Oleh: Agus Riyanto | 15 November 2007

ARTI PENTING KONSISTEN BERIBADAH


Manusia selain sebagai makhluk sosial yang hidup saling ketergantungan dengan manusia lain, juga merupakan makhluk yang ber-Tuhan. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, manusia mengakui adanya kekuatan yang Maha Dahsyat yang mengendalikan alam semesta ini yakni Tuhan. Bahkan dalam sejarah pun, Fir’aun yang mendaulat dirinya sebagai Tuhan dan memerintahkan rakyatnya untuk menyembahnya–ketika ajal hendak menjemputnya pada saat pengejaran terhadap Nabi Musa tepat di tengah Laut Merah yang ketika itu terbelah oleh tongkat Nabi Musa kembali menutup—hendak berucap mengakui adanya Tuhan. Tapi karena pengakuan itu datangnya sangat terlambat, maka Fir’aun pun mati dengan tobat yang tidak diterima dan jasadnya konon ditakdirkan tetap utuh sebagai pelajaran bagi manusia generasi berikutnya.

Sebagai manusia yang beriman pada Tuhan, sudah menjadi fitrah bagi kita untuk menyembahNya. Untuk itu kita pun memeluk agama yang kita yakini. Melaui agama tersebut, kita diberi tata cara dan ritual untuk menyembahNya sesuai ajaran yang dibawa Nabi dan Rosul. Seperti dalam Islam, umatnya diwajibkan untuk mengucapkan 2 kalimat syahadat, sholat 5 waktu, zakat, puasa pada bulan Ramadhan, dan pergi berhaji bagi yang mampu. Demikian juga dengan agama-agama yang lain, semua memiliki kewajiban dan tata cara ibadah sendiri-sendiri.

Kewajiban untuk melakukan ibadah tersebut sudah seharusnya kita laksanakan dengan taat dan disiplin. Ibadah itu tidak boleh kita rasakan sebagai beban, tetapi harus dilaksanakan dengan penuh kesadaran. Kesadaran bahwa kita adalah hamba ciptaan-Nya, kita ini makhluk yang lemah dan tiada daya/kekuatan selain dari-Nya. Kesadaran bahwa kita adalah makhluk yang tidak ada apa-apanya dibanding kekuasaanNya; sebagaimana kata Aa Gym dalam ceramah-ceramahnya: kita ini asalnya setetes air mani (sperma), ke mana-mana membawa kotoran (di dalam perut), dan akhirnya menjadi mayat yang kembali ke tanah.

Dan kita pun harus sadar bahwa nikmat dan karunia Tuhan yang tercurah kepada kita setiap saat tiada terhitung banyaknya. Dengan kesadaran ini kita akan sadar bahwa beribadah bukan lagi kita anggap sebagai kewajiban, tetapi sudah menjadi kebutuhan sebagai makhluk yang tahu berterima kasih kepada Tuhan. Toh, seandainya seluruh manusia di bumi ini tidak ada yang menyembahNya, tidak akan terkurangi sedikitpun keagungan Tuhan; tetapi sudah menjadi fitrah (bawaan alami) manusia untuk beribadah dan menyembahNya. Jadi, bukan Tuhan yang butuh kita untuk menyembahNya, melainkan kita yang butuh untuk bersujud, beribadah dan menyembahNya dengan segenap iman kita. Tanpa beriman dan beribadah, mungkin kita bisa memiliki kekayaan melimpah yang pernah ada di bumi ini—seperti orang-orang atheis yang pernah hidup tapi kaya raya—tetapi kita tidak akan pernah merasakan yang namanya kebahagiaan dan kedamaian jiwa yang hakiki.

Ada saat-saat dalam hidup ini, di mana kita menghadapi saat-saat paling sulit, misalnya kehilangan orang yang kita cintai, kehilangan pekerjaan, kehilangan harta-pangkat-jabatan, atau tertimpa musibah yang amat menyakitkan—ketika tidak ada seorangpun yang dapat membantu kita—ke mana kita akan lari selain kembali pada-Nya?

Dengan konsinten beribadah, kita memiliki sumber kekuatan dari dalam yang membuat kita percaya diri dalam menghadapi badai apapun dalam hidup ini karena kita tahu semua berada dalam kendali Yang Maha Kuasa. Dengan konsisten menjalankan idabah, kita akan menjadi manusia yang bertakwa—yang merupakan derajat manusia tertinggi di sisi Tuhan. Takwa itu sendiri memiliki definisi pokok: menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Sebuah definisi yang kelihatannya singkat, namun boleh jadi akan lebih sulit untuk mempraktekkannya. Walaupun demikian, manusia yang sukses sejati—menurut saya—adalah manusia yang selain sukses secara duniawi juga sukses secara ukhrowi, yakni yang telah mencapai derajat takwa tersebut.

Dari mana kita mengetahui indikasi seseorang telah mencapai derajat takwa karena tidak ada satupun institusi atau lembaga yang mengeluarkan seftifikat untuk ini? Mungkin kita bisa melihatnya dari akhlak atau perilakunya, tutur katanya, kepribadiannya, dan seluruh amal perbuatannya dalam semua segi kehidupan.

Rajin ibadah bukanlah monopoli untuk mereka yang sudah tua renta atau ada yang bilang “yang sudah bau tanah”, tapi sudah menjadi hak dan kewajiban kita di semua usia. Usia muda bukanlah alasan yang tepat untuk menunda menjalankan ibadah karena banyak juga yang masih muda-muda yang pergi duluan ke alam baka. Rajin saja ternyata tidak cukup kalau hanya berjalan satu-dua hari, seminggu atau sebulan (kebetulan pas ada masalah), namun selain rajin—juga harus terus-menerus, berkesinambungan atau istilah kerennya: konsisten.

Tak akan pernah rugi kita rajin ibadah mulai sekarang dan secara konsisten melakukannya. Kita tidak pernah tahu kapan hidup ini akan berakhir, tapi kita tahu hari ini adalah waktu kita yang ada untuk kita mengukir segala prestasi. Tidak ada manusia sukses yang lalai pada Tuhan, tak pernah melaksanakan ibadahnya pada Yang Kuasa. Jika pun ada, pasti hatinya kering kerontang, lebih kering dan tandus dari gurun Sahara sekalipun; dan suksesnya pun pasti hanya di salah satu bidang kehidupan saja. Bukankah kita ingin kesuksesan holistik, sukses di semua aspek kehidupan kita?


Responses

  1. Wah… Mantap sekali blog bung Agus sekarang. Salut deh bro, isinya motivasional banget. Salam Best seller.

  2. Manusia adalah hewan yang berfikir.
    Alangkah sejenak kita berfikir tentang kenikmatan yang diberikan oleh ALLAH SWT.
    kita sering lupa..
    kita pura-pura tidak tahu.
    betul khan bung Agus

    Salam Dahsyat

    tofan

  3. Benar Mas. Ibadah perlu konsisten. Ini sesuai anjuran Rasulullah SAW: beribadahalah dengan hal-hal yang meringankanmu dan lakukanlah ia dengan terus menerus, atau dengan redaksi lain, Allah cinta melihat hambanya yang beribadah sedikit tapi terus menerus (konsisten).
    Bagaimana mas?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: