Oleh: Agus Riyanto | 24 Oktober 2007

BADAI PASTI BERLALU (2): MENCARI CINTA SEJATI


 1257.jpg

Seperti dikisahkan dalam artikel sebelumnya, sang pemuda harus menghadapi kenyataan pahit; kekasih yang amat ia cintai telah mengkhianati dan mencampakkannya begitu saja. Walau kenyataan itu menyakitkan, jika kita dihadapkan pada peristiwa yang sama atau hampir sama dengan apa yang saya kisahkan tersebut maka kita bisa mengambil beberapa pilihan.

Pilihan pertama, kita menghadapi peristiwa itu dengan sikap negatif, kecewa dan berkelana dalam kesedihan mendalam.

Pilihan kedua, kita hadapi kenyataan itu dengan lapang dada dan mengambil pelajaran darinya. Karena kita tidak pernah bisa mengendalikan sesuatu di luar diri kita, maka kabar baiknya adalah kita tentu bisa mengendalikan sesuatu yang ada pada diri kita yakni pikiran kita.

Bisa saja sang pemuda itu bermuram durja karena kecewa yang mendera perasaannya, kemudian lari pada minuman keras, narkoba, pergaulan bebas, atau hal negatif semacamnya; namun tidak demikian adanya. Ia segera merenungi apa yang telah terjadi dan mencari hikmah di balik semua itu. Akhirnya ia dapat mengambil kesimpulan bahwa semua itu terjadi sebagai sebuah proses pembelajaran dan pendewasaan mental agar ia dapat merubah diri menjadi lebih baik. Tidak semua hal yang menyakitkan itu buruk bagi kita, dan hal itu kembali pada persepsi kita, cara kita memaknai kejadian/pengalaman itu. Jika kita memaknai secara positif maka itu akan menguntungkan kita, namun jika kita memaknai secara negatif tentunya hal itu akan merugikan kita. Jadi apapun bentuk sebuah peristiwa/kejadian, jangan sampai kita salah dalam memberi makna.

Tidak ada cinta yang abadi di dunia ini selain cinta Tuhan kepada hamba-Nya. Karena cintaNya, seekor singa yang buas tidak mungkin memakan anaknya walau selapar apapun ia. Karena cintaNya pula, seorang ibu dengan penuh kasih melahirkan, menyusui, mengasuh, dan membesarkan anaknya tanpa pamrih apapun sampai sang anak tumbuh menjadi manusia dewasa.

Sering kali seseorang yang jatuh cinta–baik pada harta, pangkat/jabatan maupun lawan jenis–begitu mencintainya sampai berurat dan berakar sangat dalam. Cintanya begitu melekat di hati, dan ketika cintanya tidak terpenuhi/terbalas atau apa yang dicintainya tiba-tiba hilang/pergi maka kemelekatan itu akan menjadi sebuah bencana tersendiri. Seperti kata pepatah, “Jangan memasukkan ayam dalam kamar.” Karena setelah masuk, ayam itu akan memporak-porandakan seluruh isi kamar sebelum akhirnya bisa dikeluarkan. Jadi, kalau kita harus mencintai sesuatu maka mencintailah secara proporsional.

Dalam hal cinta dan mencintai, hendaknya kita memahami dan mengerti sepenuhnya sesuai dengan prioritras seperti yang telah diajarkan agama. Boleh saja kita mencintai apapun yang ada di dunia ini, baik berupa harta, kedudukan, suami/istri, anak atau apapun itu, namun hendaknya jangan sampai melekat erat dalam hati. Karena semua itu pada hakekatnya adalah milik Tuhan, sehingga pada suatu saat Tuhan mengambilnya dari kita, kita sudah siap dan menerima apapun yang terjadi dalam hidup ini dengan penuh syukur.

Mencintailah dengan tulus namun jangan membabi buta. Mencintailah sebagaimana kita ingin dicintai dan jangan mengatasnamakan cinta untuk tujuan tertentu. Cinta yang tulus adalah cinta yang datang dari hati, dan sesuatu yang datang dari hati maka hati pulalah yang akan menerimanya. Prioritaskan cinta kita kepada sesuatu yang hakiki, bukan sesuatu yang fana.

Jika diurutkan maka prioritas cinta kita akan menjadi sebagai berikut:

1. Cinta kepada Alloh SWT/Tuhan Semesta Alam/Sang Pencipta

2. Cinta kepada RosulNya

3. Cinta kepada keluarga

4. Cinta kepada sesama manusia

Jika kita dapat mencintai Sang Pencipta melebihi cinta kita kepada apapun dan siapapun selain Dia, niscaya kita akan mencapai kedamaian jiwa yang sesungguhnya. Bagi Anda yang sudah pernah membaca buku “Cinta Mistik Rabiah Al Adawiyah” karya Abdul Mun’im Qandil, akan mendapat gambaran betapa dahsyatnya sebuah cinta yang suci, yang hakiki, dan yang abadi.

Tiada yang dirindukan seorang hamba yang secara total mendedikasikan cintanya pada Sang Pencipta selain mengharap bisa bertemu dan melihat Tuhannya kelak di alam yang abadi dalam keadaan yang diridloi. Hidupnya pun akan selalu damai dan senantiasa bersyukur dalam naungan rahmatNya. Sebagaimana firmanNya dalam kitab suci, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridloiNya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu.”

Salam damai bertabur cinta…

Agus Riyanto

~Sukses sejati, sukses dunia-akhirat~

Iklan

Responses

  1. Ketika cinta datang apakah itu cobaan atau godaan??? cinta yang hakiki harus kita punya lebih dahulu agar kita tidak sedih dalam menyikapi cinta, cinta yang hakiki adalah cinta kepada Allah..untuk menuju cinta yang hakiki manusia perlu proses yang sangat panjang dan penuh cobaan dan kalo bisa melewatinya Insya Allah hidup kita akan tenang dunia n akhirat.

  2. ketika kita memiliki cinta yang hakiki, tiba-tiba orang yang kita cintai berpaling dari kita apakah itu cobaan,gadaan ataukag pengkianat. aku mohan penjelasannya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: