Oleh: Agus Riyanto | 24 November 2008

OH, BEAUTY OF MY HEART


*** Tiada senyum seindah senyummu ***

Hari Sabtu, tanggal 4 Oktober 2008 adalah hari bahagia bagi keluarga saya. Selain bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri baru saja berlalu dengan penuh berkah dan kedamaian, ternyata pada hari itu, tepatnya ba’da Shubuh, lahirlah seorang bayi montok dengan berat 3,9 kg dan panjang 48 cm dengan sehat, selamat, dan sempurna—hadir sebagai cucu pertama di keluarga kami yang bersahaja. Tangis sesosok bayi yang masih merah, montok, ganteng dan lucu memecah kesunyian pagi. Dan tambah bersyukur lagi melihat ibu sang bayi tetap sehat wal afiat setelah menjalani proses persalinan–yang mempertaruhkan hidup dan mati—dengan lancar secara alami di rumah bersalin milik seorang bidan yang sangat ramah.

Pada hari pertama, saya belum berani menggendongnya. Dan untuk hari berikutnya, untuk pertama kali saya menggendong sang bayi montok yang masih merah itu dengan sangat hati-hati dalam dekapan kasih sayangku yang hangat. Kupandangi wajahnya yang masih polos dan suci dengan tatapan bahagia. Mungkin dulu saya seperti anak yang sedang kugendong ini. Sungguh bayi ini sangat rupawan. Sungguh sebuah karunia Tuhan yang telah dinanti kehadirannya selama sembilan bulan sembilan hari lamanya; tidak hanya oleh ibunya, tapi juga oleh seluruh anggota keluarga.

Beberapa hari setelah itu, saya pun sibuk mencari arti kata-kata yang punya “makna” dan menyusunnya menjadi sekitar 10 nama, kemudian saya serahkan kepada sang ibu untuk dipertimbangkan mana yang paling ia suka. Revisi demi revisi dilakukan, hingga akhirnya tersusunlah sebuah nama yang diambil dari kata-kata yang kupilih. Ada nama terakhir dari alternatif nama yang saya sediakan yang sama sekali tidak dilirik oleh ibu si jabang bayi karena nama ini seolah menggambarkan bahwa ide saya sudah mentok (habis), yakni nama “Raden Ngabei Ronggo Darsono”. Sungguh nama ini saya tulis dengan senyum-senyum sendiri plus cekikikan menahan tawa. Nama yang terinspirasi dari nama “Raden Ngabei Ronggo Warsito”, pujangga Jawa era Kerajaan Mataram (kalau tidak salah) itu adalah nama yang akan sangat janggal digunakan di abad teknologi informasi seperti saat ini. Dan alhamdulillah, nama tersebut memang tidak disentuh sedikit pun.

Setelah genap seminggu, nama baru sang bayi pun diumumkan ke seantero tentangga dan si mungil but montok itu pun sudah punya nama panggilan kesayangan untuk kami. “Bayu”, demikian sang ibu memanggilnya. Saya sendiri, Embah Putri (Eyang, Nenek, Grandmother) dan bapaknya lebih suka memanggilnya dengan panggilan sayang “Adhi”. Sedangkan suku kata nama terakhirnya diambil dari Asma-ul Husna milik Allah SWT.

Hari-demi hari setelah itu adalah hari penuh kasih di mana ada tangis di tengah malam memecah kesunyian. Kadang tangis itu terdengar merdu di saat-saat sepertiga malam yang akhir saya sedang berdiri, sedang ruku, bahkan sedang sujud dalam munajat-munajat yang penuh roja’ dan khauf. Kadang tangis itu menggema bersaing dengan adzan Shubuh yang memanggil hamba-hamba Allah untuk bangun, mengambil air wudlu dan kemudian berdiri dalam shaf-shaf menahan kantuk namun penuh kedamaian.

Adhi… kini kau hadir temani hariku yang kadang terasa sunyi. (Maklum, adik-adik sedang pergi merantau ke ibukota). Dan kini kaulah yang pertama kali kucari setelah pulang kerja menjelang Maghrib atau bahkan terkadang ba’da Isya, karena aku rindu ingin mencium dan menggendongmu…

Dhi, kau panggil aku apa ya? Mas Dhe…? Hmm, itu terdengar janggal, tidak lazim. Raden Kamandaka? Hmm, itu juga panggilan Om-mu untuk bercandaan. Ok, santai saja Dhi, kau boleh panggi aku Pak Dhe aja ya… itulah tepatnya.

Adhi adalah anak pertama dari adik perempuanku satu-satunya yang saya anggap seperti anak sendiri: My Junior. Maklum, ternyata sampai saat ini Tuhan belum menakdirkan saya bertemu dan bersatu dengan jodoh pilihan-Nya dalam mahligai indah pernikahan yang bisa memproduksi keturunan. Dan ternyata saya tidak bisa beranak seorang diri. [Mendengar kenyataan mengenaskan yang satu ini, beberapa teman yang tadinya duduk manis tiba-tiba melompat-lompat seperti kegirangan atau gembira mendapat durian runtuh… Mungkin mereka berpikir, “Yess! Masih ada teman senasib, nich!” Hmm, semoga saja mereka tidak kejatuhan buah durian!].

Aku pun sekarang senang sekali menggendongmu, Dhi… Ternyata badanmu yang sehat dan kuat dalam meronta-ronta bikin Pak Dhe cepat merasa cape, apalagi Mbah Putrimu. Tapi kamu pasti suka ketika Pak Dhe menggendong sambil berayun-ayun lembut agar kamu mau tidur sambil bersenandung, ”Nina bobo… ooh nina bobo, kalo tidak bobo digigit kebo” berkali-kali agar kau mengantuk dan tertidur. Aku lihat ekspresi wajahmu menatap agak curiga, seperti berpikir ada yang kurang beres dengan syair lagu yang Pak Dhe senandungkan untukmu. He..he..he.. yang penting suara Pak Dhemu merdu kan…?

Tahu nggak Dhi… Pak Dhe adalah orang pertama yang bisa bikin kamu tertawa. Kamu paling suka bila Pak Dhe mencubit halus dagu atau pipimu yang montok dan menggemaskan. Kamu akan tersenyum dan tertawa dengan sangat manis, meskipun sepertinya kamu baru bisa melihat cahaya. Sepertinya kamu belum bisa melihat wajah Pak Dhe-mu yang mirip coverboy… Maksudnya coverboy majalah “Pesona Makhluk Langka”, Dhi… jangan cemberut gitu. Pak Dhe nggak lagi narsis koq, hehehe…

Tapi semakin hari kamu semakin bisa diajak bercanda lho… sekarang senyummu semakin manis dan tawamu semakin lebar. Pak Dhe memang suka nakal ya… nggangguin kamu tidur biar bisa main sama Pak Dhe. Tapi kalau kamu nangis, ya Pak Dhe akan kabur… habis kamunya nggak mau diem sich. Piss Dhi, keep smile!

Rambutmu itu lho Dhi… kereeen! Hitam, lembut dan subur. Mirip rambut Pak Dhe waktu kecil, maklum… rambut iklah shampoo, Dhi. Maksudnya jadi model iklan shampoo ketika belum pakai shampoo, gitu.

Dan setelah genap empat puluh hari kehadiranmu di planet bumi ini, rambutmu pun dicukur habis… kamu jadi gundul, Dhi…

I’m sorry ya Dhi, untuk sementara panggilan sayangku padamu dirubah dulu. Ijinkan Pak Dhe manggil kamu “Ndul”, singkatan dari “Si Gundul”, hehehe… jangan marah lho, Dhi.

Hmm, Pak Dhe jadi teringat waktu kamu masih dalam perut ibumu. Waktu itu, Pak Dhe-mu yang satu lagi (kakak persis ibumu) sedang pulang dari ibukota. Dia itu rese juga lho Dhi… masa sambil ngelus-ngelus perut ibumu dia bilang begini, “Nak, di dalam yang tenang ya… jangan nendang-nendang terus, jangan ribut, kasihan ibumu. Ntar jika sudah lahir, kalau kamu cowok, jadilah seperti Pak Dhe ya, yang ganteng, keren, baik hati, dan (bla..bla..bla…). Tapi kalau kamu cewek, jangan seperti ibumu ya, yang ganjen, kecilnya suka ngompol, … (bla..bla..bla..), jadilah cewek yang kalem, alim, shalehah dan berbakti pada orang tua”. Ibumu bersungut-sungut mendengarkannya. Ternyata kamu cowok ya Dhi. Paling ganteng di antara bayi-bayi cantik yang terlahir hampir bersamaan denganmu. Ada Danesha Auliya Jati, Maya Ari Shinta, Lala, dan lain-lain.

Om-mu (adik ibumu) yang belum lama berangkat merantau ke ibukota juga kalau lagi telepon selalu nanyain kamu lho, “Adhi sudah bisa diajak bercanda belum?” Sekarang sudah pintar ya Dhi… Om-mu yang satu ini juga keterlaluan, Dhi. Kadang dia pura-pura baik sama Pak Dhe dan ngasih roti atau makanan lezat lainnya, tapi ternyata di dalamnya sudah dikasih cabai. Begitu Pak Dhe makan, oeekkk… ternyata Pak Dhe lagi dikerjain!

Kalau dipikir-pikir, Om dan Pak Dhe-mu nggak ada yang waras ya Dhi…

Di suatu tengah malam, Pak Dhe terbangun untuk shalat malam… ternyata kamu belum tidur, Dhi. Kamu sedang bercanda dengan nenek tercinta. Pak Dhe jadi ikut main sama kamu. Mendengar cerita dan candaan Pak Dhe, kamu tertawa lucu nan ceria. Kamu benar-benar terlihat handsome, lucu dan menggemaskan.

Dan di hari Minggu pagi kemarin Pak Dhe mengajakmu jalan-jalan ke luar menghirup udara segar. Oh indahnya… tapi matamu seperti silau melihat cerahnya pagi di bumi kota Satria. Mulutmu yang mungil tersenyum mendengar cerita dan senandung yang Pak Dhe lantunkan untukmu. Setelah cukup lama jalan-jalan kemudian pulang ke rumah, untuk pertama kalinya Pak Dhe bisa menggendongmu sampai kamu tertidur. Kamu akhirnya tertidur di pangkuan Pak Dhe. Tidur dengan penuh kedamaian, yang penting jangan ngompolin Pak Dhe ya.

Oh ya Dhi, semoga kamu bisa tumbuh menjadi anak/cucu kebanggaan keluarga. Jadilah anak yang berbakti pada orang tua, pembela agama Allah dan bisa ikut membangun negeri memberantas segala bentuk korupsi dan kemungkaran lainnya agar di era generasimu kelak telah terwujud Indonesia Jaya yang rakyatnya makmur dan sejahtera!

Ok, Dhi… acara main dan ndengerin cerita Pak Dhe sampai di sini dulu ya, nanti disambung lagi. Sekarang Adhi bobo dulu!

***

***

Sssst, jangan. berisik…!!! Adhi lagi bobo…

Iklan

Responses

  1. Ehm2, ada cewek cakep nyasar nich…:-)
    Apakah kira-kira hatinya juga cakep ya?
    Wajah cakep tapi hati berduri… kan mengerikan ya…

    Hati-hati ya… ntar diompolin Si Kecil yang kusayang.

  2. adik kecil yang manis. Senang sekali ya punya adik. Cuma mas..kalo belum pernah di pipisi itu belum sah. Tanda kelulusan jadi om harus dipipisi he..he..

  3. Wow…Mas Agus Riyanto sedang sangat berbahagia yaa. Asyiknya punya kemenakan lucu, ganteng, keren, dan pastinya pinter seperti Pak Dhe-nya… 😀

    Ayo Mas Agus…segera minta ke Allah SWT, supaya diberi jodoh wanita sholeha…kalau belum dapat juga, mesti “protes” ke Allah, kok nggak segera diberi jodoh ya. Kan Allah Maha segalanya, mestinya yaa cepat diberi jodoh… gitu… 🙂

    Eh…saya serious lho Mas Agus, soal “protes” ke Allah. Saya pun kadang-kadang juga melakukan “protes dan demo” kepada-NYA, jika permintaan saya kok nggak dikabulkan-NYA. Alhamdulillah, setelah itu DIA memberikan apa, yang kuminta.

    Nah, cara “protes dan demo” kepada-NYA itu terserah intuisi, naluri dan hati nurani masing-masing pribadi bersangkutan. InsyaAllah akan lebih didengar oleh-NYA. Amiin.

    Salam Luar Biasa Prima dari Surabaya,
    Wuryanano 🙂

  4. Ehm2, ada coverboy mampir nich…:-)
    Sepertinya Tora Ismanto…

    Boleh donk saya minta tanda kaki, hehehe…!
    Apa iya Mas, harus dipipisi dulu?
    Dalilnya dari mana itu? Dalilnya shahih apa tidak, hayo?
    Ok, ntar saya minta dipipisi dech…

    Buat Pak Wuryanano: Terima kasih saran dan support-nya yang luar biasa prima!

  5. Lho kok gak asing ya?Persis seperti yang kualami dan kurasakan,bedanya ini anakku sendiri(kami menikah di usia sangat muda),namanya juga BAYU,sekarang dia berumur 3,5th dan udah pandai membaca,,,abjad maupun arab,,,dan sekarang anak kedua kami lahir laki juga,bulan ramadhan kemarin pas puasa dapat 21hari,,,,segala puji hanya milik ALLAH,,,yang telah memberi kenikmatan kepada kami berdua dengan keturunan yang membanggakan kami,semoga bisa menjadi penolong kami di akhirat nanti,,serta penegak agama ALLAH,,Amiin,,

    • Sungguh bahagianya yang baru punya anak lagi…
      Semoga doanya dikabulkan.:-)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: