Oleh: Agus Riyanto | 30 Mei 2008

SEBUAH JANJI


Berjanji adalah salah satu hal yang mudah kita lakukan. Sering tanpa kita sadari, dari mulut kita keluar untaian kalimat yang menebarkan janji-janji kepada orang lain. Sama mudahnya seperti mengucapkan kata-kata yang berisi kalimat berita, demikian janji itu keluar dari mulut kita. Bedanya, kata-kata yang berisi janji-janji menimbulkan ekspektasi (pengharapan) kepada orang lain yang kita beri janji tersebut.

Jutaan janji terucap tiap harinya di dunia ini. Ada janji seorang pemimpin negara untuk tidak menaikkan harga BBM. Ada janji calon bupati ketika berkampanye akan membangun daerah yang dipimpinnya kelak (jika ia terpilih) dengan investasi. Ada janji seorang laki-laki yang akan menikahi kekasihnya. Ada janji seorang wanita yang akan setia ketika ditinggal merantau pacarnya. Ada janji seorang anak yang akan berpegang teguh pada agama Alloh ketika harus merantau keluar kota menuntut ilmu. Ada janji anak yang akan berbakti kepada orangtuanya. Ada janji dari teman yang akan memberikan hadiah kepada sahabatnya. Ada janji seorang majikan yang akan menaikkan gaji pegawainya. Ada juga janji dari seseorang yang akan memberikan sesuatu kepada sahabatnya yang jauh. Dan masih banyak janji-janji lain yang bertebaran di angkasa tiap harinya.

Apakah semua janji-janji itu ditepati semua?

Anda tentu pernah mengalami sendiri. Ada orang yang bila berjanji maka ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menepatinya. Ada orang yang bila berjanji baru akan menepati jika janji tersebut ditagih oleh orang yang diberi janji. Ada juga orang yang dengan sengaja mengingkari janji, setelah tujuan mengapa ia berjanji telah didapatkan. Yang terakhir ini sering kita jumpai pada calon-calon pemimpin kita ketika masa kampanye. Mereka banyak berjanji hanya untuk menarik simpati, namun kenyataannya ketika jabatan sudah ada di tangan… bukannya menepati janji, tapi justru membuat orang yang dulu membantu ia sehingga sekarang dapat menduduki jabatannya–bertambah sengsara.

Hati-hati dengan janji yang kita ucapkan?

Kenapa?

Janji adalah Hutang

Saya sampai saat ini masih ingat, pernah berjanji kepada seseorang akan memberikan sesuatu kepadanya. Masalahnya, apa yang saya janjikan belum bisa saya berikan, sehingga saya berpikir ingin menukar sesuatu itu dengan sesuatu yang lain sebagai pengganti. Jadi, saya sama sekali tidak bermaksud untuk mengingkari janji saya sendiri karena saya mengerti bahwa janji adalah hutang. Sementara itu, saya pernah mendengar bahwa bila hutang tidak dibayar di dunia ini maka akan ditagih (jadi masalah) di akhirat nanti. Maka dari itu, jika ada sahabat-sahabat saya yang pernah saya beri janji dan saya lupa belum menepati, mohon dengan hormat agar saya diingatkan lagi. Siapa tahu saya lupa, atau mungkin pura-pura lupa, he..he..he.. Untuk janji saya mentraktir teman-teman, mohon bersabar ya… Jika prasyarat dari janji itu sudah terlaksana, baru janji itu berlaku. Bagi yang awal bulan Mei lalu baru nikah, juga jangan kecewa ya… Saya berjanji akan memberikan kado istimewa di hari yang berbahagia. Saya sengaja cari kardus yang besar. Supaya isinya tidak berguncang, saya sengaja mengisinya dengan kertas-kertas bekas. Setelah dibuka… toeng! Ternyata isinya tidak sebesar bungkusnya. Maaf ya, semoga berkenan. Yang penting isinya bung! He..he..he..

Di lain pihak, saya juga masih ingat. Ada beberapa kawan yang pernah berjanji kepada saya akan memberikan sesuatu. Tapi setelah ditunggu-tunggu, ternyata… toeng! Belum ada realisasi. Mungkin yang berjanji itu lupa. Ya sudah, semoga saya bisa melupakan janji itu.

Sementara di masa yang lalu, saya juga pernah disuruh berjanji. Isinya rahasia perusahaan, hehehe… Ternyata setelah saya berusaha berpegang teguh pada janji tersebut, justru orang yang menyuruh saya berjanji itu yang mengkhianati apa yang ia ingin saya janjikan. Pasti Anda bingung apa yang saya maksud…?! Ya, sudah. Nggak usah bingung. Anggap saja iklan lewat…

Menepati Janji: Simbol Integritas

Berjanji memang mudah, sedangkan menepati janji itu kadang susah. Jika menepati janji itu sebenarnya mudah, ya dibuat susah dengan pura-pura susah. Berikut ini misalnya janji saya jika saya jadi presiden Republik Indonesia—entah yang ke berapa. Kebetulan ketika pemilihan umum, yang milih saya hanya warga satu RT di mana saya tinggal. Kebetulan lagi mereka mau nyoblos saya karena saya berjanji akan mentraktir mereka makan mie ayam yang terletak di jembatan menceng dekat rumah saya, dijamin gratis! Sekali lagi ingat: misalnya…

“Wahai rakyat Indonesia. Jika saya terpilih jadi presiden, saya berjanji akan memberantas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang telah mendarah daging di hampir seluruh instansi pemerintahan, BUMN, lembaga negara, bahkan di institusi pendidikan negeri yang seharusnya mendidik manusia Indonesia menjadi manusia yang jujur, berakhlak mulia dan bertakwa kepada Tuhan YME. Saya akan membersihkan aparatur negara dan pemerintahan dari tikus-tikus berdasi yang mencuri uang rakyat dengan cara yang keji dan tidak bertanggungjawab. Saya akan menembak mati anak buah saya yang menilep dana semacam BLT (Bantuan Langsung Tunai), dana alokasi umum untuk pembangunan daerah, dan semua dana yang bukan hak mereka. Hal yang sama juga akan saya lakukan terhadap pelaku illegal loging (maling kayu), maling minyak skala besar, penimbun sembako, dan bandar narkoba. Saya akan jadikan uang pelicin untuk oknum birokrat tidak lagi licin dan melicinkan.”

“Di bidang ekonomi, tidak usah bingung. Saya akan usahakan agar nilai Rupiah terus menguat sehingga sampai pada titik di mana 1 Rupiah nilainya sama dengan 1 US Dollar. Daya beli masyarakat tinggi dan merata. Lho kok bisa? Ya bisa, karena saya memiliki banyak sekali ahli-ahli ekonomi dan para pakar yang bergelar Profesor-Doktor, dst bidang ekonomi yang bekerja keras berpikir bagaimana caranya agar nilai Rupiah menguat tiap hari, bahkan tiap menit. BUMN yang ada dijamin selalu untung dan menyumbang kas negara triliyunan Rupiah tiap bulannya. Lho kok bisa? Ya bisa, karena saya mempekerjakan seorang direktur yang tidak saja cerdas, tapi juga jujur dan punya jiwa nasionalisme luar biasa prima! Jika perlu, saya akan impor direktur dari benua lain biar BUMN tidak merugi terus-terusan. Kebocoran dan manipulasi pajak 0%. Pajak ini, baik pajak langsung maupun tak langsung, akan benar-benar masuk ke kas negara dan benar-benar kembali kepada rakyat untuk pembangunan di berbagai bidang, terutama untuk mengaspal kembali jalan-jalan raya di seluruh Indonesia, agar bila ada konvoi motor gede dalam rangka memperingati hari besar nasional, tidak ada kecelakaan karena menghantam lubang di tengah jalan. Pokoknya dana dari hasil pungutan pajak itu tidak akan menjadi dana subhat, apalagi haram untuk karyawan negara. Tidak akan ada lagi rakyat yang menderita busung lapar, apalagi mati kelaparan atau bunuh diri karena BBM naik.”

“Di bidang pertahanan negara, tidak akan ada lagi pencurian ikan dan kekayaan alam lainnya. Karena maling-maling itu akan dihantam torpedo hingga meledak. Jika ada anggota TNI atau POLRI yang jadi backing maka akan disunat dua kali. TNI akan jadi benteng negara di darat, laut dan udara. POLRI akan jadi pengayom masyarakat yang bijak dan simpatik. Tidak akan ada lagi rakyat yang ditilang dan uang dendanya masuk kantong oknum yang tidak amanah. Bandar judi togel dan narkoba akan lari terbirit-birit menghadapi mission impossible melawan segala bentuk kejahatan dan kemaksiatan.”

“Dan masih banyak proram-program lainnya yang intinya adalah untuk mewujudkan kesejahteraan yang merata untuk seluruh rakyat dan menjadikan negeri tercinta kita—negeri impian semua orang…”

Demikianlah, begitu mudahnya kita berjanji—bahkan yang ini sampai ngelantur segala, hehehe… Yang jelas, contoh di atas adalah misalnya…

Kita harus hati-hati dalam berjanji. Mungkin yang kita janjikan adalah hal sepele menurut kita, namun hal itu bisa juga menjadi harapan seumur hidup orang yang kita beri janji-janji manis kita. Kalau kita tidak punya niat atau komitmen untuk menepati janji maka akan lebih bijak jika kita tidak mengumbar janji saja.

Janji memang tidak bisa dinilai dengan uang. Walaupun demikian, jika kita bisa memiliki komitmen dan kebiasaan menepati apapun janji kita maka yang dinilai bukan uang yang kita punya, tapi diri kita: diri yang memiliki integritas.

Sementara dalam kegiatan bisnis, atau kegiatan lain yang memiliki efek merugikan salah satu pihak jika sebuah janji tidak ditepati, dibuatlah surat perjanjian di atas meterai. Bila isi surat perjanjian itu dilanggar salah satu pihak yang membuat surat perjanjian tersebut, maka pelakunya bisa diseret ke meja hijau untuk mempertanggungjawabkan pelanggaran perjanjian yang ia lakukan.

Masalahnya, jika semua janji kita harus tertulis di atas surat bermeterai, ya susah. Misalnya Arief berjanji mau mentraktir saya, “Gus, Minggu sore kita makan bakso Bogem ya. Don’t worry, saya yang bayar.”

Saya menjawab, “Okey Rief. Tolong tanda-tangani surat perjanjian ini ya…”

“Ok bozz!” balas Arief dengan semangat.

Sebulan kemudian di sebuah ruang sidang… Pak Hakim membacakan putusan, “Dengan melihat semua bukti yang ada, dengan ini saya putuskan bahwa terdakwa (Arief) dinyatakan bersalah dan diwajibkan membayar ganti rugi kepada korban (Agus) senilai 1 juta dolar.” Thok…thok..thokk! (bunyi palu diketok). Ternyata Arief tidak menepati janjinya…

Atau ketika Anwar berjanji kepada Meta, kekasihnya. “Duhai Meta tersayang, demi langit dan bumi daku berjanji akan selalu setia padamu. Hanya dikau yang ada di hatiku…”

Dua bulan kemudian, ternyata Anwar menikah dengan Siti yang seorang santri pondok. Meta pun membawa kasus ini ke pengadilan negeri setempat. Dalam sidang yang berlangsung panas, Meta mengajukan tuntutan, “Pak Hakim yang terhormat, sesuai apa yang tertulis di surat perjanjian… saya menuntut mas Anwar dihukum penjara seumur hidup karena telah mengkhianati cintaku dan melanggar janji setianya padaku…!!!”

Hmmm, seandainya para pelanggar janji dihukum demikian… mungkin tidak akan lagi orang yang mengumbar janji-janjinya sembarangan. Apalagi para calon pemimpin bangsa yang berkompetisi dalam Pemilihan Umum, baik Pilbup, Pilgub, maupun Pilpres. Demikian juga dengan calon anggota DPR ketika berkampanye. Bisa kita dengar janjinya, bisa kita lihat, perhatikan, dan buktikan setelah mereka terpilih.

Sederhananya mungkin demikian: berusahalah menepati janji yang sudah terlanjur kita ucapkan (baik melalui lisan maupun tulisan). Dan jangan berjanji kalau kita tidak akan menepatinya. Sekarang, masih ada waktu bagi kita untuk menepati janji yang sudah terlanjur kita janjikan. Jika terpaksa janji kita tidak bisa terpenuhi, ada baiknya kita memberitahukan kepada orang yang kita beri janji bahwa kita tidak sanggup menepati, atau memberikan kompensasi lain, atau meminta pernyataan keikhlasan dari si korban (orang yang diberi janji oleh kita) agar janji itu dianggap hangus.

Ketika kita berjanji, kita memang punya rencana, namun Tuhanlah yang menentukan apakah kita bisa menepatinya. Serahkan segalanya pada Yang Maha Kuasa, karena kita hanya manusia biasa yang hanya bisa berusaha dan berdo’a.

Semoga bermanfaat.

Iklan

Responses

  1. cerita

  2. terima kasih atas atensi anda dalam mebuka cakrawala berfikir indah melalui karya ataupun hasil renungan yang cukup bermanfaat bagi sesama insan… semoga Allah mencatatnya sebagai Ibadah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: