Oleh: Agus Riyanto | 22 Desember 2008

SAMUDERA CINTA TAK BERSYARAT


~ Bunga dari Ibu kini telah mekar ~

***

Tak terasa perjalanan sang waktu begitu cepat berlalu. Baru kemarin saya menghadiri pesta pernikahan Wulan dan Bintang; sebuah pernikahan yang bagi saya harus dihadiri karena pada kenyataannya sayalah orang ketiga yang telah mempertemukan mereka berdua. Datang bersama seorang sahabatku yang tidak asing lagi, karena selalu menjadi obyek bercandaku (yang kadang “tidak bermutu”) di sini. Meski saya heran, kenapa dia belum juga menyadari kalau kisah Ketika Cinta Diuji itu adalah sebuah true love story… dan baru mengerti sepenuhnya ketika sesaat sebelum masuk saya harus menjelaskannya terlebih dahulu. Di resepsi pernikahan itu saya tidak melihat melainkan wajah bahagia sepasang pengantin yang saling mencintai satu sama lain—beberapa saat setelah saya menerima telepon dari sang mempelai laki-laki yang menanyakan koq saya belum juga hadir di acara pernikahan itu. Ternyata saya lupa tanggalnya, hehehe… karena seingatku acaranya adalah esok harinya.

Alhamdulillah, Allah masih mengingatkan saya di saat saya lupa… Karena saat itu adalah salah satu moment paling penting bagi mereka berdua, jika saya tidak hadir maka akan muncul banyak tanda tanya (?).

Dan kini, di sore ini, di sudut kamar kembali saya harus menepi menghentakkan jari-jemariku di keyboard silver komputerku dengan tuts berwarna hitam… diiringi rintik hujan di luar sana sambil mendengarkan sebuah senandung lagu yang meluruhkan sudut-sudut hatiku. Sebuah lagu yang syairnya akan saya tulis di bawah ini:

***

Hujan…

Kau ingatkan aku tentang satu rindu

Di masa yang lalu

Saat mimpi masih indah bersamamu


Terbayang satu wajah

Penuh cinta, penuh kasih

Terbayang satu wajah

Penuh dengan kehangatan

Kau ibu…

Oh ibu…


Allah wujudkanlah aku bahagiakan dia

Meski dia t’lah tahu

Biarkanlah aku berarti untuk dirinya

Oh ibu… oh ibu…

Kau ibu…

[Opick feat Sulis]

***

Tak terasa ada sesuatu yang membasahi sudut mataku, mengiringi alunan musik yang telah menghancurkan semua kesombonganku sebagai laki-laki yang merasa diri tegar dan tabah. Dan lagu ini adalah lagu yang selalu saya dengarkan jika diri ini sedang dilanda rindu kepada sesosok wanita mulia yang telah menjadi perantara keberadaanku di dunia.

Siapakah dia…?

Dia adalah orang yang telah mengandung, melahirkan, merawat dan membesarkan aku…

Dia adalah orang yang dulu selalu menimang-nimang, melelapkan dan memberi selimut di tidur malamku…

Dia adalah orang yang selalu datang ke sekolah untuk mengambil raporku ketika aku masih bersekolah dahulu…

Dia adalah orang yang selalu kupanggil dan ingin selalu berada di dekatku ketika saat-saat sakit dahulu tak terhindarkan…

Dia adalah orang yang ketika suatu hari di bandara memeluk dan melepas kepergianku dengan derai air mata, melepas kepergian anaknya menjalani takdir sang waktu pergi jauh ke negeri seberang…

Dia adalah orang yang kadang pagi-pagi sekali menelepon anaknya yang jauh sekali terpisah oleh laut dan daratan luas, hanya untuk mengetahui keadaanku yang ketika itu masih muda belia, namun harus menghadapi kerasnya hidup di rantau orang, di negeri seberang…

Dia adalah orang yang ketika acara silaturahmi Idul Fitri keluarga menitikkan air mata mendapati seorang anaknya tidak ada di sisinya; sementara nun jauh di sana…diri ini termenung di sudut kota dengan mata berkaca-kaca tidak bisa sungkem di hadapannya, memohon maaf atas segala salah dan dosa… dan hanya sepucuk kartu lebaran yang bisa menjadi wakil pengobat rindu…

Dia adalah orang yang menyambutku dengan pelukan tererat dan tatapan basah oleh air mata bahagia ketika bersua kembali dengan anaknya setelah bertahun-tahun terpisah, ketika kaki ini kembali menginjakkan bumi pertiwi…

Dia pula yang berkata kepada Bu Dhe-ku ketika aku sedang terbaring tak berdaya, “Apakah dia akan bertahan…?”, dengan suara menahan kesedihan… Saya mendengarnya Bu, ketika itu aku telah pasrah; berusaha mengubur mimpi-mimpiku dan mengikhlaskan diri jika ternyata harus pergi semuda itu, karena aku telah melihat di depan cermin, yang ada di lidahku bukanlah air liur, tapi darah yang keluar dari tenggorokanku. Aku tidak takut Bu, hanya aku berpikir akan secepat itukah kita akan berpisah, padahal belum ada apa-apa yang bisa aku lakukan untuk berbakti padamu… untuk membalas kasihmu…

Dan kini, dialah orang yang setiap pagi menyediakan sepiring nasi, kadang nasi goreng, dengan segelas susu atau teh hangat sebelum diriku berangkat kerja…

***

Tiada kasih seindah kasihnya…

Tiada sayang setulus sayangnya…

Tiada cinta semurni cintanya…

***

IBU…

Darah dan air susunya mengalir di diriku…

Keringat, dan air matanya telah membasahi jiwaku…

Dan kini, ketika sakit mulai menyerangmu, saya pun ada di sisimu… mengantarkan berobat ke dokter, dokter spesialis, sebanyak berapa pun harus datang kembali… Kesehatanmulah yang kupanjatkan dalam doa-doaku, dalam isak tangisku ketika diri ini merasa malu bersimpuh di hadapan-Nya… mengetuk pintu yang selalu kuketuk dalam munajat-munajat dengan segala kerendahan hati dan sepenuh harapan.

Hujan… kau ingatkan aku tentang satu rindu… Rindu akan kasihnya, rindu akan sayangnya, rindu akan belaiannya… yang menghadirkan cinta dalam hidupku.

Dan saya pun lebih menjiwai semua pengorbanan ibu tatkala melihat adik perempuanku memiliki bayi yang montok dan lucu. Ketika ia harus menyusui tiap bayi itu menangis karena lapar, ketika ia harus membersihkan kotorannya meskipun ia sedang makan, ketika ia harus mengganti popoknya yang telah basah, ketika di sebagian malam ia harus terjaga menunggui bayi mungil itu, ketika ia harus melakukan segala sesuatu demi anaknya agar bisa tumbuh dengan sehat dan normal, mengantarkannya ke posyandu untuk diimunisasi, hingga menggendongnya dalam dekapan hangatnya agar si mungil tertidur—selelah apa pun dirinya saat itu. Mungkin begitulah diriku ketika baru lahir dulu… Telah merepotkan ibu, bahkan sejak masih dalam kandungan.

Sekarang, pantaskah kita durhaka kepada ibu…?

Sejak dalam kandungan, ibu telah berkorban dalam kepayahan yang berlipat ganda demi kita. Ibu juga orang yang telah bertaruh nyawa ketika melahirkan kita, sehingga Allah pun mengganjar seorang ibu yang meninggal ketika melahirkan anaknya dengan mati syahid. Dan masih sangat banyak pengorbanan seorang ibu hingga kita telah menjadi manusia dewasa seperti sekarang ini.

Begitu besar jasa seorang ibu kepada anaknya, sehingga Allah memuliakannya dengan menyertakan ridha-Nya beserta dengan ridha orang tua (terutama ibu). Dan Rasulullah Saw ketika ditanya, siapa orang yang harus kita muliakan, yang harus kita berbakti padanya, maka jawabnya adalah ibumu, ibumu, ibumu… baru kemudian ayahmu.

Tiada mampu jika kita akan membalas cinta kasih ibu, meskipun bila seluruh isi dunia ini bisa terbeli dan kita hadiahkan kepada ibu… semua itu belumlah bisa melunasi jasa, pengorbanan, cinta kasih dan ketulusan seorang ibu. Ibu yang benar-benar menjadi “ibu” bagi anaknya tentunya, di mana sampai diungkapkan “surga di bawah telapak kaki ibu”. Itu menggambarkan betapa kita harus memuliakan ibu, dan berbakti kepadanya di sisa umur ini. Karena selalu ada dua kemungkinan; ibu kita yang akan pergi terlebih dahulu atau kita yang mendahului beliau menghadap ke hadirat-Nya.

Saya pun sangat memahami ketika di suatu hari hampir tengah malam seorang teman mengirim SMS…

“Mas, aku ingat ibu… Aku kangen sama ibu…”

Lho, ibumu masih ada kan? Kemarin waktu aku main, itu ibumu kan?”

“Bukan Mas, itu ibu tiriku… Ibuku sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu…”

Saya sedikit tersentak. Ketika saya melihat langsung, tidak ada tanda-tanda bahwa ibu itu bukan ibu kandung temanku, melainkan ibu tirinya.

“Bersyukurlah, ibu tirimu menyayangimu seperti anak sendiri. Dan aku yakin ibumu sekarang bahagia di sisi-Nya. Tugas kita sekarang adalah mendoakannya, minimal lima kali sehari ba’da shalat fardhu. Dan aku rasa kita harus terus mendoakannya sepanjang hayat kita dan di tiap doa-doa kita—baik setelah shalat fardhu maupun saat qiyamul lail, karena mungkin juga doa kita yang menjadi perantara datangnya ampunan Allah untuk ibu. Alangkah indahnya kalau ibu kita menjadi bidadari surga…”

“Tapi aku ingin curhat sama ibu, Mas…”

“Ceritakan masalahmu pada Allah. Dia lebih mendengarkanmu…”

Saya tidak bisa membayangkan perasaan temanku itu, karena sampai sebesar ini ibuku selalu ada di sisiku. Ibu mungkin ibarat tempat berteduh kita di dunia ini. Namun jika kita mendurhakainya, di mana kita bisa bersembunyi karena murka ibu ternyata juga menjadi murka Allah SWT.

Saya juga tak habis pikir jika ada seorang gadis yang dengan susah payah telah dibesarkan dan disekolahkan, ternyata ketika dewasa menyerahkan begitu saja mahkotanya kepada laki-laki yang bukan suaminya. Padahal sebagai wanita, dia adalah calon ibu-ibu baru yang akan melahirkan generasi penerus peradaban manusia yang akan menjadi khalifah Allah di bumi ini. Jika kesucian itu dilanggar, apakah keselarasan alam akan terjaga?

Saya kemudian mencoba untuk menuliskan sebanyak mungkin jasa, pengorbanan, cinta dan kasih seorang ibu, namun ternyata tidak sanggup tangan ini untuk terus menari karena meskipun berhari-hari waktu dihabiskan, belum tentu bisa tertulis semua. Yang saya tahu, semua yang ibu berikan tiada pernah mengharap balasan. Jadi, jika kita ingin melihat contoh “cinta suci” maka kita bisa melihat cinta kasih ibu kita, ibu yang benar-benar menjadi “ibu” bagi kita, makhluk Allah bernama manusia. Cinta ibu tiada bersyarat, tidak seperti cinta kita kepada kekasih yang selalu menuntut balasan cinta yang sebaliknya dan lebih ingin diberi daripada memberi. Cinta ibu selalu mengalir meskipun telah berkali-kali kita khianati. Cinta ibu adalah cinta yang tiada berkarat karena kemurniannya. Cinta ibu juga seperti mutiara, yang selalu berkilau di manapun ia berada.

Dan hanya ini yang bisa saya persembahkan dalam rangka memperingati Hari Ibu, meskipun lebih tepat bahwa hari ibu kita peringati di setiap hari-hari kita; hari di mana nafas ini masih berhembus dan jantung ini masih berdetak… dan kita pun masih bisa menengadahkan kedua tangan seraya memanjatkan doa:

**Allaahummaghfirlii wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa**

Atau ketika kita berdoa tidak sendirian:

**Allaahummaghfirlanaa wa liwaalidainaa warhamhumaa kamaa rabbayaanaa shighaaraa**

***

Dan tulisan ini hanyalah sebuah pandangan atau kesan subyektif dari diri penulis secara pribadi pada sosok seorang “ibu”, sehingga mungkin akan sangat berbeda untuk diri pribadi sahabat semua. Namun jika berkenan, tulisan ini didedikasikan untuk ibu… ibuku, ibumu, ibu kita semua.

***

Ibu…

Akan selalu menjadi samudera cinta tak bersyarat

Yang cintanya tiada pernah terucap

Namun selalu terasa

Dekaaat sekali…

***


Responses

  1. Memang Ibu itu kekasih Allah, sehingga sudah semestinya selain memohon rahmat kepada Allah, maka juga kita memohon ridho kepada Ibu lebih dulu. Ridho Ibu adalah Ridho Ilahi.

    Sukses selalu buat Mas Agus yang sangat mencintai Ibundanya.

    Salam Prima dari Surabaya,
    Wuryanano🙂

  2. Terima kasih Pak.:-)

    Ibulah yang menguatkan saya ketika cobaan demi cobaan hidup harus saya lewati. Bagiku beliau adalah segalanya, karena tanpa beliau… saya bukanlah siapa-siapa.

    Salam SDA dari kota Satria!

  3. Aku kagum ma mas agus,begitu sayangnya ma ibu. Dari artikel yang kamu tulis,hati aku tersentak.aku malu pada diri aku sendiri.aku selalu menganggap ibu aku tidak sayang m aku,apalagi ibu sering marah2.aku sadar ibu melakukan itu semua karena ibu sayang m aku.aku teringat waktu aku opname di rumah sakit,ibulah yg pertama kali khawatir dengan keadaan aku.sampe airmata beliau tergenang d pipi aku.ibu maafkan aku,saat aku menginjak dewasa ini aku malah mengecewakanmu.

  4. benar sekali ibu adalah segalanya. ibu adalah prasasti bagi aku, cahaya paling indah dihatiku. seorang yang paling hebat dimataku. aku mencintai dan menyanyanginya melebihi apapun. aku sayang ibu …………..

  5. lagunya bukan dinyanyikan opick feat sulis tapi opick feat amanda

    • Terima kasih Mei…
      Yang benar feat Amanda ya, saya lupa…:-)

      Keep loving our mom.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: