Oleh: Agus Riyanto | 14 April 2008

KETIKA CINTA DIUJI (Part 2)


Cinta terkadang membuat kita bahagia luar biasa, namun kadang juga membuat hati kita terluka dan menangis pilu. Demikian juga Wulan yang sedang “merindu”, ia pun–tanpa direncanakan–ternyata harus menghadapi kepiluan yang mungkin harus ia hadapi untuk membuktikan kedahsyatan cintanya kepada Bintang. Demikian juga Bintang, sesuatu yang sejak lama ia nanti-nantikan ternyata tidak selalu berjalan mulus dan sesuai keinginan.

Hal ini bermula setelah beberapa kali Bintang berkunjung ke rumah Wulan. Pada awalnya, orang tua Wulan bersikap baik dan ramah pada Bintang, namun pada suatu hari setelah kepergian Bintang dari Rumah Wulan terjadi perdebatan sengit antara ibu dan anak.

Ibu : “Dia siapa, pacar kamu?”

Wulan : “Hmm… iya bu, memangnya kenapa?”

Ibu : “Apa nggak ada yang lain?”

Wulan : “Apa saya salah bu, jalan dengan dia?. Bintang pemuda baik-baik, penuh pengertian dan tulus mencintaiku. Demikian juga aku, mencintainya sepenuh hati.”

Ibu : “Mbok ya cari jodoh lihat-lihat, memangnya nggak ada yang lebih baik lagi dari dia. Atau perlu ayah, ibu dan pamanmu mencarikan jodoh untukmu!”

Wulan pun mulai menangis mendengar nada bicara ibunya yang meninggi dan seolah-olah mengabaikan perasaannya saat itu. Wulan memutuskan memilih Bintang daripada beberapa lelaki lain yang ketika itu mendekatinya, karena ia merasa cocok dan nyaman bergaul dengan Bintang. Ia merasa Bintanglah yang selama ini ia cari dalam seri pencarian cintanya. Ternyata, tidak disangka-sangka orang tuanya mempunyai pikiran yang bertolak belakang.

Ibu : “Kami selama ini memang membiarkanmu sama Bintang, tapi kamu harus tahu dia siapa? Dia bukan sarjana, bukan pula seorang pegawai (PNS, red). Apa yang bisa kamu harapkan dari dia, Wulan?!”

Tangis Wulan kian menyayat hati mendengar kata-kata ibunya yang menggelegar bagai petir di siang bolong. Tanpa mendung, tanpa hujan… tiba-tiba hati Wulan dilanda badai yang memporakporandakan kedamaian cinta yang baru ia dapatkan. Wulan hanya bisa menangis dan menangis. Ia sama sekali tidak menyangka semua itu harus ia hadapi. Setelah lulus kuliah dan kini bekerja di sebuah perusahaan asuransi, yang ia dambakan sekarang adalah seorang lelaki sejati yang bisa ia jadikan sandaran dan nantinya menjadi pendamping hidup. Mungkin impian Wulan sama dengan wanita lain pada umumnya. Apa lagi yang ia cari setelah kuliah ia selesaikan dan pekerjaan pun telah ia dapatkan, namun calon pendamping belum ada?

Demikian kurang lebih penggalan cerita yang membuat Wulan lama tidak menghubungiku, tidak ada kabar dan sikapnya seperti berubah. Dari teman kuliah Wulan akhirnya saya tahu dia sedang ada masalah, hingga mengganggu kesehatannya, padalah waktu itu Wulan mulai ditempatkan di kota yang jauh dari kampung halamannya. Awalnya Wulan tidak mau menceritakan apa yang sedang dialaminya, namun setelah saya menghubungi Bintang akhirnya jelas sudah permasalahannya.

Orang yang paling sedih dan terluka mendengar cerita itu adalah Bintang. Ketika Bintang menceritakan semuanya kepadaku, ia mengaku sampai menangis mengetahui semua yang dikatakan ibunya Wulan. Bintang yang selama ini saya kenal sebagai orang yang tenang, tabah, sabar dan pengertian, sampai menangis pilu menghadapi semua itu.

“Apa salah saya? Selama ini saya telah berusaha menjadi orang yang baik, lurus, dan bertanggung jawab. Haruskah saya kuliah lagi untuk mendapatkan restu orang tua Wulan? Haruskah saya menjadi Pegawai Negeri agar orang tua Wulan tidak menganggap saya sedemikian hinanya…?!”, demikian keluh Bintang panjang lebar melalui telepon.

Hampir satu jam kami sharing, dan Bintang pun menumpahkan semua kepenatan hatinya. Sebagai teman, saya hanya bisa memotivasinya sekuat mungkin. Berusaha memandang semua masalah tersebut dari sudut pandang yang berbeda, dan yang jelas ini semua adalah sebuah ujian cinta yang harus mereka hadapi. “Tunjukkanlah kekuatan dan ketulusan cinta kalian; waktu jua yang akan membuktikan semuanya. Kalian harus bisa melewati semua ini!”, demikian pesanku mengakhiri pembicaraan.

Bintang memang bukan seorang sarjana; bukan pula seorang pegawai, namun menurutku penghasilan, pengalaman dan keahliannya melebihi kebanyakan sarjana pada umumnya. Dia hanya tidak memiliki ijasah S1, dan kebetulan ada orang yang mempermasalahkan hal itu dalam hubungan percintaannya.

Demikianlah pembaca yang budiman, tak disangka-sangka cinta datang kepada kita. Perasaan kita pun senang, gembira, dan bahagia luar biasa. Hidup ini bagai di taman surga. Makan teringat si dia, mandi teringat si dia, bercermin: ada si dia di kaca, sampai tidur pun mimpi bertemu dia. Saat bersama si dia, dunia seakan milik berdua… (yang lain ngontrak kali…). Tak disangka juga perjalanan cinta itu sendiri tidak semulus yang diharapkan. Ada saja dinding yang menghalangi, ada saja jurang yang memisahkan, ada saja ujian yang harus dilalui…!

Ketika Wulan bertemu Bintang, Wulan telah mendapatkan kebahagiaannya—yang ia harap akan menjadi kebahagiaan sepanjang hidupnya. Namun Wulan kini harus menghadapi orang tuanya sendiri; yang menjadi dinding penghalang baginya untuk bersatu dengan Bintang, kekasih yang sangat ia cintai. Wulan tentu tak pernah terpikir untuk jadi anak durhaka yang berani melawan orang tua, namun ia juga tidak mungkin meninggalkan Bintang yang selama ini ia rindukan. Apa yang harus dilakukan Wulan?

Sahabatku…, rezeki, ajal dan jodoh memang menjadi rahasia Tuhan. Kita tidak punya kuasa sedikit pun untuk itu. Walaupun demikian, ternyata kita harus tahu ada rezeki yang digantungkan, yakni rezeki yang bisa kita dapatkan menurut kerja keras dan usaha kita. Ada juga amal-amal yang bisa memperpanjang umur, dan jodoh pun harus kita perjuangkan bila ada cinta yang tulus antara sepasang kekasih yang saling mencinta karena Alloh–yang bila diridloi Alloh SWT pasti Dia nantinya akan mempersatukan—meskipun harus menghadapi badai dan gelombang yang menghantam dan menguji kesucian cinta itu sendiri.

Ibu Wulan saat itu hanya melihat apa yang tidak dimiliki oleh Bintang. Dia juga tidak memperhatikan perasaan anak gadisnya, namun ia juga punya alasan yang menurutnya benar—paling tidak menurut pendapatnya pribadi. Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuknya; demikian juga masalah jodoh. Mereka ingin anaknya bahagia batinnya, juga berkecukupan materinya. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya menderita, kecuali orang tua yang tidak waras. Namun karena wawasan yang sempit, ada beberapa orang tua yang mengidentikkan jaminan kecukupan itu pada “gelar”, “profesi”, atau “keturunan” seseorang, yang justru semua itu tidak ada korelasinya secara langsung pada inti masalah.

Dari sudut pandang psikis Bintang, apa yang dikatakan ibu Wulan merupakan sesuatu yang menurut Anthony Dio Martin disebut sebagai emotional vampire, yakni sesuatu yang menyedot energi emosi kita laksana vampir/drakula yang menyedot darah korbannya. Bila Bintang menerima apa yang dikatakan ibu Wulan tentang kelemahan dirinya maka hal itu akan mengganggu kestabilan jiwanya, merusak konsep diri Bintang selama ini, dan pada akhirnya akan membuat Bintang merasa rendah diri dan tidak berguna. Untunglah Bintang bukan orang yang seperti itu. Bintang tentu sadar akan kekurangan dirinya, namun dia juga tahu betul kelebihan dirinya yang membuat ia terus melangkah maju.

Mendengar kisah Bintang, saya jadi teringat masa lalu… Hal yang hampir sama, bahkan lebih dahsyat lagi pernah menimpa diri saya bebera tahun yang lalu. Tentu saat itu hati saya pedih, hancur dan porakporanda. Namun di saat-saat seperti itulah kita belajar secara langsung dari kehidupan ini; betapa hinaan, cemoohan, fitnah, rasa sakit dan berbagai ujian datang bukan untuk membunuh kita. Semua itu hanyalah suatu episode kehidupan yang menempa diri agar kita menjadi manusia yang kuat–sekuat baja dan kokoh—sekokoh batu karang yang tak pernah lari menghadapi badai dan gelombang.

Kini, baik Wulan maupun Bintang, tidak pernah merasa orang tuanya sebagai musuh. Mereka menghadapi semua itu dengan tabah, sabar, dan lapang dada. Walaupun saat ini orang tuanya tidak sependapat dengan mereka, namun mereka percaya suatu saat nanti restu itu akan datang asalkan cinta mereka berdua tulus dan suci. Sebagaimana batu karang yang bila terus-menerus ditetesi air, lama-lama juga akan berlubang; demikian juga harapan Wulan, kekerasan hati ibunya suatu hari nanti juga akan luluh dan berkata, “Anakku, sekarang ibu ridlo Bintang menjadi pendamping hidupmu…”

Walaupun dipisahkan oleh jarak–Bintang sekarang berada di salah satu perusahaan di Bekasi, sementara itu Wulan menjalani kehidupan kerjanya di Kudus–semua itu tidak membuat hati mereka berjauhan. Mereka tetap memelihara cinta yang telah terlanjur mereka bina, dan waktu jua yang akan mengetahui akhir kisah mereka.

“Alloh punya rahasia, Aa (panggilan sayang Wulan buatku) dipilih Alloh untuk mempertemukanku dengan masku. Aku hanya seorang wanita lemah…, sangat lemah… rapuh… tanpa cinta darinya. Ini adalah ungkapan kebahagiaan seorang wanita… (dan seterusnya)”, demikian kata-kata tulus dari seorang Wulan kepadaku.

Selamat berjuang sahabatku. Semoga cinta kalian abadi!

Iklan

Responses

  1. Percayalah pada kekuatan cinta!
    Dengan mengharap ridha Allah dan restu ibu, teruslah berjuang. Karna cinta akan menemukan jalannya sendiri dan cinta akan datang pada siapapun yang percaya padanya. Cinta akan terasa begitu manis dan indah jika kita mendapatkannya dengan penuh perjuangan dan restu orang tua.
    Just believe in the power of love!

  2. Emm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: