Oleh: Agus Riyanto | 18 Desember 2008

KETIKA CINTA DIUJI [Part 3]: AKHIR SEBUAH KISAH


 

Pada episode yang lalu dikisahkan bahwa hubungan cinta antara Wulan dan Bintang mendapat tentangan yang hebat dari orangtua Wulan. Kisah mereka pun sempat diwarnai dengan linangan air mata. Menghadapi cobaan tersebut, Wulan pun sampai jatuh sakit. Beberapa lama tidak ada kabar ternyata mereka sedang menghadapi masalah.

Walaupun demikian, waktu yang terus berlalu ternyata membuat cinta mereka semakin erat. Berkat kesungguhan keduanya, berkat ketulusan cinta yang mereka bina, berkat kesucian kasih yang mereka jaga—semua itu ternyata pada akhirnya membuahkan restu kedua orangtua. Namun, apakah masalah mereka sudah benar-benar sirna?

Seperti biasa, di libur Idul Fitri kami biasa bertemu. Jika tahun yang lalu mereka yang datang ke rumahku, maka untuk lebaran tahun ini giliran saya dan Bintang yang bersilaturahmi ke rumah Wulan. Melihat mereka berdua sangat bahagia, saya juga merasakan hal yang sama. Mereka bercanda dengan mesranya, seperti tidak melihat ada saya di antara mereka [Hiks… hiks… hiks… mau gigit jari sendiri ternyata sakit, mau gigit meja ternyata gigiku sakit juga… Duuh, gigit apa ya??].

Setelah cukup lama bertemu, tak terasa keadaan mulai memanas… [Hayo, jangan berpikiran ngeres…!] Ternyata masih ada sedikit masalah yang mereka pendam, hingga ketika dibahas Wulan sampai menangis. Terkisah, ada seseorang yang masih mengharapkan Wulan, padahal dia tahu Wulan sudah jadi tunangan Bintang. Bintang tentu merasa cemburu dan marah pada laki-laki itu. Beberapa waktu mereka berdebat hingga saya merasa agak aneh… Ini koq ada coverboy (majalah “Tak Jadi Terbit”) di sini termenung sendiri; disuruh jadi wasit apa ya? [Mohon maaf, saya menyebut diri sendiri sebagai coverboy hanya untuk bercanda. Orang seperti saya ini mana lulus sensor jadi coverboy, hehehe…]. Setelah itu, saya pun berusaha meyakinkan mereka berdua bahwa masalah itu bukanlah masalah besar karena saya yakin Wulan bisa dipercaya dan bisa mengatasinya. Saya mewanti-wanti Bintang agar tidak terlalu mencurigai Wulan dan jangan terlalu memedulikan si pengganggu tersebut. Akhirnya, ketegangan pun mereda dan mereka bisa sedikit saling mengerti. Karena waktu sudah cukup sore, saya dan Bintang pun pamit pulang diantar Wulan hingga depan pintu pagar rumahnya.

Tidak menunggu lama, Wulan dan Bintang pun harus berpisah kembali demi memenuhi kewajiban pekerjaan yang selama ini mewarnai kehidupan mereka. Cinta mereka untuk sementara kembali terpisah oleh jarak yang membentang di antara keduanya.

***

Cinta sejati akan saling menjaga meski jarak memisahkan dua insan yang sedang kasmaran

***

Detik demi detik waktu terus berlalu menemani diriku dalam kesendirian, dalam sebuah pengembaraan kehidupan yang tak tahu kapan akan berakhir… Tak terasa kenangan cinta yang pernah singgah di hati satu demi satu kembali terbayang. Ada suka, ada duka… semua datang dan pergi silih berganti. Namun ada rasa syukur yang selalu menyelimuti hatiku… Sekelam apa pun masa lalu yang pernah dilewati, semua itu tidak sampai menghilangkan kebiasaanku bersujud pada-Nya. Sepedih apa pun luka yang pernah tersayat di hati ini, tak sampai membuat saya pergi menjauh dari-Nya. Justru semua itu semakin membuatku berusaha mendekat pada-Nya, seperti senandung syahdu yang Om Bimbo lantunkan, “Aku jauh, Engkau jauh… Aku dekat, Engkau dekat…” Dan ternyata saya lebih ingin selalu “dekat” dengan-Nya, meski jika mengingat dosa-dosaku yang telah menggunung… semua terasa tak pantas. Tak pantas jika mengingat mata ini, tangan ini, telinga ini, mulut ini—semua sering berbuat yang melanggar larangan-Nya dan semakin menjauhkan diri dari ridha-Nya, dan kaki ini pun malangnya sering melangkah ke tempat-tempat yang membuahkan kesia-siaan daripada pergi untuk bermunajat di rumah-Nya. Namun tak pantas bagi kita untuk berputus asa dari rahmat-Nya, karena selagi nafas ini masih berhembus maka ketika itu pula kita masih berkesempatan kembali pada-Nya. Kembali kepada sebuah kesucian diri yang semakin asing bagi kita, dan bertaubat kepada-Nya karena tidak ada manusia di dunia ini yang bersih dari salah dan dosa.

***

Hari Raya Idul Adha kemarin juga menjadi hari bahagia bagiku… Di samping saya ikut ambil bagian dalam kegiatan mencincang teman-teman Kang Arif yang dikorbankan [Ini pasti bikin Kang Arif melotot… dan bila bertemu, saya pun harus menggunakan rompi anti peluru, hehehe…], ternyata ketika saya pulang, telah tergeletak sebuah surat undangan di meja. Di depan surat tersebut tertulis nama; sebuah nama yang sangat pasaran, karena ketika saya browsing internet dan iseng menuliskan nama itu di search engine (google), ternyata ada ribuan orang yang memiliki nama sama persis dengan nama itu. Itulah nama yang melekat padaku, pada seonggok jasad yang terkadang lupa dengan penciptanya. Namun saya percaya, nama yang satu ini mungkin beda dengan yang lain… yang telah mengalami berbagai badai dan gelombang kehidupan, juga patah hati yang tiada terelakkan, hingga seseorang yang telah menyentuh hatinya pernah berprasangka bahwa si pemilik nama itu tidak akan pergi mencari cinta lagi dan mengunci pintu hatinya dalam kesendirian untuk selama-lamanya… (tragis banget… mengenaskan, hehehe… Tabahkan hatimu, Nak!) Meski sama-sama memiliki cita-cita dan impian, semoga pemilik nama itu selalu merindukan ampunan-Nya, karena tanpa itu maka sia-sialah hidupnya.

*** Hasbi rabbi jalallah, Nafsi qalbi ilallah, ‘Alal hadi shalallah, Laa ilaaha illallaah ***

Kembali ke surat di atas meja… Di halaman pertama surat itu tertulis doa yang sangat indah…

**

Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya,

Memberkati mereka berdua,

Dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka,

Menjadikan pembuka pintu-pintu rahmat,

Sumber ilmu dan hikmah,

Serta pemberi rasa aman bagi umat

[Doa Nabi Muhammad Saw pada pernikahan putrinya, Fatimah Az Zahra dengan Ali Bin Abi Thalib]

**

Di halaman kedua, tertulis nama Wulan dan Bintang. Di bawahnya juga tertulis hari, tanggal dan jam akad nikah mereka berdua. Dan di halaman terakhir tergambar peta lokasi rumah Wulan yang akan menjadi saksi bersatunya cinta dua anak manusia [Hmm, saya jadi gigit jari... Bagaimana dengan pasukan PJI yang lain??].

Tak terasa dua Idul Adha telah berlalu… Wulan, seorang gadis yang bersahaja, seorang yang rendah hati dan apa adanya. Seorang yang dulu pernah satu kelas denganku ketika saya masih menjalani hari-hari di sekolah dengan seragam putih dan celana abu-abu, seorang gadis yang pernah menutup teleponnya karena tidak kuat menahan tawa ketika kugoda, seorang gadis yang ketika sekian lama berpisah dan saat bertemu lagi telah bersama seorang laki-laki yang tidak asing bagiku—dan dia langsung mencium tanganku… Saya heran, kenapa sungkem?? Ternyata dia sedang berbahagia dengan kekasihnya. Kasmaran: sejauh mana kau dikejar/mengejar cinta? Dan kini, sebentar lagi dia akan bersanding dengan Bintang; seorang temanku yang pernah bersama menjalani suka dan duka bersekolah memakai celana pendek warna biru dengan baju putih yang kini sudah entah di mana.

Menjawab perjalanan sang waktu, cobaan cinta yang pernah mereka berdua hadapi kini telah berlalu dan di penghujung tahun ini ternyata mereka berdua akhirnya bersatu.

“Doakan ya A biar lancar…”, pinta Wulan dalam sebuah kesempatan.

“Insya Allah De, SUKSES!!!”, jawabku seketika. Wulan memang minta dipanggil Ade, karena ia menganggapku sebagai kakaknya. Meskipun satu kelas, umurku memang di atasnya. Sementara seseorang yang ingin kupanggil “Ade” dan kuharap menjadi bidadari istana cintaku entah kapan akan datang dalam kehidupanku… yang kian hari ternyata kian dekat dengan sesuatu yang pasti akan kuhadapai, yakni ajal.

***

Selamat berbahagia sahabatku, selamat menempuh hidup baru

Saya pun bahagia menjadi perantara perjumpaan kalian

Hanya ini yang bisa saya persembahkan

Meski semua rasa tak bisa terucapkan

***

Demikianlah, tulisan ini hanya sekedar cerita tanpa makna dari seseorang yang tidak sengaja menjadi “Mbah Comblang” kepada sahabat-sahabatnya. Jika ada tutur kata yang tidak berkenan, mohon dimaafkan, karena saya hanyalah seorang yang sedang belajar mengenal dirinya… dan belajar mengenal Tuhannya. Seorang musafir yang sedang mampir ke dunia ini, yang suatu hari nanti pasti akan terbujur kaku dibungkus kain kafan, lalu ditimbun tanah, dan di atasnya akan tumbuh rumput-rumput dengan pohon kamboja di sampingnya. Apapun yang saya usahakan di kehidupan ini akan tiada makna di hadapan Allah ketika ridha-Nya bukan yang menjadi tujuan.

***

Pertanyaannya sekarang (bagi sahabat yang masih single) adalah kapan sahabat mau menikah?

Pengennya sich secepatnya, Mas. Tapi masalahnya: nggak ada yang mau sama aku?!”

“Hi..hi..hi… kesempatan. Sama aku mau nggak?”

“Ih, yang bener? Sama Masnya? Sorry ya, najis tralala dech!”

“Kenapa?”

“Idih, masa jeruk makan duren?? Aku mah normal Mas? Nggak hombrenk…!”

“Saya juga normal koq… Boleh diuji, lho…”

“Ih, Mas ini… genit dech! Istighfar Mas… istighfar…! Nyebut Mas… nyebut…! ”

“Buuut… buuuut…”

Koq begitu Mas…? Maksudnya nyebut nama Allah gitu loh…”

“Lho, kenapa?? Ini Rani kan??”

“Rani… Rani…, Rano tau!!!”

“Hah… kowe bandhot tho??? Hwakakak…!”

He..he..he.. Kang Arif salah sasaran lagi. Dan kini saya pun harus pergi…

“Selamat tinggal cinta…”

“Eh, Mas… Mas… mau ke mana?”

“Entahlah…”

“Tunggu Mas… jangan pergi dulu. Ini ada Ayat-Ayat Cinta – The Movie… bagus Mas…”

***

Aku rasa sungai Nil dan Mesir itu jodoh. Seneng ya kalau kita bisa bertemu dengan jodoh yang diberikan Tuhan dari langit…

Bukan dari langit Maria…, tapi dari hati… dekaaat sekali…

***

“Hmm, jadi lupa besok harus kondangan, hehehe…”

“???”

Capeee dech…!”

***

nobody can live a lonely life

everybody knows that…

you also do the same

***

* the end*


Responses

  1. embe…embe….
    (satu lagi masih di sini) hik hik..
    aman ucul (lepas) sih…
    makasih melu umpetan (sembunyi)🙂

    WOW..bidadari itu akan menjemput sang pangeran jika waktunya tepat. Dan akan jadi kenangan yang terindah dalam hidup ini. SO SWEET…

  2. WOW..bidadari itu akan menjemput sang pangeran jika waktunya tepat. Dan akan jadi kenangan yang terindah dalam hidup ini. SO SWEET…

    Pasangan terbaik adalah yang bisa menerima kekurangan dan kelebihan kita

  3. Duuh… membaca komentar Mas Arif, saya jadi tersipu malu (eh, tersipu kan untuk cewek ya…)

    Ulang ya, hehehe…

    Duuh… membaca komentar Mas Arif, saya jadi tersapu malu…
    Oh bidadari… So Sweet..:-)

    Tetap sembunyi ya Mas, coz masih bulan Dzulhijjah nich, hehehe…
    Yang jelas, harapan tidak boleh sirna.

    Salam SDA!

  4. Waaaah………semoga cepet sembuh….eh mup salah cepet datang bidadarinya ….ya Ohm !!!!!

    • Aamiiin…

      Semoga kebahagiaan dan rahmat-Nya selalu menyertai kita.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: