Oleh: Agus Riyanto | 11 Agustus 2007

SENTUHAN DAHSYAT SEBUAH SEMANGAT


Setiap peristiwa besar dan menentukan dalam sejarah adalah kemenangan dari semangat yang menggelora. ~ Ralp Waldo Emerson

Dulu, pada masa perang mempertahankan kemerdekaan, banyak peristiwa heroik terjadi. Dari situ lahirlah sosok-sosok pahlawan yang perjuangannya luar biasa dalam membela tanah air dan nama mereka tertulis dengan tinta emas dalam catatan sejarah.

Salah satu dari mereka adalah Bung Tomo, putra kelahiran Surabaya (lahir: 3 Oktober 1920; wafat: 7 Oktober 1981), yang tampil lewat siaran radio menggelorakan semangat para pejuang Surabaya ketika menghadapi gempuran tentara Sekutu dari darat, laut dan udara pada tanggal 10 November 1945. Kobaran semangat Bung Tomo lewat siaran radio dengan suara yang menggelegar mampu membakar semangat arek-arek Suroboyo untuk bertempur habis-habisan melawan musuh hingga titik darah penghabisan, sehingga pertempuran pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya tersebut tercatat sebagai pertempuran terdahsyat sepanjang sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dan di kemudian hari peristiwa itu diabadikan sebagai Hari Pahlawan yang kita peringati hingga sekarang. Bung Tomo berhasil membagikan semangatnya yang membara sehingga para pejuang sontak mengangkat senjata membela sang Merah Putih agar tetap berkibar di langit nusantara walau nyawa jadi taruhannya. Semangat yang menggelora berhasil menorehkan peristiwa besar dalam sejarah.

Demikian juga kita dapati dalam lagu kebangsaan kita “Indonesia Raya” yang digubah oleh W. R. Supratman, di dalamnya sarat dengan semangat yang membara, semangat persatuan dan kesatuan, semangat nasionalisme, dan semangat untuk bangkit menjadi bangsa yang luhur dan berjaya.

Namun, kita sebagai generasi penerus saat ini seolah-olah sedang terlena dan mengabaikan makna lagu kebangsaan kita tersebut. Krisis multi dimensi yang menimpa bangsa kita di penghujung abad 20 dan belum pulih total hingga saat ini, seharusnya mengembalikan kita kepada semangat juang ’45 dan juga semangat lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya.

Sekarang kita sepertinya butuh lebih banyak semangat dan penyemangat untuk bangkit dari segala keterpurukan. Semoga akan lahir lebih banyak motivator-motivator dan yang terpenting tumbuhnya motivasi dari dalam diri (self motivation) sehingga tiap individu bisa bangkit menjadi sosok warga negara yang memiliki jiwa nasionalisme Indonesia dan semangat juang ’45 yang dapat mengembalikan jati diri bangsa sehingga akan lenyap budaya korupsi, kolusi dan nepotisme; kemiskinan berubah menjadi kemakmuran; ekspor pembantu berubah menjadi ekspor guru; dan setiap anak bangsa bangga menjadi anak Indonesia.

Pak Andrie Wongso, motivator nomor 1 Indonesia membagikan semangatnya kepada bangsa Indonesia dengan slogannya, “Success is My Right!” atau penjabarannya “Kesuksesan bukan milik orang-orang tertentu. Sukses milik Anda, milik saya, dan milik siapa saja yang benar-benar menyadari, menginginkan, dan memperjuangkan dengan sepenuh hati.Dengan semangat “sukses adalah hak saya!” tersebut, ribuan orang menjadi terpacu dan menyadari potensi dirinya bahwa kesuksesan bisa mereka raih dengan perjuangan yang sungguh-sungguh dan semangat pantang menyerah. Semangat tersebut telah berhasil menghidupkan orang yang hampir mati, maksudnya bukan jasadnya yang mati tapi semangatnya. Dengan begitu, akan lebih banyak orang yang terbantu menemukan kehidupannya yang lebih baik yang sebenarnya ada di dekatnya, hanya saja karena semangatnya tertidur sehingga ia mengira itu hanya mimpi.

Sungguh dahsyat sentuhan sebuah motivasi. Walau kelihatannya sederhana, namun hal itu bisa menimbulkan akibat yang luar biasa. Sebagaimana Bung Tomo berhasil membakar semangat juang arek-arek Suroboyo melawan tentara Sekutu, kita pun butuh motivator untuk kemajuan diri kita.

Dan motivasi terdahsyat adalah motivasi yang berasal dari dalam diri kita sendiri. Kita tidak tahu ketika kita memotivasi atau menyemangati orang lain untuk segera melakukan hal positif dan memberikan dukungan penuh padanya, ternyata bagi orang itu bagai membangunkan dirinya dari dalam kubur.

Semangat yang kita tularkan ternyata seakan menghidupkannya dan semangat itu akan hidup selamanya selagi ia jaga dan pelihara. Seperti halnya patung Liberty di Amerika, tugu Monas di Jakarta, maupun Monumen Jenderal Sudirman yang berdiri kokoh; semangat mereka tetap memancar hingga anak cucu kita yang melihat dan mengetahui sejarahnya.



Responses

  1. Oh. . .saya sangat buTuh bimbingan, agar saya tetap memiliki motivasi.
    T0l0ng di bAntU ya. . .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: