Oleh: Agus Riyanto | 15 November 2008

SERI JATUH CINTA [1]: SIAPA YANG MAU PATAH HATI LAGI?



Tidak disangka artikel “Kiat Tabah Menjomblo” mendapat sambutan hangat dari sahabat pembaca dan banyak sms baru yang masuk. Tapi saya juga heran, dapat nomor hp-nya dari mana ya… [tanda tanya]. Padahal saya tidak mencantumkan dan nomor hp di artikel yang terdahulu juga telah didelete. But no problem, selama untuk kebaikan, mari kita bersama melakukan pembelajaran dalam menempuh detik demi detik kehidupan ini.

Terima kasih untuk sahabat pembaca yang telah memberikan apresiasi dan menjadi tetap tegar dalam menjomblo setelah membaca artikel tersebut, dan respons lainnya yang sangat positif. Meskipun begitu, bukannya saya menganjurkan untuk menjomblo terus. Ada juga sunnah Rasul yang lain yang harus kita ikuti. Untuk itu, di artikel ini akan kami kisahkah sedikit pengalaman “jatuh cinta” dari segudang love story yang ada, yang mungkin sama sekali tidak punya makna  bagi Anda yang kisah cintanya sangat romantis layaknya film-film India yang kebanyakan tidak masuk akal. Sesuai dengan judul di atas, untuk kali ini kami akan mengetengahkan love story yang tidak membahagiakan hanya sebagai bahan pembelajaran (bukan berarti semua isi gudang cerita seperti ini lho, hehehe… Kalau dicritain kisah yang sebaliknya, ntar dibilang narsis abiz…).

***

Jatuh cinta…, semua orang pasti pernah merasakan yang satu ini. Sebuah nuansa indah yang terjadi di dalam hati seseorang. Sebuah fenomena hati yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Bisa digambarkan orang yang sedang jatuh cinta, bola matanya berubah menjadi “waru merah hati”. Bahkan jatuh cinta bisa juga terjadi ketika kita masih bau kencur (plus bau popok, hehehe). Dan orang-orang bilang kepada kita saat itu, cinta kita adalah “cinta monyet”. Seiring berjalannya waktu, cinta kita pun terus bertumbuh, berkembang… dan sekarang akhirnya sudah menjadi “cinta gorila”. Wow, mengerikan…?!?

Jatuh cinta kadang menyiksa jika belum terungkapkan dan atau si dia belum mengetahui perasaan kita yang sesungguhnya. Juga akan sangat menyakitkan jika cinta itu tiada pernah terbalaskan. Tapi jika cinta itu datang hanya untuk mendatangkan luka, siapa yang akan mau merasakannya? (Tema-nya lagi patah hati… so, yang baca boleh sambil nangis sesenggukan. Tidak wajib!)

Sekarang, jika jatuh cinta itu hanya akan mendatangkan bahagia, maukah kita jatuh cinta lagi???

Di jaman dahulu kala (era manusia gua, hehehe…), sebagai seorang coverboy (khusus yang ini nggak usah dibahas atau dipertentangkan ya, please… Sebuah ungkapan yang bikin beberapa temanku yang sedang duduk manis tiba-tiba nungging dan menjulur-julurkan lidah seperti ada yang mau dimuntahkan…, nggak tahu kenapa?), saya juga pernah jatuh cinta pada seorang gadis, yang menurut saya anggun memesona. Ia gadis yang manis, taat beragama dan juga cerdas. Pendek kata, dia telah memenjarakan hati ini tanpa ijin si empunya hati. Entah mengapa bayang-bayang dirinya selalu menghantuiku; dan anehnya hantu yang satu ini tidak aku takuti sama sekali. Bayang dirinya hadir ketika aku sedang belajar, makan, minum, sesaat hendak tidur, mandi bahkan ketika sedang shalat menghadap Yang Maha Kuasa. Sungguh perasaan itu telah mengelabui dengan sangat halus lewat pori-pori hati. Itukah perangkap setan si durjana? Hingga ketika menghadap dan bersujud pada-Nya pun masih memikirkan selain Dia Yang Maha Esa? Apa lagi kalau sedang melamun…

Tanpa disadari si dia telah menyabotase seluruh alam sadarku. Membuai asa ingin selalu di dekatnya. Menumbuhkan benih rindu ingin selalu bertemu. Menyirami taman asmara di mana si dia seolah sedang bercengkerama di atasnya. “Andai kau jadi milikku, oh… dunia ini terasa bagai di surga”, mungkin demikian bisik hatiku di saat angan ini melambung tinggi ke puncak gunung kerinduan.

Ketika berpapasan dengannya, hati pun bergetar… dada berdegup kencang, dan mata nanar melihat dengan tatapan penuh harap. Tebar pesona… bagaimana aku bisa memikat hatinya? Salam mesra pun beterbangan walau disampaikan via teman dekatnya. Minta nomor hp, minta alamat, mencari tahu yang dia suka, memberikan perhatian ekstra, memberikan sesuatu yang mungkin akan berkesan di hatinya… Ah, apa lagi ya? Oh ya, setelah alamat sudah didapat, datangi rumahnya walau harus nyasar berkali-kali. [Jurus kuno… boleh dipraktekkan, boleh tidak!].

Dengan ditemani my best friend, kami pun berkelana mencari rumah si dia berbekal alamat ala kadarnya. Dan memang benar… kami memang harus nyasar berkali-kali sebelum akhirnya ketemu juga alamat yang dicari. Maklum, di perumahan luas yang padat, susah sekali bisa langsung ketemu dan pas. Nyasar adalah resiko, dan menemukan alamat si dia adalah hasil yang diinginkan. Keduanya berhasil dihadapi, demi bertemu dengan si dia.

Melalui proses pendekatan yang panjang dan melelahkan yang tidak bisa diceritakan dengan detail karena ini bukanlah novel, akhirnya kisah jatuh cintaku kala itu harus ber-ending, “Maafkan daku ya… aku sudah mencobanya, namun aku tidak bisa. Aku tidak bisa mencintaimu… Aku tidak bisa menerimamu…”. Mungkin demikian jika diungkapkan dengan bahasa lisan yang menaburkan kepiluan. Intinya semua itu berakhir dengan sad ending! Sontak tangisan hati membahana sampai membangunkan burung hantu yang sedang tidur di siang bolong. Malamnya beberapa nyamuk yang menjaga tidurku agar tidak nyenyak mungkin juga ikut menangis pilu… Cintaku berbuah duka.:-( [dilarang bersedih karena yang nulis juga sambil ketawa geli].

Cintaku kala itu yang seputih salju tiada berbalas cinta, berakhir dengan bertepuk tangan, namun hanya sebelah; sehingga yang dijumpai hanya kehampaan… “Mengapa aku tidak mati saja…?”, mungkin demikian bisik hatiku ketika itu. Sebuah jerit kepedihan dan keputusasaan. Dan rumput yang bergoyang pun ikut bersedih. Dukanya menyebar mewarnai langit yang tadinya biru berubah menjadi kelabu. Dan kerinduanku yang dulu berbuah pilu… [boleh menyeka air mata anda jika ada yang menetes… hwakakak… (bahasa tulis dari ekspresi tertawa terbahak-bahak/terpingkal-pingkal)].

Demikianlah sepenggal kisah masa lalu yang sudah menjadi kenangan. Kenangan suka dan duka yang teramu dalam perjalanan sang waktu. Semua ada hikmahnya, tinggal bagaimana kita menyikapi dan melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Namun itu dahulu,

sebelum aku bertemu dengan kamu… kekasihku

(Soundtrack “Otomatis Romantis”)

Jatuh cintaku waktu itu wajar dan umum seperti layaknya anak muda kebanyakan. Sebuah ketertarikan (baca: falling in love) kepada lawan jenis adalah normal. Yang tidak normal adalah tindakan tidak masuk akal ketika kita sedang jatuh cinta atau ketika cinta itu tidak mendapatkan balasan yang diinginkan si pejatuh cinta. Bisa disebutkan:

1. Cinta ditolak dukun beranak, eh… maksudnya “dukun bertindak”;

2. Bunuh diri karena patah hati;

3. Melarikan kepedihan pada minuman keras atau narkoba;

4. Menyakiti fisik atau psikis si dia yang telah melukai cinta kita;

5. Cinta berbuah zina;

6. Menyerahkan 100% cinta untuk sesama manusia;

7. Dan lain sebagainya.

Kenapa itu bisa terjadi?

Hal di atas terjadi karena pada kenyataannya kita terlalu mencintai sesuatu yang fana di atas semua cinta yang kita miliki (meskipun itu manusiawi). Kita melupakan bahwa ada yang lebih hak dan seharusnya kita cintai melebihi apa pun juga. Kita melupakan janji setia pada saat kita masih di alam ruh. Ketika kita bersaksi di hadapan Sang Pencipta bahwa hanya Dia satu-satunya Tuhan yang hak untuk disembah ketika kita berkelana di alam dunia. Dan hanya Dia satu-satunya Tuhan kita selama-lamanya. Dialah Allah ‘Azza wa Jalla.

Namun ketika kita sudah terlahir dan dan menjadi manusia dewasa, kebanyakan Tuhan kita berubah bentuk. Dia telah berwujud harta dan uang. Dia juga kadang menjelma menjadi tahta/jabatan. Ada juga yang berupa karier dan gelar kesarjanaan. Sementara yang lain berupa kekasih atau pasangan lawan jenis. Dan ada juga yang Tuhannya adalah hawa nafsunya sendiri. Semua itu adalah perhiasan dunia yang kadang menipu kita. Semua itu lebih kita perhatikan dan kita pentingkan daripada Dia Sang Pemberi Kehidupan. Kita sering melupakan Dia yang sebenarnya selalu menyertai kita karena cinta kita telah tertambat kepada selain Dia. Bahkan hanya secuil cinta yang tersisa untuk-Nya, dan itu pun malangnya terasa hanya ketika kita ditimpa musibah saja.

Setiap detik yang berlalu menghitung diriku bertanya padaku

Akankah sia-sia bila akhir waktu datang memanggilku

Kau jagalah, lindungilah, selamatkan aku…

(Opick)

Seperti dikisahkan di atas, patah hati memang pedih dan mengenaskan. Sepertinya anda pun tidak mau ikut-ikutan merasakannya. Jika saya diberi pilihan waktu itu, saya pun akan memilih untuk tidak patah hati. Are you sure? Pasti!

Dan sekarang pun saya tidak mau patah hati lagi!

Maka jatuh cintalah pada cinta yang tidak akan pernah mendatangkan duka. Jatuh cintalah pada cinta yang tidak pernah tidak berbalas. Jatuh cintalah pada cinta yang selalu ada dalam suka dan duka, dalam pahit dan manis hidup kita. Jatuh cintalah pada cinta yang tiada bertepi, walau bumi dan langit hancur luluh. Jatuh cintalah pada cinta yang bila kita mendekat sehasta, dia akan mendekat sedepa. Jatuh cintalah pada cinta yang bila kita mendekat sambil berjalan maka dia akan menyongsong cinta kita dengan berlari. Jatuh cintalah pada cinta yang akan menerangi relung hati kita yang terdalam. Jatuh cintalah pada cinta yang membuat hidup ini indah walau seribu luka menyayat tubuh dan jiwa.

Inilah jatuh cinta yang tidak mungkin patah hati!

Cinta kepada Sang Pemilik Cinta. Cinta kepada Dia yang sesungguhnya lebih dekat dari urat nadi di leher kita. Cinta kepada Dia yang tetap memberi kita napas dan mengijinkan jantung tetap berdetak, meskipun dosa-dosa kita sudah tidak terhitung jumlahnya (artinya kita masih diberi kesempatan untuk bertaubat). Cinta kepada Dia yang selalu membuka lebar-lebar pintu taubatnya bagi mereka yang mau bertaubat. Cinta kepada Dia yang menurunkan hujan dan menumbuhkan benih-benih. Cinta kepada Dia yang dalam shalat kita memohon, “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. Cinta kepada Dia yang dalam ruku’ kita selalu berdoa, “Maha Suci Tuhan yang Maha Agung dan segala puji bagi-Nya”. Cinta kepada Dia yang ketika bersujud kita selalu berdoa, “Maha Suci Tuhan yang Maha Tinggi dan segala puji bagi-Nya”.

Bisakah kita mencintai-Nya melebihi cinta kita kepada kekasih, kepada keluarga, kepada harta, kepada karier, kepada jabatan, dan kepada segala urusan dunia yang siang malam mati-matian kita perjuangkan?

Bisakah kita menjadikan cinta kepada-Nya sebagai landasan cinta kita kepada selain Dia? Karena bisakah kita hidup tanpa Dia? Tanpa rahmat dan kasih sayang-Nya?

Apakah cinta kita kepada segala sesuatu yang bisa kita lihat dan kita raba membuat cinta kita kepada-Nya tereliminasi?

Kenapa cinta dari relung hati yang paling dalam sebagai fitrah seorang hamba kepada Penciptanya sering memudar karena perhiasan dunia lebih menyilaukan kita?

Akankah kita hidup lebih lama di dunia ini hanya untuk semakin jauh dari Dia?

Kepada siapakah kita akan kembali dan hidup di alam yang abadi?

Waktu untuk kita akan terhenti dan kita pun akan mati. Tegakah kita melupakan Dia? Mengabaikan perintah-Nya dan melanggar larangan-Nya?

Apakah yang akan kita bawa jika mata ini telah terpejam dan tidak akan terbuka lagi?

Apakah yang akan kita lakukan jika kelak tangan kita akan bicara, kaki kita juga akan memberi kesaksian, sementara mulut kita akan terkunci? Mereka mengatakan apa saja yang pernah kita lakukan di dunia ini sementara kita tidak akan pernah bisa menyangkal. [QS. Yaasiin: 65].

Akankah kekasih kita, harta kita, jabatan kita, titel kesarjanaan kita, atau yang lainnya akan bisa membela diri kita di hari tiap-tiap diri belum tentu bisa menolong dirinya sendiri…?

Karena itu semua, siapa yang mau patah hati lagi? Jika kita sampai patah hati dari cinta-Nya, sungguh kita lebih baik tidak pernah terlahir ke dunia. Hanya Dia satu-satunya cinta yang abadi. Dia adalah matahari cinta di dunia dan di akhirat kelak.

***

Uraian di atas hanya sekedar renungan, terutama untuk diri penulis secara pribadi. Jika ternyata bisa untuk bahan renungan anda yang tidak sengaja membaca, semoga ada manfaatnya. Sama sekali tidak ada maksud untuk menggurui, karena artikel ini ditulis bukan untuk itu. Sekarang kita kembali ke “kisah cinta tidak bermutu” yang mengawali artikel ini.

***

Dan kisah pun belum benar-benar tamat, si dia yang dulu mencampakkan cintaku. Yang dulu pernah mengubur harapan dan cintaku yang seputih salju–setelah bulan demi bulan berganti, dan tahun pun berlalu menguburkan luka di hati— si dia ternyata datang kembali, menanyakan kabar, bersikap manis, perhatian, melakukan pendekatan demi pendekatan, hingga akhirnya setelah tidak tahan: menanyakan isi hati ini (meski minta bantuan orang ketiga). Dan bertanya: “Masih adakah kesempatan kedua untukku?” [bagi seseorang yang dimaksud dalam kisah ini diharap tidak membaca ya…].

Hampir sama dengan sebuah kisah di film India yang romantis (dalam artian romantis tapi menyedihkan), yang mana dikisahkan seorang pemuda (Salman Khan) mati-matian mengejar pujaan hatinya (Amisha Patel), sampai lima tahun lamanya. Ia berkorban apa saja, sampai terlihat bodoh dan tak berharga. Pengorbanan cintanya waktu itu adalah habis-habisan, meskipun hasilnya sia-sia belaka. Segala nasehat tidak dihiraukan, hingga sang kakak pun meninggal dalam kecelakaan. Dan malang, saat kematian kakak yang sangat mencintainya, yang membiayai hidup dan kuliahnya, si pemuda tidak bisa menghadiri pemakamannya. Beribu sesal tak termaafkan bagi si pemuda, karena pada acara pemakaman kakak tercintanya, dia sampai tidak sempat memberikan penghormatan terakhirnya. Hal yang menyadarkannya, bahwa ia telah menyia-nyiakan cinta yang benar-benar mencintainya hanya untuk mengejar cinta yang sama sekali tidak menghargai cintanya. Namun segalanya telah terlambat. [bagi yang suka film Amrik (terutama yang bintangnya kembaranku) jangan protes karena tidak ada yang kisahnya seperti itu].

Dunia pun berbalik. Di akhir kisah, gantian si gadis yang kini selalu menunggu sang pemuda di halte bis yang dulu menjadi saksi penantian sang pemuda tersebut, namun sampai di akhir kisah mereka pun tak pernah bertemu lagi.

Itulah cinta manusia, tidak ada yang abadi… selalu ada resiko patah hati. Beda jika kita menyandarkan cinta pada Sang Pemberi Kehidupan. Semoga “cinta yang abadi” itu menjadi cahaya hidup kita… So, jatuh cintalah secara sewajarnya kepada pujaan hati anda dan jangan sampai anda melupakan Sang Pembolak-balik Hati dalam mengejar cinta anda.

*** Yaa muqallibal quluub… Tsabbit qalbi ‘ala diinik ***

Hikmah lainnya, ketika sesuatu ada di hadapan kita, kadang kita menyepelekan: tidak menghargainya! Namun, begitu dia telah pergi, kita baru merasa kehilangan. Sesal pun datang kemudian. Dan sesuatu yang datangnya terlambat, biasanya tidak bermanfaat.

***

If you want to love, do it!

Love will spring anymore…

***

Bersambung ke Seri Jatuh Cinta [2]: Saat Terbaik untuk Pacaran

Iklan

Responses

  1. keren…..

  2. kadang yang ada disiakan dan yang lain dicari…kenapa ya? Mas kenapa bisa?

  3. Kenapa ya…? Saya juga tidak tahu…

    Itulah manusia, selalu mencari apa yang tidak mereka miliki atau kurang mensyukuri apa yang sudah mereka miliki.

  4. cinta memang indah.
    kadang orang berasumsi cinta itu segalanya. padahal bukan. mencintai bukan untuk menguasai tapi untuk saling berbagi. dalam arti positif.

    hal apa yang membuat kita takut jatuh cinta mas agus ?
    apa karena takut disakiti atau apa?

    kebanyakan kayak gitu.

    tapi gak smuanya seperti itu
    thanks ya,

  5. cinta kepada allah membuka tabir rahasianya.

  6. cinta mnurut q adl sbuah kecenderungan untuk saling merasakan,semua itu bagian dri proses hidup,maka beruntunglah orang yang ga sering ptah hti,klo ptah hti itu kn resiko menjalani hbungan,klo saling menjaga ga ada yg namanya patah hti.kn prinsipnya koleksi dlu,bru diseleksi.

  7. meski capek membacanya..gak sia sia saya ikut merenungi juga..its about universal love

  8. kbetulan sya baru ajjah skarang patah hati..
    bz ptuz ma cwo…
    tpi sya selalu berusaha untuk tidak nagis..tapi gag bisa….
    pdahal udah shalat tasbih,thjud,dhuha..
    mhon k’kuatan pda yang d’atas..
    tpi..ttep ajjah masih blum bisa nerimanya..
    masih blum bisa lupin dia….
    tpi wlau bgmnapun…
    saya bertekad untuk tdk brgantung pada’a….
    cwo bkan dia doank..masih da 1000 ikhwan menanti..
    (nye’nengin diri lah)hahaha


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: