sehingga menjadi lebih hidup dan telah membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabat pembaca yang tidak sempat saya jawab.

Terima kasih tak terhingga juga tertuju kepada guru-guru saya yang juga menulis bersama di www.andriewongso.com dan www.pembelajar.com yang alamat websitenya saya cantumkan di blogroll gubuk saya ini. Terima kasih atas segala support, nasehat, doa dan uluran tangannya yang telah membuat wajah saya yang menunduk bisa kembali menatap ke depan dan sedikit membuka mata anak rajawali yang mungkin masih ada dalam diri saya.

Untuk sahabat-sahabatku sesama penulis buku “Kumpulan Puisi Hati Kapas: Cerminan Hati, Perasaan dan Cinta”, terima kasih atas kebersamaan dan dukungan yang tiada terputus. Semoga untuk tahun 2009 kita bisa menerbitkan kembali buku dengan judul “Kumpulan Puisi Mutiara Hati: Cerminan Rindu dan Cinta Ilahi”.

Tidak lupa terima kasih juga tertuju untuk seluruh sahabat pembaca yang telah terlanjur nyasar ke sini dan memberikan apresiasi, untuk para pembaca buku saya, dan semuanya saja yang telah berkenan sharing, belajar bersama dan berbagi pengalaman.

Mohon maaf jika selama tahun ini ( tahun 2008) banyak tulisan saya yang kurang berkenan, tidak sengaja menyinggung, tidak pantas, tidak sopan, tidak bermanfaat dan segudang kemudharatan lainnya. Saya hanya manusia biasa yang tak pernah lepas dari salah dan khilaf. Semoga bisa dimaafkan, dan kita bisa terus saling nasehat-menasehati dan berlomba-lomba dalam kebaikan dan ketaqwaaan.

Insya Allah mulai tahun depan, jika Allah masih memberi kemampuan pada saya untuk bisa terus menulis, blog ini lebih saya peruntukkan untuk pembaca dari kalangan kaum muda; pelajar, mahasiswa, dan sahabat-sahabat generasi muda penerus perjuangan bangsa.

Terima kasih telah berkenan membaca hingga finish. Ini merupakan tulisan terpanjang yang saya posting di tahun ini. Semoga tahun depan adalah tahun kesuksesan dan kebahagiaan bagi kita semua.

***


Di samping Masjid Sultan Omar Ali Saefuddin ~ Bandar Seri Begawan

* Dalam Pengembaraan Mencari Ridha Ilahi *

***

Salam cinta dari hati!

~Agus Riyanto~

Iklan

Responses

  1. Makasih ya…. Mudah2an di tahun 2009 menjadi awal yg lebih baek. Aku yakin dengan kebesaran allah.

  2. i am just want to share..(bener ga ya bahasanya??)

    mas agus yang baek keren lho pake baju itu…orang mau nikahan.
    Dan mungkin sebentar lagi kali ya…

  3. Hehehe… Kang Arif ini, yang dipikirin cuma “nikah” doank.:-)

    Jangan-jangan Kang Arif yang sudah bosan jadi member PJI… Kalau Kang Arif pensiun, lha saya nggak punya pasukan donk…:-(

    Jelek-jelek begini sudah pernah salaman dengan Sultan Hasanal Bolkiah Mu’izaddin Waddaulah, lho…

    Salam SDA dari kota Satria!

  4. Thanx so much y mas 2k doany! Mkch jg mas agus dh mo jd tmn curhat yn,mg2 za mas agus msh mo jd dokter cinta(gelar brny mas agus,hehe!)nya yn 2k strusny! Mg2 d thn dpn mas agus mkn sukses dgn karirny,AAMIIN.

  5. Hehehe…sang Dokter Cinta memang harus bisa self healing 😀 Mesti sering berlatih meditasi nih.

    Selamat Tinggal Cinta… enaknya diganti dengan:
    Sampai Jumpa Lagi Cinta

    Jadi bisa berjumpa terus dengan banyak ragam cinta lho 😉 Mas Agus… lebih asyik deh.. 😀

    Salam Prima SDA dari Surabaya,
    Wuryanano 🙂

  6. Tahun ini adalah tahun penuh berkah, lebih indah dan bahagia.:-)

    Pak Wuryanano dan kawan-kawan semua pasti juga merasakan hal yang sama kan?

  7. Baru saja saya menyapa anda dan teman-teman lainnya dalam sebuah karya saya. Tanpa bertanya terlebih dahulu, saya telah mencantumkan nama anda di dalam deretan nama-nama yang ada. Semoga anda tidak berkeberatan. Dan apabila ada kesalahan dalam penulisan nama anda mohon beritahu ke kami, maka kami akan segera memperbaikinya. Saya juga telah membaca karya anda yang terbaru. Indah dan penuh makna. Saya dapat melihat keseriusan anda dalam tulisan ini. Salam untuk anda dan selamat berjuang, tetap semangat.

  8. ok lah maz,klo bicara cinta ga kn ada hbisnya

  9. […] ku bagi tapi … ada satu tulisan keren yang aku baca setelah menelusuri google, tulisan di Blognya agusriyanto dengan judul yang  mmmm… sedikit hampir sama dengan judul diatas… tulisannya panjang […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: