Oleh: Agus Riyanto | 1 April 2008

KETIKA CINTA DIUJI (Part 1)


Tulisan ini terinspirasi dari sebuah kisah nyata anak manusia yang sedang dilanda cinta. Jika mulai 24 Maret 2008 kemarin kita bisa menyaksikan sinetron di sebuah stasiun televisi swasta dengan judul yang menarik perhatian—terutama bagi anak-anak muda—yakni “Kasmaran: Sejauh Mana Kau Kejar Cinta”, sekarang saya akan berbagi sedikit cerita kepada Anda.

Kisah ini berawal ketika beberapa minggu sebelum bulan suci Ramadhan tahun yang lalu saya tidak sengaja berjumpa dengan seorang teman SMA yang sekian lama tak pernah jumpa. Dari pertemuan tersebut saya mendapatkan beberapa nomor hp teman-teman yang lain. Malamnya saya mencoba menghubungi beberapa teman tersebut karena ingin mengetahui kabar mereka. Salah satunya adalah Wulan (bukan nama sebenarnya). Dengan Wulan saya bertanya kabar si A, si B, dan lain-lain. Setelah bicara panjang lebar, saya melontarkan pertanyaan yang sedikit nyerempet tentang jodoh. Jawabannya ternyata keluar nada yang kurang semangat. Sepertinya Wulan belum menemukan soulmate-nya, demikian kesimpulan spontan saya. Saya pernah satu kelas dengannya ketika kelas 1 dan kelas 2 SMA; masa-masa di mana kami berjuang melewati masa remaja yang penuh gejolak luar biasa prima.

Kemudian dengan nada ringan dan niat yang tulus, saya mengajukan tawaran, “Bagaimana jika saya kenalkan dengan seorang teman. Niatkan saja untuk menambah silaturahmi. Kata orang bijak, banyak sahabat – banyak rezeki…” Wulan pun menyambut baik niat saya. Setelah itu saya pun memberitahukan nama dan nomor hp seorang teman kepada Wulan. Siapakah dia?

Dia adalah salah seorang teman SMP saya, yang juga lama tak jumpa. Sebut saja dia Bintang (bukan nama sebenarnya). Setelah 3 tahun merantau ke negeri sakura, beberapa tahun yang lalu dia pun pulang ke tanah air. Dia sekarang tahu arti kata “Watashi wa aishiteru…”

Kenapa saya teringat Bintang? Tidak lain karena…

Di suatu pagi, ketika saya sedang sibuk kerja, tiba-tiba seorang teman SMS yang isinya bahwa gadis pujaan hati yang ia cintai selama 9 tahun lamanya kini telah berdua dengan pria lain. “Pedih mas…”, demikian keluhnya. Untung setelah saya kasih motivasi ia menegaskan bahwa ia akan menata kembali hatinya yang sedang porak poranda. Berkali-kali ia SMS yang isinya mencerminkan kegalauan hatinya. Saya hanya bisa prihatin…

Sungguh luar biasa bagi saya, ada seseorang yang mencintai wanita selama 9 tahun lamanya tanpa ikatan yang jelas, tapi ia mampu memelihara perasaan itu sampai sang gadis benar-benar mencampakkan hatinya… Sungguh pedih perasaannya. Bayangkan 9 tahun bukanlah waktu yang lama, tapi sangat lama! Tapi begitulah cinta… deritanya tiada akhir! Kenapa…?

Sahabat-sahabatku, kita kadang sering lupa. Kenapa kita lebih mencintai makhlukNya dengan sangat dalam (yang mana belum tentu ianya juga mencintai kita) sementara kita justru sering lalai bahkan jarang mengingat Alloh SWT yang jika kita mencintainya dengan sepenuh cinta kita, Dia akan lebih mencintai kita lagi…?

Kita ini sering terbalik, mencintai sesuatu yang fana secara membabi buta tapi mengabaikan cinta yang abadi…

Kita seharusnya lebih mencintai Alloh SWT dan Rosul-Nya sebelum kita mencintai makhluk-Nya (yang berlawanan jenis dengan kita). Kita seharusnya memiliki cinta yang dahsyat kepada Sang Pencipta sebagaimana cinta Rabiah Al Adawiyah kepada Alloh SWT yang menjadi legenda. Mungkin ini hal yang sangat sulit bagi manusia biasa seperti kita, tapi kita bisa mencobanya kan…?

Salam cinta dari saya. [AR]

Laut Asmara

Demikianlah tulisan saya di sebuah bulletin remaja yang terinspirasi dengan apa yang dialami oleh Bintang beberapa waktu yang lalu. Singkat cerita, saya mengenalkan mereka berdua dan memberikan nomor hp mereka masing-masing.

Semula saya menjadi penengah ketika mereka SMS-an dan bingung, “Ini maksudnya apa…?” Hmmm…, dunia kadang aneh! SMS-nya Wulan oleh Bintang dikirim ke saya; demikian sebaliknya, Wulan juga tidak mau kalah. Jadi saya seperti menjadi operator perantara yang harus memberi makna pada SMS-SMS mereka. Lama-lama keadaan memanas dan kemudian saya tidak mau ikut campur karena komunikasi mereka juga perlu privacy. Masalah pribadi biar mereka yang menyelesaikan sendiri agar bisa belajar lebih bersikap dewasa.

Lama tidak ada kabar dari mereka berdua… Tiba-tiba setelah hampir satu bulan tidak tahu rimbanya, ternyata surprise, mereka telah meresmikan hubungan! Beberapa hari menjelang lebaran ternyata mereka telah jadian. Yah, begitulah… Tidak ada maksud hati menjadi mak comblang, tetapi apa daya nasib seperti membawa saya untuk sementara menjadi Mbah Comblenk, he..he..he…

Dengan perasaan bahagia luar biasa pada hari raya Idul Fitri 1428 H, Wulan pun bersilaturahmi ke rumah saya bersama “Mamas” barunya. Mereka terlihat gembira walaupun pada saat datang ke rumah, ternyata beberapa teman SMP yang sudah beberapa abad (maksudnya ‘tahun’) tidak pernah bertemu, kumpul jadi satu. Jadi semacam reuni kecil-kecilan yang tidak disengaja. Kami bercanda ria mengingat masa lalu yang kadang malu-maluin. Si Ipung–anak guru Matematika yang dulu terkenal cukup ‘galak’– yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2-nya di Jogja, kena sasaran Imam yang dulu sering menjadi sasaran penggaris atau kapur oleh ayahnya. Kami semua tertawa melihat tingkah mereka yang seperti Tom and Jerry. Melihat tingkah kami yang nggak karuan, Wulan hanya sesekali tersenyum. Saat itu Wulan benar-benar seperti “kembang di antara kambing”! (Eh, yang satu bukan kambing, tapi coverboy! Ha..ha..ha..)

Demikianlah perjumpaan kami setelah sekian tahun tidak bertemu. Kebahagiaan terpancar dari wajah Wulan dan Bintang. Yang bisa saya rasakan dari Wulan adalah dia benar-benar merasa berterima kasih karena sudah dipertemukan dengan Bintang. Dia merasa telah menemukan dambaan hatinya… Baik Wulan maupun Bintang tentu merasakan hal yang sama: kasmaran!

Dan dengan ketulusannya—serta sebagai ungkapan terima kasih yang luar biasa—Wulan kemudian menganggap saya sebagai kakaknya. Mereka berdua pulang paling akhir daripada teman-teman yang lain. Lebaran tahun itu membawa kesan tersendiri bagi saya. Kemudian, waktu jualah yang memisahkan. Mereka pergi ke dunia mereka masing-masing.

Waktu terus berlalu, bulan demi bulan pun berganti. Dari komunikasi yang terjalin baik, Wulan dan Bintang nampak baik-baik saja. Namun tak disangka-sangka, ketika mereka terlihat sedang bahagia-bahagianya, sesuatu di luar dugaan terjadi…! Apa itu? (bersambung).

Iklan

Responses

  1. Wah…ini kisahnya bisa juga diangkat ke layar lebar atau setengah lebar nih. Pakai bersambung segala jeee… pasti berbakat jadi penulis Novel ya Mas Agus.

    Ntar kalu sudah jadi sutradara film jangan lupa saya ya… 🙂

    Ok, tak tunggu sambungan kisahnya yo… 😉

    Salam Luar Biasa Prima!

  2. Hebat mengulasnya…buat novel dunk…dan penggalannya udah oke banget…buat pembaca penasaran untuk ngikutin kisah lanjutannya. Segera ya! jgn kelamaan 🙂

    Salam,

    Afra
    http://www.aframayriani.wordpress.com

  3. Wah….ini orang sudah pandai. Tak kusangka peningkatannya sudah luar biasa. Mas segera saja buat buku motivasi. Siapa tahu bisa untuk membuat orang lain menjadi lebih baik.
    Oh ya… Dari cerita itu bisa disimpulkan mas agus ini jadi ‘mak comblangnya’ Eh Mas…Enggak buat biro jodoh aja..he.he…

  4. Sekali kali kunjungi dong multiply aku. Maaf ya numpang nih.. http://r1efy.multiply.com/

  5. wah mas baru tahu cerita itu sekarang jadi nyata
    dan kemarin kita mengikuti akad resepsinya
    joss tenan ya!!

  6. Saya heran, kenapa Mas Arif ini tidak tahu sejak awalnya…

    Inilah yang membuat saya merasa wajib datang ke resepsi pernikahan mereka, hehehe…

    Panjenengan kapan Kang???

  7. Ketika cinta bertasbih sang pencerah dan sang Murrabbi.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: