Oleh: Agus Riyanto | 11 Februari 2008

ANAK RAJAWALI


Sang Rajawali Sejati

Di tengah hutan belantara, di atas sebuh pohon yang tinggi besar dan berdaun lebat, bersaranglah seekor burung rajawali. Dalam sarang tersebut terdapat beberapa telur yang siap menetas. Pada suatu hari, datanglah angin kencang yang menerjang pohon tersebut sehingga satu dari telur-telur rajawali tersebut jatuh. Namun beruntung, telur tersebut jatuh tepat di atas sarang seekor ayam (hutan) sehingga tidak pecah. Kemudian telur tersebut menggelinding menyatu dengan telur-telur ayam yang sedang dierami sang induk.

Hari berganti hari, akhirnya telur rajawali tersebut menetas juga bersama telur-telur ayam lainnya. Dijalaninya hari-hari baru dengan anak ayam yang lain dengan rukun dan ceria. Ke mana-mana mereka bersama, mencari makan dan bermain menelusuri pelosok hutan. Semakin hari tubuh anak rajawali semakin besar dan ia melihat perbedaan fisiknya dengan anak ayam yang lain sehingga timbul penasaran dalam hatinya.

Suatu hari ia memberanikan bertanya kepada induknya, “Bu, kenapa tubuhku berbeda dengan yang lain? Kenapa tubuhku lebih besar dan sayapku lebih lebar?”

Namun sang induk enggan menjawab pertanyaan itu. Akhirnya anak rajawali pun hanya bisa diam dengan rasa ingin tahu yang terpendam di dada. Lama-kelamaan ia pun tak lagi menghiraukan penasarannya itu.

eagle-1.jpg

Suatu ketika ia melihat seekor rajawali sedang terbang tinggi di angkasa. “Oh, betapa indah dan hebatnya rajawali itu, terbang menjelajah di angkasa. Alangkah gagahnya…” gumamnya dalam hati. Ia pandangi rajawali yang sedang terbang itu dengan kagum. Sejak saat itu ia sering menyendiri dan merenung. Ia ingin sekali bisa terbang seperti rajawali tersebut.

Beberapa hari kemudian ia kemukakan keinginannya untuk bisa terbang pada sang induk ayam. Namun dengan ketus sang induk hanya berkata, “Kamu hanya seekor anak ayam, mana mungkin bisa terbang seperti rajawali… Kamu jangan mimpi yang aneh-aneh, nak!”

Tak peduli dengan apa yang dikatakan sang induk, ia pun berusaha mengepakkan sayapnya. Tapi setiap kali ia berlatih terbang, maka anak ayam yang lain mengejeknya dan berkata, “Kamu ingin terbang? Ha..ha..ha.., kamu gila! Kamu kan anak ayam, mana mungkin bisa terbang.”

Mendengar itu semua, anak rajawali itu tidak menjadi sedih dan patah semangat. Justru ia semakin menguatkan impiannya untuk bisa terbang. Ia berlatih tiap hari dengan semangat membara. Jatuh-bangun ia lalui, namun ia terus mencoba untuk bisa terbang. Ia tak pernah menyerah walaupun tubuhnya penuh luka. Ia terus mencoba! Akhirnya ia pun bisa terbang. Mula-mula ia terbang rendah. Namun, lama-kelamaan ia pun bisa terbang tinggi di angkasa. Kini ia menjalani kehidupan sebagai Rajawali, namun tidak pernah lupa dengan saudara-saudara dan induk yang telah membesarkannya. Ia kini telah menjadi Sang Rajawali Sejati…!

eagle-4.jpg

Nah, sahabat yang budiman. Tahu nggak? Sebenarnya kita semua adalah anak rajawali, sama seperti anak rajawali tersebut di atas. Sesungguhnya kita bisa terbang tinggi menjelajah angkasa dengan gagah perkasa.

Sesungguhnya kita terlahir sebagai anak rajawali dan memiliki potensi naluriah sebagai seekor rajawali yang gagah perkasa. Namun malangnya, kita hidup di lingkungan ayam, mengadopsi pemikiran-pemikiran ayam, dan akhirnya hidup sebagai seekor ayam. Kita dengan kejam mengubur impian-impian kita untuk bisa terbang di angkasa sebagai rajawali sebagaimana mestinya. Kita terlalu pasrah dengan keadaan, dan akhirnya mati membusuk sebagai seekor ayam.

Maka sahabat, kalau kita benar-benar ingin terbang, kita harus berani mengepakkan sayapnya dan melompat. Tak peduli sebanyak apa kita jatuh, maka sebanyak itu pula kita melompat lagi. Percayalah kita pasti bisa karena kita adalah anak rajawali!

Kalau kita benar-benar ingin terbang, kita harus berani keluar dari konteks seekor ayam dan berpikir dengan konteks rajawali. Yakinlah kita pasti bisa karena kita adalah anak rajawali!

Lihatlah sahabat, angkasa membentang indah tak bertepi. Kita dapat melihat keindahan bumi manapun dari sini. Kita bisa pergi ke manapun yang kita mau. Kita bisa menjadi diri kita sendiri!

eagle-6.jpg

Sungguh bahagia sahabat, menjadi diri kita yang sesungguhnya, memanifestasikan anugerah talenta dari Sang Pencipta yang ada pada diri kita. Tunggu apalagi sahabat, kepakkan sayapmu! Terbanglah!

eagle-5.jpg

Salam Sukses Dunia – Akhirat!


Responses

  1. Mungkin bisa dikatakan dengan bahasa lainnya begini:

    Kita diciptakan oleh Allah SWT, tentunya masing-masing memilki keunikan dan kelebihannya sendiri.

    Nah, dengan adanya perbedaan kita yang unik itu, maka semestinya kita mampu bersyukur sehingga dengan demikian, kita tahu kekuatan dan potensi diri kita sesungguhnya.

    Untuk selanjutnya menggunakan keunikan dan potensi diri kita ini dengan sebaik-baiknya…maka itu akan mengantarkan kita menuju kesuksesan sejati.

    Uraian renungan yang bagus Mas Agus.
    Salam Luar Biasa Prima!
    Wuryanano

  2. Tulisan yang sangat bermanfaat.

    terus maju Mas Agus.

    Salam ManTab

    Mario Einstain

  3. Bung Agus, artikel dan tulisan anda sangat menginspirasikan pengunjung blog. Anda luar biasa.
    Naskah buku anda sudah masuk ke kami, silakan tunggu kabar. Kami jadwalkan masuk cetak akhir maret ini.
    Salam best seller!!!

    Odop

  4. Mas Agus, artikelnya LUAR BIASA! beneran!
    Ada 1 lagu rohani, yang selalu gue nyanyiin, karena liriknya bagus banget : ” ……ku-kan terbang tinggi, bagai rajawali…melakukan perbuatan yang besar…”
    Jadi, kita pasti bisa terbang tinggi asal kita niat karena Tuhan memang menghendaki setiap manusia untuk dapat terbang tinggi sebab Dia telah memberikan talenta yg dapat dipakai dalam bentuk apapun dan saling melengkapi diantara manusia.

    Oh ya, sepertinya sudah mau launch buku nih, semoga sukses ya!

    Cheers,
    Afra

  5. Terbang ke angkasa memang indah…

    Saya ingin terbang ke penjuru dunia mana pun yang saya inginkan.:-)
    Membawa asa dan cinta untuk sesama musafir kehidupan.

    Jika hidup adalah pilihan, saya memilih ingin menjadi manusia yang bisa memberikan manfaat bagi sebanyak mungkin manusia lain.

    Salam SDA!

  6. sepertinya saya pernah mendengar cerita yang sama tapi tentang anak singa yang dibesarkan oleh kambing. Nah ketika ada sekelompok singa yang menyerang kambing, ternyata si singa yang dibesarkan kambing tidak bisa mengaum tapi mengembik:) mirip mungkin maknanya yahhh, salam kenal


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: