Oleh: Agus Riyanto | 16 November 2008

HIDUP MENGALIR SEPERTI AIR


Oleh : Final Prajnanta*

Banyak sekali artis terkenal atau public figure yang sering diwawancara wartawan mengenai falsafah hidupnya. Secara klise mayoritas menjawab “Saya akan menjalani hidup seperti air mengalir”. Kedengarannya enak, penuh filosofi dan sedikit puitis. Apakah anda setuju dengan ungkapan tersebut. Mengapa? Apa benar mengikuti aliran air akan membawa kita hidup layak? Mari kita kupas bersama.

Misal anda pengin punya target A. Kita jalani aja hidup apa adanya seperti aliran air. Seandainya aliran air bisa membawa kita sampai ke tempat tujuan yang kita inginkan, wah enak sekali. Seandainya pada saat air mengalir, kita tersangkut di ranting pepohonan di sungai, bagaimana? Atau menuju ke tempat yang tidak kita kehendaki?

Beberapa cerita di bawah ini semoga bisa memberikan inspirasi buat anda.

Sebut saja Vita, seorang gadis desa sekitar 300 km dari Jakarta. Vita memimpikan gemerlapnya kehidupan kota. Dengan bekal pendidikan SMA, Vita bermimpi bekerja ringan dengan bergelimang uang. Ketika ada tawaran bekerja dari rekannya yang sudah ”sukses” di Jakarta, Vita segera menyambar peluang tersebut. Tawaran pekerjaannya sebagai pramuniaga rokok ternyata hanya sekedar kedok belaka. Temannya ”sukses” bergelimang uang dengan kerja ringan karena melakukan pekerjaan sampingan sebagai penghibur “hidung belang”. Namanya toh hidup laksana air mengalir, Vita pun tidak keberatan melakukannya. Impiannya untuk hidup bergelimang uang yang penting tercapai walau jalan airnya tersangkut di lembah kemaksiatan. Vita tidak punya komitmen untuk mencapai goalnya dengan cara-cara yang terpuji!

Contoh lain kita ambilkan dari dunia pertanian. Kita amati petani-petani kita sering latah atau ikut-ikutan. Si Ahmad sukses menanam cabai di musim hujan. Perlu diketahui bahwa sangat sulit untuk sukses menanam cabai di musim hujan. Menanam cabai di musim hujan ibarat melawan arus. Hujan menyebabkan banyak buah yang rontok karena serangan lalat buah dan penyakit patek (Antrachnosa). Pedagang rame-rame mendatangi kebunnya saat itu. Cabainya dihargai Rp 10.000/kg, sementara biaya produksinya Rp 3.000/kg. Jadi, ada selisih Rp 7.000/kg. Bayangkan jika dia menanam 1 hektar yang kira-kira menghasilkan 10 ton cabai? Dalam waktu 3 bulan Ahmad meraup untung Rp 70.000.000 bukan? Musim berikutnya adalah akhir musim hujan, pengelolaan tanaman akan mudah karena musim hujan segera berakhir dan panenan terjadi di musim kemarau.

Ternyata tidak hanya Ahmad yang menanam cabai, semua petani di sekitarnya beralih dari padi ke cabai. Mengapa? Mereka hanyut dalam arus dan mimpi yang indah oleh keuntungan yang diperoleh Ahmad musim lalu. Lagian menanam cabainya lebih gampang karena masuk di musim kemarau. Karena gampang maka semua petani juga menanam. Akibatnya apa? Harga cabai di musim tersebut menjadi hancur, hanya Rp 3.500/kg. Jika saya sebagai petani, mengetahui semua petani menanam cabai maka saya harus berbeda dengan yang lain. Saya akan menanam semangka, kol bunga, melon, tomat atau tanaman lainnya. Jika semua menanam hal yang sama maka harga akan jatuh, hukum ekonomi mengatakan bahwa supply (penawaran) melebihi dari demand (permintaan).

Jika kita memiliki goal yang SMART, maka kita akan tahu ke mana arah yang kita tuju. Memerlukan komitmen dan perjuangan yang keras untuk mencapai goal kita. Di dunia ini tidak ada hasil optimal dengan perjuangan minimal. David. J. Schwartz pernah mengatakan bahwa ”Think little goals and expect little achievements. Think big goals and win big success.” (Pikirkan goal-goal yang kecil dan harapkan hasil yang kecil juga. Pikirkan goal-goal yang besar dan menangkan sukses yang besar pula!).

Kesimpulannya: jangan mengikuti aliran air, karena aliran air belum tentu membawa keberuntungan. Aliran air belum tentu membawa anda ke tujuan yang ingin anda capai!

*Penulis adalah seorang praktisi bisnis, motivator, dan penulis buku-buku bestseller. Bisa dihubungi melalui webblog http://warungmotivasi.blogspot.com atau email f_prajnanta@yahoo.co.id.


Responses

  1. Terima kasih Pak, atas support dan motivasinya selama ini. Bapak adalah “my best motivator”!

    Dan saya selalu menunggu launching buku Bapak yang terbaru…

    Salam SDA dari kota Satria!

  2. Thanks mas Agus atas postingan tulisan saya ini. Anak-anak muda seperti Anda ini adalah calon-calon pemimpin bangsa, saya percaya Anda kelak akan mampu mengangkat bangsa Indonesia dari keterpurukan, meminimalkan korupsi dan membangkitkan semangat budaya belajar. Sukses dan ingat selalu “Never give-up”!

    Salam never give-up,
    Final

  3. Terima kasih Pak!

    Semoga do’a dan harapan di atas juga untuk sahabat-sahabat generasi muda yang lain.

    Kalau bukan kita yang membangun Indonesia, siapa lagi?

  4. hidup memang harus fokus. Kalo ga fokus semua hilang. Semisal panas matahari bisa membakar kalo terfokuskan dengan sebuah kaca pembesar atau lup. Sama seperti hidup. Harus memiliki tujuan hidup yang kuat. Gitu kali ya….hehe

  5. Air dapat memperoleh sesuatu dari kelembutannya tanpa merusak dan mengacaukan karena bergerak sedikit demi sedikit, tetapi air dapat juga melubangi bebatuan yang keras dengan tetesannya. “Ingat hati setiap orang hanya dapat dibuka dengan kelembutan dan kasih bukan dengan paksaan dan kekerasan.

    Kekerasan hanya menimbulkan dendam dan paksaan hanya akan menimbulkan keinginan untuk membela diri”. Air selalu merubah bentuknya sesuai dengan lingkungannya, bersifat fleksibel dan tidak kaku karena itu ia dapat diterima oleh lingkungannya dan tidak ada yang bertentangan dengan dia.

    Air tidak putus asa meski mendapat halangan, air akan tetap mengalir mencari jalan meskipun melalui celah terkecil sekalipun. Dan sekalipun air mengalami suatu kemustahilan untuk mengatasi masalahnya, padanya masih dikaruniakan kemampuan untuk merubah diri menjadi uap


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: