Oleh: Agus Riyanto | 15 Mei 2008

KETULUSAN HATI


Beberapa tahun yang lalu, saya pernah dipercayai untuk mengajar privat suatu disiplin ilmu kepada seorang anak yang nakalnya bukan main. Sudah beberapa kali ia diajar oleh beberapa guru yang berlainan tapi belum membuahkan hasil. Akhirnya orangtuanya mempercayakan anak tersebut pada saya.

Pada mulanya, anak itu sungguh mengesalkan luar biasa! Susahnya minta ampun, saya seolah jadi obyek mainannya… Dikerasi tambah keras, dikasih ati… ih makan ati! Sampai suatu titik di mana kesabaran saya mungkin hampir menemui batas…, pernah terpikir untuk mengundurkan diri saja! Habis, kesel+jengkel+gemes juga hati ini… Tapi saya berpikir bahwa bila saya mundur, maka saya gagal… tidak bisa memegang kepercayaan orangtua si anak.

Orangtua si anak adalah tipe orangtua yang sangat perhatian pada masa depan anaknya. Saya sering melihat mereka memarahi si anak agar jadi anak yang penurut, patuh, rajin, serius, dll. Si anak sampai nangis… Walau ada perubahan pada diri si anak setelah dimarahi, namun itu tidak berlangsung lama alias dia kembali pada sifat nakalnya yang menjengkelkan. Orangtua si anak benar-benar ingin agar si anak bisa and pandai, dan mereka rela mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk itu. Hal yang jarang terjadi pada orangtua yang lain…

Setelah memendam kekesalan (yang menguji kesabaran) cukup lama, akhirnya saya berusaha memahami kepribadian si anak tersebut. Selidik punya selidik, saya akhirnya tahu anak yang saya ajar tersebut memiliki kepribadian KOLERIS (menurut Florence Littauer) yang punya sifat dasar kuat, mendominasi, tidak sabaran, pokoknya mau menang sendiri/susah diatur, sedangkan tipe belajarnya adalah dominan KINESTETIK (menurut Bobby De Potter – Quantum Learning) yang selalu aktif bergerak. Maka tak heran kalau diajar pasti dia nggak bisa diam… Kepribadian dan tipe belajar ini kebetulan sangat bertolak belakang dengan diri saya sendiri.

Karena saya awam tentang psikologi anak dan teori-teorinya, maka akhirnya saya hanya bisa mengeluarkan senjata pamungkas yaitu “pasrah”. Kali ini saya tidak bersikap keras, menekan dan memaksakan agar ia nurut ini dan itu, karena itu akan kontraproduktif. Saya hanya melakukan pendekatan dari sisi yang lain, ya… saya memulai dengan memperbaiki niat… niat yang tulus untuk mengajar agar ia bisa… dengan kesabaran yang dilipatgandakan. Saya yakin sesuatu yang dimulai dengan ketulusan hati, maka hati juga lah yang akan menerimanya.

Tak disangka, setelah itu, lambat laun si anak mulai patuh, serius belajar, dan kadang membuatku kagum dengan usaha kerasnya. Sekarang, karena kesibukan saya yang cukup padat maka anak tersebut tidak lagi dibimbing secara privat. Anak tersebut telah memiliki kesadaran belajar bersama teman-teman. Dan ia pun tidak lagi kena marah orangtuanya, sudah bisa menguasai apa yang diajarkan dengan cukup baik dan sudah dikondisikan dengan hal baik sejak dini. Pengorbanan menangani kenakalannya pertama menghadapi si anak sudah ada hasilnya, hal itu saya percaya karena dilandasi dengan ketulusan hati.

Dan yang sering membuat hati saya terharu ketika mengenang masa-masa itu adalah, si anak memiliki seorang adik balita (perempuan) yang sedang lucu-lucunya. Kalau melihat saya datang, ia berlari dan memanggil-manggil, “Pak Gulu…Pak Gulu…” kemudian mencium tangan saya, sebuah panggilan yang dulu pernah akrab di telingaku. Kini saya telah lama keluar dari profesi guru sekolah formal dan menjalani kehidupan yang lain, karena semakin banyak pengalaman yang kita miliki maka wawasan dan khasanah mental kita akan semakin kaya. Hidup ini akan terasa lapang karena memang dunia tidak selebar daun kelor.

Dari pengalaman saya tersebut kita bisa menarik benang merah bahwa sebuah ketulusan akan berpengaruh besar pada hasil dari apa yang kita kerjakan. Untuk itu, lakukanlah segala sesuatu diawali dengan hati yang ikhlas, dilandasi dengan ketulusan. Jangan hanya mengharap balasan yang terlihat, tapi percayalah dengan balasan yang tak terlihat. Percayalah, Tuhan tidak akan pernah menyia-nyiakan sekecil apapun amal perbuatan kita…

Tidak peduli hasil yang akan kita peroleh ketika melakukan ikhtiar, yang penting selagi kita melakukan setiap usaha nyata untuk sebuah kehidupan yang lebih baik, lakukanlah dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. Sukses atau gagal pada akhirnya tetap akan memberi makna bila selama proses yang harus dilewati telah kita jalani dengan sebaik mungkin dengan berpijak pada sebuah ketulusan niat, sehingga Allah SWT juga akan mencatat setiap tetes keringat yang mengucur dari ikhtiar kita sebagai sebuah ibadah yang akan berbalas pahala di dunia dan akhirat.

Semoga bermanfaat.

Iklan

Responses

  1. Saya tersenyum penuh sipu membaca artikel anda. Karena mengingatkan pengalaman saya, ketika mengajar dulu. Dan motto saya ketika itu, BEKERJALAH DENGAN HATI DAN CINTA. Dan hasilnya luar biasa! Anak yg tadinya “istimewa”(sebutan saya utk anak yg luar biasa) menjadi anak maniz, mandiri dan sayang pd saudaranya. Sungguh! Bekerjalah dgn Hati dan Cinta dan nikmati hasilnya. Bukankah Allah Maha Penyayang??
    Salam Sukses Luar Biasa!

  2. Ketulusan dan keikhlas itu memang harus ditanamkan dalam diri setiap individu.. Meskipun berat sekali untuk berbuat tulus.. Namun ketahuilah.. Semua itu pasti akan ada manfaatnya..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: