Oleh: Agus Riyanto | 29 September 2008

INDAHNYA MEMAAFKAN DI HARI YANG FITRI


Dalam sejarah perjalanan panjang hidup kita di planet bumi yang indah ini pasti kita pernah mengalami yang namanya “disakiti” oleh orang lain, baik secara lahir (fisik) maupun secara batin (perasaan). Itu adalah sebuah resiko yang lazim karena kita adalah makhluk sosial, sehingga kita tidak bisa tidak meski bergaul dan berinteraksi dengan orang lain yang memiliki beraneka ragam kepribadian. Dari interaksi inilah mungkin sekali kita harus mengalami “tersakiti” atau “disakiti”. Dalam hal ini, jika yang disakiti adalah fisik kita, mungkin esoknya sudah sembuh. Namun jika yang disakiti adalah hati kita, akan sangat sulit untuk menyembuhkannya. Bahkan tidak sedikit manusia yang membawa luka hatinya sepanjang hayat, bahkan sampai mati. Sungguh mengenaskan! Luka hati ini biasanya jika terus tertanam dan dibiarkan berakar dalam hati akan berbuah “dendam” yaitu amarah yang terpendam.

Memang wajar bila perasaan kita disakiti oleh orang lain maka kita akan sakit hati, dan lebih parah lagi menjadi pendendam sejati. Sakit hati ini banyak sekali penyebabnya. Mungkin karena ditolak cintanya, dikhianati kepercayaannya, dihina di depan umum, difitnah tanpa bukti, disepelekan keberadaannya, dan masih banyak lagi hal-hal yang sering membuat seseorang sakit hati. Ada seorang teman yang dikhianati oleh kekasihnya pernah berkata, “Sakit mas…! Perih, bagai disayat sembilu…” Hmm, sakit yang seperti ini menurut saya hanya waktu yang bisa menyembuhkannya. Bahkan pada beberapa kasus, lukanya tidak bisa hilang, hanya mengering. Ini baru soal kehidupan cinta, belum kehidupan lain yang sering kita hadapi di dunia nyata.

Sekarang pertanyaannya adalah apakah menyimpan sakit hati atau dendam itu baik? Jawabannya tentu tidak! Bahkan bisa dikata: bahaya. Terus…, apa sih bahaya mendendam?

Adi W.Gunawan, seorang pakar mind technology dan ahli hypnotherapy menjelaskan dengan sangat gamblang bahwa Banyak orang yang mengalami kesulitan untuk maju dan berkembang karena energi psikis mereka terkuras untuk mempertahankan emosi marah dan dendam pada seseorang. Emosi negatif yang tetap “dipelihara” dengan sangat tekun ini ia sebut dengan vampir energi psikis. Jadi, jika kita dengan sengaja menyimpan amarah, dendam atau sakit hati pada seseorang maka semua itu justru akan menguras seluruh energi kita yang berakibat menghambat kemajuan kita. Dengan kata lain, kita akan rugi sendiri dan ini adalah rugi besar!

Demikian mengerikan pengaruh dari emosi marah dan dendam pada diri kita. Kita selama ini mengira bahwa dengan mendendam orang yang pernah menyakiti kita, itu akan menjadi balasan yang setimpal. Ternyata kita salah karena justru kitalah yang ternyata makin menderita sendiri.

Lalu agar kita bisa bebas dari belenggu dendam yang menjadi vampir energi psikis kita itu bagaimana caranya?

Caranya sebenarnya mudah, tapi juga susah… Mudah, karena kita tinggal meneladani akhlak Nabi Muhammad saw, yakni ketika beliau dihina, difitnah, diludahi, dilempari batu atau kotoran onta, bahkan hendak dibunuh oleh orang-orang kafir pada awal periode dakwah yang beliau lakukan. Ketika itu Islam baru turun ke bumi dan masyarakat saat itu masih berada pada jaman jahiliyah; jaman kegelapan dan kebodohan. Apa yang Rasulullah SAW lakukan menghadapi semua itu? Ya, benar… Jawabnya adalah dengan MEMAAFKAN! Beliau selalu memaafkan mereka dengan tulus, bahkan beliau menengok orang yang sering meludahinya ketika ia sakit, sehingga si kafir yang hobinya meludahi Nabi Muhammad SAW ketika lewat itu masuk Islam melihat betapa mulianya akhlak beliau yang begitu agung tersebut. Beliau adalah sosok teladan dalam hal memaafkan dan dalam semua segi kehidupan. Kemuliaan akhlaknya begitu memukau sehingga berbondong-bondong warga Arab pada waktu itu mendapat hidayah dan masuk Islam.

Tapi kenapa “memaafkan” itu susah? Ya, karena kita selalu mencari pembenaran kenapa kita harus marah dan dendam. Kita selalu merasa berhak dan pantas untuk marah/dendam kepada orang yang menyakiti kita tanpa pernah mau mencoba melihat sesuatu yang kita anggap “menyakitkan” itu dari sudut pandang yang berbeda. Coba sekali-kali kita berpikir dari sudut pandang orang yang menyakiti kita, mungkin kita akan bisa bersikap lebih obyektif. Tapi kata-katanya sungguh menyakitkan? Tapi ia telah menghina saya? Tapi ia telah berkhianat? Tapi ia benar-benar tak berperasaan? Tapi…? Tapi…? Kita bisa mencari seribu alasan lain!

Bagaimana jika kasusnya adalah ketika seorang gadis dinodai oleh kekasihnya, kemudian setelah itu ditinggal pergi seperti sampah yang tidak berguna lagi? Pasti semua orang akan menganggap laki-laki itu buaya darat, tidak bertanggungjawab, tidak punya perasaan, dan sebagainya. Namun tidakkah setiap wanita bisa merenungi, kenapa jika belum halal atau sah menurut hukum agama ia mau diajak berhubungan? Bukankah itu ajakan syetan laknatullah…? Tapi itu sebagai bukti cinta… Aku tidak bisa menolaknya karena aku sayang dia… Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi… Beberapa alasan itulah sebenarnya yang menjadi penyebab banyak dari generasi muda kita hancur sebelum kita menghadapi kehancuran moral lainnya, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme.

Pada kasus di atas, persepsi kita akan mengarah bahwa si gadis telah menjadi korban. Dan sii gadis pun bisa dipastikan mengalami sakit hati, menderita batin, bahkan lebih parah lagi… merasa diri hina dan kotor. Eh, tahu nggak? Sesungguhnya orang lain menyakiti kita sebenarnya karena mereka adalah manusia lemah. Mungkin dia telah menderita kelemahan iman sehingga menjadi teman syetan. Makanya jangan sedih kalau kita disakiti. Kita pantas bersyukur karena dengan mengalami “disakiti” kita mendapat peluang untuk mencontoh akhlak Nabi, yakni memaafkan.

Adi W. Gunawan juga menyatakan bahwa memaafkan tidak berarti kita menyetujui. Memaafkan melibatkan keinginan untuk melihat sesuatu dengan sudut pandang yang lain – untuk bisa memahami dan melepaskan. Lebih jauh Adi menjelaskan, “Saat kita memaafkan dengan tulus orang yang pernah menyakiti kita, maka yang terjadi adalah kita menyingkirkan vampir energi psikis yang selama ini menyedot energi kita tanpa kita sadari, dan sejak saat itu energi kita meningkat drastis, vibrasi kita meningkat, dan kita mulai memanifestasikan sukses dengan sangat cepat dan mudah.”

Dalam Al Qur’an surat Asy Syuura ayat 40, dengan sangat indah Alloh SWT berfirman yang artinya: Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik* maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

Yang dimaksud berbuat baik di sini ialah berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepada kita.

Sahabat yang berbahagia, sudah tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak memaafkan orang-orang yang telah menorehkan luka di hati kita. Jika kita ingin maju maka kita harus bisa melepas belenggu dendam yang bersemayam dalam hati kita, disadari maupun tidak. Tidak lama lagi kita akan merayakan Hari Raya Idul Fitri Tahun 1429 Hijriyyah, yang akan menjadi momen yang paling tepat bagi kita untuk saling memaafkan. Saat di mana kita akan memulai hidup yang merdeka, dan memulai hidup baru dengan kesucian hati.

Lalu, siapa yang dimaafkan? Pokoknya siapa saja yang pernah–dengan sengaja atau tidak—menyakiti kita, baik secara lahir maupun batin. Mungkin dia orang yang telah menolak mentah-mentah cinta Anda dan mempermalukan Anda di depan umum. Mungkin dia mantan kekasih yang Anda cintai dengan sepenuh hati tapi kemudian mengkhianati Anda. Mungkin dia teman yang pernah menyinggung dan mengecewakan perasaan Anda. Mungkin dia sahabat atau rekan bisnis yang telah menghancurkan kepercayaan Anda. Mungkin dia orang yang pernah menghina atau memfitnah Anda, yang ingin melihat diri Anda hancur. Mungkin dia adalah keluarga atau orang-orang terdekat yang telah khilaf dan membuat kesalahan yang sulit Anda maafkan. Atau mungkin juga dia orang yang telah mengubur harapan Anda, yang membuat cinta Anda yang seputih salju berubah menjadi kenangan duka yang dalam. Maafkanlah semuanya karena maaf itu indah… Maafkanlah karena maaf itu milik orang-orang yang berhati mulia.

Ada hukum tidak tertulis yang berlaku di alam semesta ini. Apa itu? Hukum itu adalah Hukum Sebab – Akibat atau Hukum Tabur – Tuai yang berbunyi: Apa pun yang kita tabur–melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan kita–akan kembali pada kita. jadi, jika Anda merasa sakit bila disakiti maka jangan menyakiti. Jika Anda sudah terlanjur menyakiti maka minta maaflah. Dan jika Anda sudah disakiti maka maafkanlah! Indah bukan…?

Akhir kata, saya secara pribadi mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H. Mohon maaf lahir dan batin atas segala salah, khilaf, dan semua bentuk perbuatan yang kurang berkenan di hati Anda semua. “Taqobalallahu minna wa minkum”.

Salam Idul Fitri bertabur bunga Maaf dan Cinta!

Agus Riyanto


Responses

  1. Dear Mas Agus Riyanto yang Baik,

    Selamat Merayakan Idul Fitri 1429 H.
    Mohon Maaf Lahir dan Batin.

    Salam Sukses Dunia – Akhirat,
    Wuryanano dan Keluarga.🙂

  2. Sukses slalu 2k mas agus,,
    MOHON MF LHR BTN,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: