Oleh: Agus Riyanto | 6 Oktober 2008

MENEPIS BELENGGU “TIDAK MUNGKIN”


Banyak hal dalam kehidupan kita yang penuh misteri. Kebanyakan dari kita pun masih memeluk erat mitos ”tidak mungkin” akan suatu hal yang ingin kita raih. Dalam banyak kasus, kita kadang merasa tidak berdaya dan seolah terpenjara dalam belenggu diri yang membatasi diri kita saat ini dengan diri ideal yang kita inginkan.

Percaya kepada mitos ”tidak mungkin” mencerminkan ketidakberdayaan diri melihat sesuatu yang ingin kita dapatkan banyak sekali hambatannya. Dengan kata lain, kita tidak memiliki rasa percaya diri yang kokoh. Melihat tantangan, hambatan, rintangan dan resiko gagal di depan mata membuat kita miris dan mengurungkan niat untuk bergerak maju. Hasilnya, kita hanya jalan di tempat atau tertinggal karena rival-rival atau pesaing kita telah melesat jauh.

    Mitos ”tidak mungkin” misalnya terjadi pada kasus yang menyatakan:
    ~ ”Ah, saya hanya anak orang miskin, mana mungkin bisa sukses…!”
    ~ ”Saya hanya lulusan dalam negeri, mana mungkin bisa menjadi top manager di perusahan ini.”
    ~ ”Suara saya fals, mana mungkin bisa jadi penyanyi terkenal.”
    ~ ”Saya hanya seorang pembantu rumah tangga, mana mungkin bisa menjadi penulis terkenal!”
    ~ ”Muka saya jelek, mana mungkin bisa jadi artis terkenal… Kenapa sih Tuhan menciptakan saya dengan muka seperti ini?!”
    ~ ”Saya hanya orang cacatyang malang, mana mungkin bisa menjadi orang yang berguna!”
    ~ ”Saya hanya …….., mana mungkin bisa …………!”

    Demikian seterusnya. Banyak sekali alasan yang kita buat-buat dengan dalih ”tidak mungkin” untuk membenarkan bahwa keadaan kita saat ini adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Atau dengan kata lain, kita hanya bisa pasrah menghadapi keadaan yang mungkin belum sesuai dengan kondisi ideal yang kita harapkan. Kita akhirnya percaya bahwa kita tidak bisa merubah keadaan menjadi lebih baik dengan talenta yang kita miliki. Kita bersembunyi dengan dalih ”tidak mungkin” untuk menutupi kemalasan kita dalam berikhtiar dan keluar dari zona kenyamanan hidup kita. Kita takut tampil sedikit lebih beda dari kebanyakan orang di sekitar kita.

    Banyak contoh yang telah membuktikan bahwa mitos ”tidak mungkin” adalah ciptaan dari pikiran kita sendiri. Mereka mampu membuktikan bahwa ketidakmungkinan itu menjadi mungkin dengan kerja keras yang cerdas dan usaha yang sungguh-sungguh. Sebagai contoh misalnya:

    Drs. Waidi, MBA.Ed dulunya juga berasal dari keluarga petani yang sangat sederhana, namun sekarang bisa sukses menjadi seorang dosen, trainer, penulis dan entrepreneur. Pernah ketika muda dulu—saat masih bukan siapa-siapa—menceritakan cita-citanya pada rekannya, beliau hanya mendapat cemoohan. Kenyataannya, rekan yang mencibirnya sekarang masih menjadi itu-itu saja, namun Pak Waidi telah melesat mengaktualisasikan dirinya yang luar biasa.

    Bang Iwan Fals, dari namanya kita tahu ada suatu masalah dari suaranya, namun kenyataannya beliau bisa jadi penyanyi dan pemusik yang sulit ditemukan tandingannya.

    Eni Kusuma, dulunya dikenal dengan profesinya yang seorang pembantu rumah tangga, namun buktinya beliau bisa membuktikan bisa menjadi penulis terkenal dan bahkan bisa membagikan semangatnya kepada orang banyak melalui tulisan dan workshop yang ia bawakan.

    Tukul mukanya seperti itu, tidak ada yang mengatakan dia ganteng. Buktinya, beliau bisa jadi seorang entertainer papan atas negeri ini.

    Hirotada Ototake dari Jepang, tidak punya tangan dan kaki. Buktinya bisa menginspirasi jutaan orang lewat kisah hidup dan perjuangannnya yang ia tulis dalam bukunya yang terkenal, ”No One’s Perfect”.

    Dan masih banyak lagi kisah orang-orang luar biasa, yang mungkin jika keterbatasan dirinya ada pada kita, kemungkinan besar itu akan menjadi dalih kuat bagi kita untuk membenarkan ketidakberdayaan kita. Keluarbiasaan diri kita terkubur karena menganggap sesuatu di luar keadaan kita yang sekarang adalah ”tidak mungkin”.

    Di samping mensyukuri keadaan dan nikmat hidup yang ada pada diri kita sekarang, jika masih memungkinkan bagi kita untuk meningkatkan potensi diri, bukankah itu tidak ada salahnya. Bahkan sebuah keharusan bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas diri dan mengasah talenta agar kita bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat. Semakin bermanfaat diri kita bagi orang lain, semakin bermakna pula hidup kita. Sebagaimana hadits Nabi yang menyatakan, ”Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lain.”

    Dan yang tidak boleh dilupakan, ketika kita sudah sampai di puncak prestasi (misalnya punya perusahaan sendiri, kaya raya, disanjung banyak orang, atau berada di puncak karier), maka kita tidak boleh sombong, merasa paling hebat, paling pandai, dan perasaan paling lainnya. Kita juga tidak boleh meremehkan orang lain, menganggap yang lain tidak ada apa-apanya, hina dan tidak mungkin bisa sukses seperti kita. Jika kesombongan telah merasuk dalam dada, mudah saja bagi Alloh SWT untuk mengembalikan kita pada keadaan semula. Jika Alloh SWT sudah berkehendak maka tidak ada lagi yang ”tidak mungkin”.

    Semoga bermanfaat.

    Salam sukses dunia-akhirat!


Responses

  1. sangat menginspirasi….
    thanx A lot

    regards,
    afifah

  2. waduh tulisan anda bgitu mengena d hati. . .n sangat menginspirasi,crminan dr kedalaman ilmu anda,tdk hanya dlm politik atwpun renungan bhkan soal hati n agamapun pengtahuan pnjenengan luar biasa. . .smga Allah snantiasa mbrikn rahmat n hdayah kpd anda skeluarga. . amiin

    • Amiin ya Robbal ‘Aalamiin…
      Matur nuwun do’anya Mas.
      Saya hanya manusia biasa Mas, masih jauh dari ‘alim atau expert.
      Jika apa yang saya tulis di blog ini ada manfaatnya, itu semata-mata karena hidayah dari Alloh SWT. Jika ada salah dan kekeliruan, itu dari diri saya sendiri.
      Semoga Alloh mengampuni dosa-dosa kita semua, aamiin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: