Oleh: Agus Riyanto | 6 Desember 2008

SEBUAH REFLEKSI: ANTARA KENANGAN, KERINDUAN DAN PENGHARAPAN


Malam Minggu biasanya menjadi malam yang ditunggu oleh sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Entah kenapa harus malam Minggu, kenapa tidak malam yang lain? Saya tidak tahu sejarahnya. Namun bagiku, malam Minggu dan malam-malam yang lain sama saja. Cuma malam Minggu kemarin agak sedikit beda. Tidak disangka saya ditelepon dan berdiskusi dengan seorang penulis handal yang karya-karyanya sangat mengagumkan. Dan belum selesai pembicaraan kami, ternyata datang dua sosok makhluk Tuhan yang mengapeli (sepertinya kata ini tidak baku) saya.

Hmm, datang langsung dua… Begitulah Allah jika memberi rejeki, bisa langsung tak terduga dan banyak pula. Tapi jangan pikir mata saya akan keluar logo “waru merah hatinya” karena ternyata yang datang tersebut adalah cowok semua.

Pembaca : “Idih, Mas Agus ternyata hombrenk ya…?”

Jawab : “Enak saja…! Mereka adalah dua teman seperjuanganku ketika aktif di sebuah organisasi. So, saya masih normal bro!”.

Kami pun membicarakan banyak hal, dari kondisi pergaulan remaja yang memprihatinkan dewasa ini, rencana-rencana menulis buku berikutnya, hingga teringat sebuah film yang sudah lama kami nanti-nantikan baru tayang malam itu juga di kota kami yang asri. Kami pun akhirnya sepakat besok malamnya nonton bersama.

***

Keesokan harinya, ba’da Maghrib dengan semangat ’45, kami berempat berangkat bersama menuju sebuah bioskop yang ternyata sudah dipadati pengunjung. Tidak bisa dihindari menghadapi antrian di depan loket karcis. Kami membagi diri menjadi dua kelompok; dua temanku ikut antri membeli tiket dan saya beserta seorang lagi membeli makanan ringan dan minuman sekenanya.

Setelah masuk ke dalam, tak dapat dihindari, kami pun duduk di sebelah cewek cakep yang setelah diselidiki ternyata tidak ada bodyguardnya alias bersama dengan teman cewek juga. Beberapa menit sebelum film diputar, ternyata ada sms yang masuk, “Pak Agus, katanya Salsa nggak mau ngaji kalau nggak sama Pak Agus…” Ternyata sms dari orang tua yang beberapa tahun lalu anaknya belajar Al Qur’an ke saya. Seorang anak laki-laki yang bandelnya luar biasa prima.

Beberapa saat kemudian film pun diputar. Sementara kedua mata saya tertuju ke layar, sepertinya mata teman saya agak berbeda; satunya menatap ke layar dan satunya lagi ke cewek cakep di sebelahnya. [Hmm, saya juga namun hanya sekilas. Semoga saja mata temanku itu tidak keseleo, hehehe…].

Sebuah film yang luar biasa. Anda pasti bisa menduganya. Ketika kami membaca novelnya, ada tawa yang beterbangan, juga ada tangis yang mengharukan. Dan ketika melihat filmnya, benar-benar kami—di satu sisi bisa tertawa lepas, sementara di sisi lain juga ada air mata yang menetes haru. Maklum, hidup di kota kecil jadi harus sedikit bersabar dalam menunggu tayangnya film tersebut.

Sambil menikmati adegan demi adegan di film tersebut, sesekali di benak ini terpikir bagaimana kemungkinan saya memenuhi keinginan orang tua yang sms tersebut. Kapan saya harus menyempatkan waktu…? Dan seterusnya. Dan rupanya film tersebut berkisah tentang dunia pendidikan, tentang perjuangan luar biasa anak-anak dari keluarga tak mampu untuk bersekolah dan mengenyam pendidikan yang layak (hampir sama dengan masa kecil kami), juga perjuangan guru luar biasa yang mendidik dengan hati nurani dan akhlak yang terpuji. Dari guru-guru seperti inilah kelak terlahir generasi pilihan. Pendek kata, film itu banyak memberikan inspirasi bagi siapa saja yang menontonnya.

***

Tanpa disadari, semua yang saya lihat di film tersebut membangkitkan beberapa kenangan indah, ketika beberapa tahun silam saat baru tamat SMA, ketika saya dituntut untuk belajar berorganisasi dan menjadi motor penggerak bagi teman-teman remaja masjid di sebuah desa tempat terjadinya kisah asmara antara Raden Kamandaka dan Dewi Ciptarasa berabad-abad lalu, di sebuah kerajaan yang dilupakan sejarah—yang ternyata menjadi desa kelahiran saya. Untuk menjalankan salah satu program yang ditetapkan organisasi kami; bersama teman-teman, kami mengajar anak-anak mengaji Al Qur’an dengan mendirikan TPQ (Taman Pendidikan Al Qur’an).

Dalam waktu singkat, di salah satu wilayah yang saya kelola, tercatat sekitar 40 santri putra dan putri yang ikut mengaji. Tapi beberapa bulan kemudian, ketika perjalanan takdir mengharuskan saya pergi jauh, ketika kata perpisahan tidak bisa dihindarkan, sebuah keadaan yang harus memisahkan 40 santri TPQ kami dengan pendirinya, karena saya harus terbang merantau ke negeri seberang. Sebuah perpisahan yang memilukan, walau kepergian ini bukan untuk selamanya, namun pergi untuk kembali. Dalam sebuah acara pamitan, kesedihan pun tak bisa terelakkan. Mata-mata mungil yang masih lugu, jiwa-jiwa yang haus ilmu itu pun harus merelakan kepergianku dengan tatapan yang seolah mengucapan “Selamat tinggal…, kami akan merindukanmu…”

Hampir dua tahun berlalu, kaki ini pun mendarat kembali di bumi pertiwi. Namun ketika kembali ke desaku, ternyata TPQ yang dulu ramai oleh anak-anak mengaji itu tinggal nama. Teman-teman yang saya serahi tanggung jawab untuk mengelola ternyata tidak dapat mempertahankannya. Semua telah pergi ketika saya telah kembali…

Jiwa mudaku yang saat itu lebih tertambat di masjid daripada di tempat lain mengembalikan saya aktif kembali, menemui rekan-rekan pengurus lain, dan akhirnya saya kembali menduduki pucuk pimpinan. Sungguh indah saat itu, bersama teman-teman–meskipun di saat yang sama saya sedang menderita patah hati—ternyata kehadiranku kembali bisa meramaikan masjid yang dirahmati Allah tersebut. Para remaja dan muda-mudi antusias kembali menjadikan masjid itu menjadi pusat kegiatan. Berbagai kegiatan pun kami laksanakan, hingga pengajian-pengajian akbar di hari-hari besar Islam. Walau beberapa pengurus terjangkit virus cinlok (cinta lokasi), saya lebih fokus untuk memajukan organisasi. Dan tugas baru pun datang lagi…

Dengan dorongan penuh para senior dan dukungan teman-teman, kami pun membangkitkan kembali TPQ-TPQ yang untuk beberapa lama sempat mati. Bahkan kali ini kami pun ternyata harus menghidupkan kembali Madrasah Diniyah yang sejak lama telah tiada. Sungguh perjuangan yang berat bagi kami—anak-anak muda yang sedang melakukan pencarian diri.

Saat-saat pembelajaran yang penuh makna dan tak terlupakan. Ketika anak-anak muda seusia kami sedang sibuk pacaran, di satu sudut bumi yang lain kami berjuang melawan diri sendiri (hawa nafsu) dan keadaan demi perjuangan yang ingin mendapat keridhaan-Nya. Di saat itu, saat diri ini masih terlalu hijau, ternyata saat-saat di mana saya–yang sangat terbatas ilmunya—sedang menjalani pembelajaran kehidupan dengan menjadi seorang Kepala Madrasah Diniyah dan Direktur TPQ dengan santri mencapai 130 anak. Saat di mana kepala ini sering pening dan banyak kunang-kunang beterbangan di atas kepala. Apa yang bisa saya lakukan? Apa yang seharusnya saya lakukan? Dan apa yang harus saya lakukan? Karena… aku ini siapa???

Hari-hari di saat itu adalah hari di mana kami penuhi waktu dengan kegiatan positif. Sebagian teman yang masih pelajar SMA–juga saya yang sedang belajar sedikit ilmu komputer di sebagian hari dan mengajar di sebuah sekolah di pagi hari—menyempatkan diri di sebagian waktu sisa kami mengajar sedikit ilmu kepada adik-adik kami dengan aneka karakternya.

***

Waktu yang terus berlalu seharusnya membuat kita bertambah ilmu

***

Hari-hari bersama anak-anak yang masih bersih dari dosa, bersama-sama mengaji ilmu agama dan belajar Al Qur’an, ada tawa, ada keseriusan, juga ada anak trouble maker yang menjengkelkan dan menguji kesabaran, adalah salah satu keindahan yang bisa dilewati di masa pencarian diri kami. Meski dari situ saya menjadi semakin merasa bodoh dan belum pantas mengemban amanah yang berat itu, semua membawa hikmah bagi pembelajaran kehidupan ini. Betapa kita harus memiliki cukup ilmu, baik untuk meraih kebahagiaan dunia, juga kebahagiaan akhirat yang kekal abadi. Dan semakin kita mendalami agama maka kita akan tahu semakin banyak yang belum kita ketahui dan kita pahami. Sadarlah kita bahwa ilmu Allah itu bak lautan luas yang tiada bertepi. Jika sekarang kita hanya tahu yang sepersekian tetes dari lautan itu, tidakkah kita ingin meneguk yang lain lagi?

Setelah anak-anak sedang semangat-semangatnya dan jumlahnya pun membludak, amanah itu pun kami serahkan kepada orang yang kami pandang pantas memimpin kami, yang umurnya 20 tahun di atas saya dan punya bekal ilmu yang cukup setelah melalui rapat yang dihadiri tokoh dan sesepuh masyarakat. Kami sadar yang muda-muda ini masih harus banyak belajar dan terus belajar, meskipun figur pemimpin yang kami pilih tidak membawa kemajuan seperti yang kami harapkan, namun justru sebaliknya.

Di satu sisi kami pun lebih fokus mengajar santri-santri mengaji Al Qur’an di TPQ yang jumlahnya mencapai 60 anak. Hari-hari kami mengajar Al Qur’an, wudlu, shalat, doa-doa harian, dan lainnya menjadi kenangan tak terlupakan. Terutama saat bulan Ramadhan tiba, bersama ratusan anak mengadakan buka bersama. Ada keceriaan, ada kesyahduan dan ada kasih Tuhan di sudut-sudut mata yang menikmati waktu dengan bahagia.

Perputaran waktu memang kadang membawa realitas yang berbeda. Demikian juga saat-saat sedih tatkala melihat satu demi satu sahabat-sahabat seperjuangan saya harus pergi jauh demi tuntutan masa depan, meninggalkan jiwa ini bersama mata anak-anak yang masih polos dan lugu—yang belum tahu kenyataan hidup setelah mereka dewasa–yang seolah berkata, “Ajari kami, meski hanya untuk bisa shalat dan membaca Al Qur’an…”

Setelah rutinitas berganti dan kesibukan tidak bisa terelakkan, dengan berat hati saya pun harus pelan-pelan meninggalkan teman yang masih punya waktu. Apalah daya, figur seorang pemimpin ternyata sangat mempengaruhi sebuah perjuangan. Saat yang di depan harus menjalankan tugas lain, kenapa tiada kunjung datang penggantinya???

Terima kasih untuk sahabat-sahabatku yang dulu berjuang bersama

Meskipun apa yang kita lakukan mungkin belum punya makna,

Saya yakin Dia mencatat amal kita yang tiada sempurna

Dan saat kita sudah cukup bekal, kita akan kembali lagi

Dengan langkah yang lebih pasti…

Yah, benar kawan… kita pasti akan kembali! Saya memang harus sementara melepas panggilan “Pak Guru” yang pernah lekat di telinga saya. Saya memang harus berhenti dari profesi guru di “sekolah formal” maupun guru bagi adik-adik kita yang ingin mengaji. Saya harus terus melangkah karena saya tidak ingin menjadi guru yang menggantungkan hidup pada pemerintah dan mengharap tetap dibayar meskipun saya sudah tidak bekerja lagi. Saya tidak ingin menjadi guru karena mendambakan keamanan kerja di tengah-tengah kekacauan ekonomi yang melanda. Saya tidak ingin menjadi guru yang mengajarnya tidak ikhlas karena sedikitnya bayaran yang diterima. Saya tidak ingin menjadi guru yang terikat kurikulum yang hanya mengajarkan satu macam kecerdasan saja. Saya tidak ingin menjadi guru yang hanya mengajarkan murid-murid menjawab soal-soal ulangan dan ujian sementara saya sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan Allah yang diulang-ulang dalam Surat Ar Rahman, “Fabiayyi aalaa-i rabbikuma tukadzdzibaan…?”

Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” [QS. Ar Rahmaan]

Saya ingin menjadi “guru” seperti apa yang tertulis di baris paling akhir artikel ini!

***

Keesokan harinya—setelah malamnya kami menonton film yang tidak biasa tersebut–ternyata saya mendapat sms lagi, tapi dengan isi yang bertolak belakang, “Mau mulai ngaji kapan???” Toeng…! Ternyata dari guru/ustadz saya. Kebetulan sudah cukup lama, karena kesibukan dan kegiatan lain saya tidak berangkat mengaji.

Jadi teringat pesan salah satu tokoh guru dalam film di atas, “Jangan pernah menyerah…!

Yah, benar sekali! Ternyata selama ini saya sering menyerah. Saya sering berdalih kelelahan…, tugas seabrek…, banyak acara lain, dan sebagainya yang semuanya itu mendukung rasa malas saya untuk melakukan hal yang seharusnya saya lakukan—meskipun malas itu hanya untuk merebahkan badan mengusir segala kepenatan. Yang semua itu membuat saya terkadang meninggalkan saat-saat terbaik yang mungkin bisa saya lewati dalam hidup ini.

Suara Hati Seorang Guru

Ketika seorang gadis kecil mengharap saya, dan hanya saya, berkenan mengajarkannya mengaji Al Qur’an. Seorang gadis kecil yang cantik dan lucu, yang beberapa tahun lalu selalu menyongsong kedatanganku, kemudian berebut mencium tanganku. Ketika seorang anak laki-laki yang menjadi kakaknya dipercayakan kepada saya untuk belajar membaca kitab suci-Nya. Anak laki-laki yang sebenarnya cerdas, namun bandel luar biasa.

Salsabila, seorang gadis kecil yang selalu tertawa polos dan berteriak menyapa, “Pak Guluuu…!” di rumah dan di mana pun ketika bertemu, meskipun mulutnya belum bisa melafalkan beberapa huruf dengan benar, terutama huruf “R”. Ketika aku mengajar kakakmu yang bandel luar biasa, yang pernah menguji kesabaranku hingga titik penghabisan, kau hadir dengan senyum dan tawamu yang polos. Tingkahmu yang lucu membuatku terhibur di saat-saat hati ini ingin berkata “menyerah” mengatasi kakakmu. Kadang kau duduk di pangkuanku dan memperhatikan kakakmu melafalkan huruf demi huruf hijaiyah. Kadang kau menirukan suara kakakmu menghafalkan bacaan shalat, doa-doa maupun surat-surat pendek dalam Juz ‘Amma. Terkadang tingkahmu membuat aku dan kakakmu tertawa terpingkal-pingkal… Kadang kau menangis karena ulah kakakmu. Kamu memang anak yang aktif, tapi lebih sering membuatku terseyum dan tertawa geli. Dan ternyata sekarang kamu sudah cukup besar ya…, sudah berani bilang sama ibu-bapakmu kalau mengaji maunya sama aku. Setelah aku pikir-pikir, hanya sedikit murid yang berkesan seperti kamu, aku pun menjawab tawaran bapak-ibumu dengan “Insya Allah, saya akan (mengusahakan) mengajarnya”, meskipun aku belum tahu kapan waktu untukmu, dan kamu pun berkata, “Yess! Kalau sama Pak Agus, Salsa mau ngaji…” Begitu yang bapak-ibumu ceritakan padaku, membuat kesan tersendiri di hatiku—beberapa tahun setelah aku berhasil menaklukkan kakakmu yang bandel itu. (Yang sebenarnya terjadi, saya yang berhasil mengalahkan diri saya sendiri ketika hampir menyerah, dan tetap mengajar anak itu minimal bisa membaca Al Qur’an sesuai dengan dasar ilmu tajwid yang saya kuasai, hingga akhirnya waktuku tidak bisa saya sisakan untuk mengajarnya lagi).

Tuhan Menyuruhmu untuk Terus Belajar (dan atau Mengajar)

Dengan dalih lelah setelah kerja seharian. Dan di akhir pekan harus mengikuti kelas khusus (Sabtu – Minggu), sementara malam pun harus pergi memperdalam ilmu yang lain. Semua itu butuh tekad yang kuat dan taufik dari-Nya. (Taufik adalah hidayah Allah yang membuat kita melakukan sesuatu).

Salsabila mungkin menjadi gambaran sosok kekasih Ilahi, seorang gadis kecil yang suci dari dosa, yang ingin belajar membaca kitab suci-Nya, yang karena kesucian dan keluguannya mampu membuat saya bercermin diri. Ketika di sebagian hariku (8 – 10 jam) saya habiskan untuk bekerja, dan malam pun pada pukul 21.00 saya harus keluar lagi menimba ilmu di tempat berjarak ± 4 km dari rumah juga untuk belajar kibat suci-Nya, dan lagi di akhir pekan—saat di mana sebagian orang menggunakannya untuk beristirahat—saya juga masih harus belajar ilmu yang lain; duduk manis di sebuah kelas dengan mata menahan kantuk, sementara di atas kepala saya terbang berputar-putar kunang-kunang menghiasi tatapan mata saya ke depan mencermati penjelasan dosen tentang Statistika, Ekonometrika, dan sejenisnya dengan tatapan mata yang satu ke kiri dan satunya lagi ke kanan… Yang kadang membuat saya terlupa akan hal-hal terindah dalam hidup saya yang pernah ada. Salsabila mampu memberi cermin, betapa diri ini harus selalu mengingat-Nya, mempelajari kitab suci-Nya atau mengajarkannya kepada mereka yang belum bisa. Salsa dan saya sama… sama-sama akan selalu belajar!

<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE AR-SA MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–>

Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya[HR. Bukhari – Muslim]

Salsabila kembali hadir dalam benakku, di malam saya dimintai mengajarkan Al Qur’an dan di siang harinya guru saya juga menanyakan kapan saya berangkat mengaji lagi… Semua seolah sudah diatur. Baru sebentar saya berhenti dengan dalih urusan dunia yang menguras sebagian energi saya, Dia seolah menyadarkan nurani saya bahwa Dia masih ada di sisiku, bahkan sangat dekat. Dan saya pun seharusnya berteriak, “Saya tidak boleh menyerah…!

Yah, menyerah kepada diri sendiri. Menyerah kepada keterbatasan diri yang sesungguhnya menjadi ujian. Atau menyerah kepada bujuk rayu syetan yang selalu mengajak kepada kesia-siaan dan kemunkaran. Demikian pula menyerah ketika saya tidak bisa memenuhi undangan presentasi character building dari seorang sahabat di luar pulau Jawa.

**

Bagi sahabat-sahabat yang sering berkeluh-kesah, baik via sms, email maupun secara langsung,

Semoga tulisan ini ada manfaatnya bagi kalian

**

Bagi yang Hatinya Terluka: Tidak Pantas Merasa Patah Hati

Tiba-tiba dalam diri ini ada kerinduan yang merasuk, di saat menjalani adegan demi adegan kehidupan. Teringat kembali ketika datang ke sebuah rumah, ada sesosok gadis kecil berlari menyongsong kedatanganku, kemudian mencium tanganku. Atau ketika di masjid setelah selesai mengaji, puluhan anak berebut mencium tanganku. Itu adalah sebuah keindahan bagi saya yang di satu sisi sering dilukai wanita ini, dan tidak akan pernah ada niat membalasnya ke orang lain. Hingga tidak kurang dari lima orang telah berusaha menjodohkan saya… [Ini ada Mbah Comblang: Dicomblangin… Apa jadinya??? Tentang comblang-mencomblang; baca artikel berjudul “Ketika Cinta Diuji Part 1”].

Dan Tuhan memang Maha Adil, ketika hati ini harus tersayat luka… ketika mata ini tidak sanggup menitikkan air mata karena sebagai seorang laki-laki saya harus tegar meski sedahsyat apa pun badai datang menerpa, ada seratus lebih hamba-Nya yang masih suci dari dosa dan lugu mencium tangan ini, meneguhkan diri bahwa Dia lebih mencintai saya; lebih mengasihi daripada wanita yang ingin dianya mengasihi saya.

Tidak pantas bagi kita untuk bersedih ketika kita harus kehilangan sesuatu yang berharga di hati. Kita harus bersyukur karena selalu ada pengganti yang lebih baik. Ada kasih yang lebih murni dan pengabdian yang lebih mulia. Yang tidak pernah boleh hilang dari hati kita adalah iman!

Untuk itu, paragraph ini saya peruntukkan untuk sahabat-sahabatku, terutama yang pernah berjuang bersamaku, hingga di suatu saat kita sampai tidur di masjid. Sementara di sisi lain kita pun pernah dengan penuh suka cita hiking bersama, jalan kaki ke air terjun “Curug Cipendok” dan juga ke Pancuran Pitu di lereng Gunung Slamet—bersama dalam suka dan duka dalam persahabatan yang semoga diridhai-Nya. Jika kalian pernah patah hati dan “rasa sakit”-nya sampai sekarang masih ada, segeralah sirnakan “sakit” itu karena sesungguhnya Dia lebih mencintai kita, lebih menyayangi kita, lebih mengasihi kita. Siapa lagi kalau Dia bukan Allah SWT?

Jika hati kita masih atau pernah terluka, jangan ijinkan orang lain melukai hati kita lagi karena sesungguhnya hati kita terluka karena kita mengijinkan orang lain melukainya. Sekarang, mari kita menjadi guru bagi diri kita sendiri untuk bisa lebih mendekatkan diri kepada-Nya, bisa sedikit ma’rifat (mengenal) diri-Nya, dan bisa mempersembahkan amal terbaik untuk bekal berjumpa dengan-Nya di alam keabadian.

***

Hmm, siapa lagi wanita yang akan melukai hati saya???

“Saya Mas!”

“Hah, kamu… Are you sure?”

“Saya akan merobek-robek hatimu…!”

“Yang benar? Tapi syair berikut untukmu, lho…”

***

Dengan sayap khayalan

Ingin terbang ke sana

Membawa cinta sebesar dunia

Bukti cintaku hanya untuk dirimu

‘Tuk selamanya…

***

“Sudah Mas… Stop… Stop… jangan diteruskan!”

“Kenapa?”

“Perutku jadi mual. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dikeluarkan…”

“Ah, saya nggak peduli… Ini lanjutannya, simak baik-baik!”

***

Kesunyian ini terlalu indah

Tanpa dirimu ada di sini

Andai kau tahu dalam cintaku

Kepada dirimu…

***

“Aduuuh… saya nggak tahan, Mas… Oeekkkk…!”

“Waduh… kamu tadi makan apa? Koq jadi begini… Ini apa? Lho koq seperti rumput… Memang tadi tidak dikunyah ya?”

“*^%&*#@$?!)(+^!#**~”

“???”

***

 

Sebagai penutup artikel ini, bagi sahabat-sahabat yang mungkin di hati kecilnya ada niat menjadi seorang “guru”, berikut saya kutipkan kata bijak dari William A. Ward sebagai bahan renungan. Dan pertanyaan terakhir saya: Anda ingin menjadi guru yang mana?

Mediocre teacher tells

Good teacher explains

Superior teacher demonstrates

Great teacher inspires

Iklan

Responses

  1. pendidikan di indonesia masih minim. (Kurang sadar pendidikan). Hanya sebatas ijazah.

    Pendidikan harus terus berlanjut. Perlu pionir-pionir yang tahan terhadap godaan dan bermental pejuang.

    sedih dan bahagia pendidikan terletak pada aplikasi
    tidak boleh menyerah dengan keterbatasan.

    Musuh utama diri kita adalah diri kita sendiri. Nafsu yang mengajak untuk terlena. Padahal masih banyak tugas yang harus diselesaikan di sana…..

  2. Terima kasih untuk sahabat yang sudah mampir.:-)

    Di kesempatan ini juga saya mohon maaf kepada beberapa sahabat yang pertanyaannya belum sempat saya jawab, dan telah konfirmasi lagi ke saya. Inya Allah pertanyaan Anda sudah ada di waiting list pertanyaan yang sedang saya coba untuk menjawabnya.

    Oh ya, sekarang dalam suasana Idul Adha… Semoga masih ada di hati kita semangat untuk berkorban. Untuk siapa? Untuk keluarga, masyarakat, bangsa dan agama–apa pun posisi kita saat ini.

    Ini saya juga dapat sms pagi-pagi sekali dari seorang sahabat saya yang ternyata sampai sekarang belum juga “waras”… Sms ini untuk Anda juga ya, hehehe…

    “Usahain dalam waktu dekat ini kamu jaga kesehatan dan banyak makan ya… Aku nggak mau pada waktunya nanti kamu: ~kurus, ~nggak bertenaga, dan ~sakit-saktian….
    Tanda sayang dari:
    PANITIA QURBAN.”

    Terima kasih untuk sahabat-sahabat yang selalu membuat saya bisa tersenyum.:-)

    Salam SDA!

  3. “Selamat hari Raya Idul Adha” —–from fans kak rindu juga & all about Japan too :XD

  4. It’s so inspiring. Terus terang saya lebih suka tulisan mas di sini daripada di andriewongso.com or spp. Bagi saya orisinilitas dan gaya tulisan di blog ini lebih mengalir dari nurani. Good Job…

    Mungkin suatu saat kita bisa berduet buat buku (seru kali ya??)…

    Salam Inspirasi

    Irawan Senda

  5. Mas Senda, saya juga kagum pada anda.:-)
    Masih sangat muda, tapi sudah luar biasa prima!

    Duet nulis buku…?
    Wah, pasti seru donk!

    Salam SDA!

  6. saya kenal mas Agus Riyanto yang biasanya berinisial AR dari temenku (Fitriana PR) yang ada di semarang.Kami kagum dan ingin seperti anda dalam semangat disegala bidang kehidupan (dunia dan akherat).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: