Oleh: Agus Riyanto | 28 Oktober 2008

PENGARUH KRISIS MONETER AMERIKA SERIKAT


Dari judul tulisan ini, kita tahu bahwa hal yang akan dibahas bukanlah topik yang menyenangkan, melainkan sebuah topik yang membuat banyak orang ketakutan, termasuk pemerintah. Dan ini juga menjadi salah satu penyebab kesengsaraan yang dirasakan rakyat kecil secara global dan sumber ketakutan para pemilik modal yang bermain di bursa saham internasional.

A. KRISIS MONETER DI AMERIKA SERIKAT

Sebelum membahas lebih jauh, mari kita simak pendapat Fauzi Ichsan, Senior Vice President Standard Chartered Bank, yang menceritakan dengan cukup detail tentang krisis moneter yang pernah terjadi. “Lama saya mengira bahwa krisis ekonomi terparah yang pernah saya alami adalah krisis moneter (krismon) Asia pada tahun 1997/1999. Ternyata dampak krismon Asia kalah jauh dibandingkan dengan krisis finansial yang melanda dunia sekarang. Sewaktu krismon Asia, setidaknya ada ’surga aman’ atau ’safe heaven’ bagi para investor global, yaitu di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang. Investor bisa menjual saham dan surat utangnya di Indonesia, Thailand dan Korea (walau rugi) yang mengalami krisis, dan membeli saham di bursa New York dan London. Sekarang, negara safe heaven pun mengalami krisis ekonomi yang parah. Investor kesulitan mencari safe heaven untuk memarkir dananya dan, karena pasar saham, surat utang dan komoditas semuanya anjlok, cash is king again“.

Seberapa parah krisis finansial dunia ini?

Patokan ada. Lehman Brothers, Bear Stearns, Merrill Lynch, AIG, Freddie Mac dan Fannie Mae, sebagai lembaga finansial raksasa AS, selamat menghadapi resesi ekonomi AS paska serangan teroris tahun 2001. Mereka selamat manghadapi resesi ekonomi dunia akibat embargo minyak OPEC tahun 1973 dan selamat menghadapi dua perang dunia. Mereka juga selamat menghadapi resesi ekonomi dunia tahun 1930-an yang sering disebut “the great depression”, akibat krisis keuangan AS pada 1929.

Namun, mereka tidak selamat menghadapi krisis kredit pembelian rumah (KPR) subprime di AS pada 2007/2008. Artinya, terpuruknya beberapa lembaga keuangan terbesar di dunia tersebut adalah indikasi bahwa permasalahan ekonomi AS dan dunia sekarang memang jauh lebih parah dari perkiraan kita sebelumnya.

Dari uraian di atas, kita tahu bahwa krisis moneter di Amerika Serikat akhir-akhir ini telah mewabah ke berbagai benua dan dipastikan lebih parah dari krisis yang sudah pernah terjadi.

B. DAMPAK SECARA GLOBAL

Krisis moneter di Amerika Serikat kali ini menumbulkan dampak luar biasa secara global. Hal ini bisa dilihat dari kepanikan investor dunia dalam usaha mereka menyelamatkan uang mereka di pasar saham. Mereka ramai-ramai menjual saham sehingga bursa saham terjun bebas. Sejak awal 2008, bursa saham China anjlok 57%, India 52%, Indonesia 41% (sebelum kegiatannya dihentikan untuk sementara), dan zona Eropa 37%. Sementara pasar surat utang terpuruk, mata uang negara berkembang melemah dan harga komoditas anjlok, apalagi setelah para spekulator komoditas minyak menilai bahwa resesi ekonomi akan mengurangi konsumsi energi dunia.

Di AS, setelah melihat bursa saham Wall Street terus melorot, akhirnya kongres menyetujui program penyelamatan sektor keuangan (troubled asset recovery program - TARP) senilai US$ 700 miliar yang diajukan oleh pemerintah. Namun, karena lamanya negosiasi politik antara pemerintah dan kongres, investor kecewa melihat politikus di Washington tidak memiliki sense of crisis.

Krisis pasar modal (saham dan surat utang) global pada dasarnya hanya memengaruhi investor pasar modal. Tetapi krisis perbankan global bisa mempengaruhi sektor riil ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Inti cerita yang terjadi adalah sektor perbankan AS sedang terpuruk, kekurangan modal, dan enggan meminjamkan dolarnya, termasuk ke bank-bank internasional di Eropa dan Asia.

Akibatnya, perbankan internasional kekurangan dolar untuk memberi pinjaman ke para pengusaha dunia yang membutuhkan dolar untuk investasinya (untuk impor mesin, bahan baku, dan sebagainya), termasuk di Indonesia.

Kita sudah tahu bahwa dolar AS merupakan mata uang inti dalam dunia usaha. Akibatnya, walaupun suku bunga bank sentral AS (atau Fed Funds Target Rate) sampai diturunkan ke 1,5%, suku bunga London Inter-Bank Offer Rate (LIBOR), sebagai patokan suku bunga yang digunakan oleh pelaku ekonomi, melonjak tajam.

Masalah rumit yang terjadi sekarang, macetnya sistem pembayaran dan penyaluran kredit global sebagai ‘oksigen untuk napasnya dunia bisnis’. Suku bunga bank sentral bisa rendah, tetapi suku bunga kredit untuk pelaku bisnis, kalaupun bisa dapat pinjaman, sangat tinggi karena perbankan ketakutan meminjamkan dananya. Menurut para ahli ekonomi, sebenarnya hal itu merupakan bahaya sektor perbankan global. Jadi, bukan anjloknya pasar saham, yang sebetulnya bisa melumpuhkan pertumbuhan ekonomi dunia secara perlahan.

Akhirnya, bank sentral dunia mengerti betapa pentingnya melakukan kebijakan yang terkoordinasi. Tujuh bank sentral (termasuk US Federal Reserve, European Central Bank, Bank of England dan Bank of Canada) akhirnya memangkas suku bunganya 0,5%. Ini merupakan yang pertama kalinya kebijakan suku bunga bank sentral dilakukan secara bersamaan dalam skala yang besar. Terjadi di tahun 2008 ini.

Hal lain yang dilakukan adalah kebijakan terkoordinasi bank sentral dan pemerintah dunia selebihnya harus ditujukan untuk memenuhi tiga sasaran. Pertama, memulihkan kembali sistem perbankan dan pembayaran global yang lumpuh agar sirkulasi dana internasional bisa normal kembali – dan bank bisa memberi kredit lagi.

Kedua, mengeluarkan aset bermasalah (terutama surat utang KPR subprime) dari perbankan AS dan memperbesar modal perbankan agar lebih bisa memberi kredit dalam jumlah yang bisa mendukung pertumbuhan ekonomi.

Ketiga, bank sentral dunia harus berani terus menurunkan suku bunga (untuk membantu meringankan bunga kredit) dan, yang lebih penting, pemerintah harus memperbesar belanjanya untuk pembangunan infrastruktur dan memberi stimulus ekonomi – karena investor swasta enggan berinvestasi dalam krisis likuiditas.

Kebijakan di atas bisa berhasil, bisa juga gagal. Hal tersebut beralasan karena kebijakan ekonomi berskala global belum pernah dilakukan dalam sejarah, tetapi risiko terjadinya resesi ekonomi dunia yang parah akan lebih besar kalau bank sentral dan pemerintah dunia tidak melakukan apa-apa.

Kalau berhasil, kapan hasilnya akan kelihatan? Paling cepat dua tahun. Artinya, resesi ekonomi AS dan Eropa akan lebih parah (sementara pertumbuhan ekonomi dunia melambat) pada 2009, sebelum pulih pada 2010. Kenapa? Karena titik terburuk ekonomi AS dan Eropa belum tercapai: misalnya, turunnya harga properti AS (pemicu krisis subprime) belum berakhir (jumlah rumah yang belum terjual masih terlalu banyak), pabrik masih melakukan PHK masal dan masih banyak bank yang harus bangkrut.

Selain itu, dampak stimulus kebijakan moneter dan fiskal memang makan waktu lebih dari satu tahun. Kalau ekonomi dunia baru pulih 2010, kapan pasar saham global pulih? Paling cepat semester 1, 2009, karena pasar saham biasanya menguat 6-9 bulan sebelum sektor riil ekonomi pulih.

C. DAMPAK DI INDONESIA

Dampak resesi ekonomi AS dan Eropa terhadap Indonesia tentunya negatif, tetapi karena net-ekspor (ekspor dikurangi impor) hanya menggerakkan sekitar 8% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia, maka dampaknya relatif kecil dibandingkan dengan negara tetangga yang ketergantungan ekspornya ke AS besar, misalnya Hong Kong, Singapura, dan Malaysia.

Seperti pada tahun 2001/2002, atau terakhir kali AS mengalami resesi, ada tiga negara di Asia yang tidak terlalu terpukul ekonominya: China, India, dan Indonesia. Ketiga negara ini memiliki penduduk yang banyak sehingga belanja masyarakatnya merupakan motor penggerak ekonomi yang kuat. Untuk ekonomi Indonesia, dampak negatif kenaikan harga bahan bakar minyak sebesar 125% pada 2005 jelas lebih besar dari pada dampak resesi ekonomi AS.

Namun demikian, krisis finansial global dan lumpuhnya sistem perbankan global yang berlarut akan berdampak sangat negatif terhadap Indonesia, karena pembiayaan kegiatan investasi di Indonesia (baik oleh pengusaha dalam maupun luar negeri) akan terus menciut, penyerapan tenaga kerja melambat dan akibatnya daya beli masyarakat turun, yang akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Dari sini kita tahu bahwa dampak krisis moneter di Amerika Serikat terhadap perekonomian Indonesia tidak hanya pada melemahnya nilai tukar Rupiah, namun juga pada berbagai sector lain yang lebih rumit. Berikut akan dijelaskan dengan singkat.

Rupiah Melemah

Akibat krisis moneter di Amerika Serikat, nilai tukar rupiah melemah dan sempat menembus Rp 9.860 per USD. Di pasar antarbank, rupiah bahkan sempat menembus Rp 10.000 per USD. Pelemahan rupiah yang terjadi saat ini masih sejalan dengan beberapa mata uang lainnya.

Berbeda dengan krisis 1997, BI kini juga telah mengetahui pencatatan valas perbankan. BI juga tetap waspada dan terus menjaga agar tidak terjadi pergerakan gejolak yang terlalu besar. BI sebagai bank sentral meminta pasar tidak panik menghadapi situasi saat ini.

Turbulensi di pasar finansial saat ini terjadi di seluruh dunia. Bank sentral akan terus memantau perkembangan ekonomi global, dan berusaha agar dampaknya bisa seminimal mungkin.

Jatuhnya Bursa Saham

Dampak lain yang terjadi akibat krisis moneter di Amerika Serikat adalah jatuhnya bursa saham yang terjadi dalam pertengahan Oktober 2008. Meskipun para ahli ekonomi menilai kecil kemungkinan krisis ini menjelma menjadi krisis ekonomi berupa ambruknya perbankan dan sektor riil. Namun untuk meningkatkan kepercayaan pelaku pasar, pemerintah sebaiknya fokus menjaga daya beli masyarakat.

Pada hari Jumat tanggal 10 Oktober 2008, pemerintah membatalkan rencana pembukaan kembali perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang ditutup pada hari Rabu, 8 Oktober 2008. Hal ini dilakukan karena otoritas bursa ingin melindungi emiten. Emiten perlu dilindungi dari kemungkinan keterpurukan nilai harga saham akibat sentimen negatif pasar terhadap kondisi keuangan global yang sedang krisis.

Para ahli menilai tingkat krisis yang dihadapi Indonesia sangat berbeda dengan Amerika Serikat (AS), Eropa, dan negara maju lainnya. Di AS, krisis telah merasuk ke semua sektor, mulai dari pasar modal, perbankan, hingga sektor riil.

Namun, di Indonesia krisis hanya terjadi di pasar modal. Krisis yang terjadi di pasar modal dinilai tidak mudah bertransmisi ke sektor lain mengingat kontribusi pasar modal dalam sistem keuangan Indonesia amat kecil.

Wakil Presiden Jusuf Kalla juga memberikan pendapatnya di sebuah surat kabar bahwa sebenarnya ekonomi tidak terlalu terpengaruh dengan ambruknya bursa dunia, seperti Wall Street. ”Perbedaannya, kita banyak menggantungkan pada ekonomi domestik. Seperti di AS, pengaruh bursa itu sampai 1,5 kali dari produk domestik bruto mereka. Kalau kita pengaruhnya hanya 20 persen. Jadi, jangan terlalu dirisaukan,” kata Wakil Presiden dalam sebuah wawancara di media massa.

Penyesuaian yang terjadi di pasar modal dan nilai tukar domestik merupakan hal wajar karena seluruh dunia terkena imbas krisis keuangan AS. Penurunan ekonomi AS dan Eropa dinilai tidak perlu dikhawatirkan mengingat peran mereka dalam perdagangan dunia makin menyusut. Sebagai gantinya, kini muncul kekuatan ekonomi baru, seperti China, India, dan Rusia.

Krisis keuangan global yang terjadi saat ini merupakan koreksi atas kesenjangan (gap) yang terjadi antara pertumbuhan sektor riil dan sektor finansial. Koreksi berupa penurunan harga-harga di sektor finansial dan kenaikan harga-harga di sektor riil, seperti harga komoditas.

Hal tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa meskipun krisis moneter di Amerika Serikat telah memicu krisis ekonomi global, dan di Indonesia juga terkena dampaknya dengan melemahnya nilai Rupiah dan jatuhnya pasar saham, kita tidak perlu khawatir karena krisis tersebut tidak akan melumpuhkan perekonomian Indonesia seperti yang terjadi pada sepuluh tahun yang lalu.

D. PENUTUP

Demikian sekilas penjelasan tentang krisis moneter di Amerika Serikat dan dampaknya secara global maupun terhadap Indonesia, terutama tentang akibat krisis tersebut terhadap nilai tukar Rupiah. dan bursa saham di Indonesia. Apa yang penulis paparkan di tulisan ini bersumber dari berbagai media massa nasional seperti Republika, Kompas, Kedaulatan Rakyat dan beberapa website ekonomi.

Dunia ekonomi global memang sedang bergejolak. Untuk itu, tidak ada salahnya kita meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan kita agar tetap berada di jalan yang lurus, meski separah apa pun krisis ekonomi melanda negeri kita. Semoga semua yang buruk segera berlalu dan datanglah masa depan baru yang lebih cerah dan membahagiakan bangsa ini.

Semoga bermanfaat bagi pembaca semua.

Salam SDA!

About these ads

Responses

  1. Sebuah berita yang menarik untuk disimak, bahwa sekarang kondisi perekonomian negara Adidaya seperti Amerika Serikat dibuat gempar oleh karena masalah kredit perumahan yang macet.
    Krisis subprime mortgage (kredit perumahan macet) terbukti berdampak serius terhadap perekonomian Amerika Serikat . Sinyal soal perlambatan ekonomi Amerika Serikat mulai menjadi jelas. Hal ini dapat kita lihat dari menurunnya belanja konsumen di tengah terpuruknya sektor perumahan.
    Pesan saya, semoga krisis ini tidak berlangsung lama dan perekonomian dunia kembali pulih…

  2. Yup yup, moga2 krisis finansial multidimensi yang sekarang melanda dunia bisa segera teratasi. Meski ketergantungan ekonomi kita terhadap Amerika relatif kecil, namun jika berlangsung cukup lama akan menimbulkan pengaruh yang besar, terutama pada barang/produk yang sebagian besar menggunakan produk impor dari Amerika (mis.kedele)… Mari kita beri dukungan kepada pemerintah, sekecil apapun itu dengan “HIDUP DALAM KESEDERHANAAN”

  3. penjelasan yang bagus,
    thx for sharing

  4. seharusnya indonesia itu lebih realistis dalam menghadapi krisis global yang terjadi saat ini.dimana indonesia saat ini hanya melihat dan berjanji saja tidak mau untuk mengalihkan usaha pada sektor minyak untuk dikelola sendiri agar harga minyak yang ada di indonesia tidak terlalu mahal seperti saat ini. TERIMA KASIH

  5. Ah buat saya kapan kita mandiri sendiri ibarat calon mah Independent lha….orang lain demam ya kita cuman dehem doank…

    mustinya bisa jadi pelajaran kalau negara ini pondasi perekonomian masih tergantung kondisi negara lain

  6. sebenernya ya…
    klo Indonesia pengin utk maju ya jangan terlalu terpaku terahadap keadaan yg sekarang lah….
    kita bisa maju koq..
    tuh buktinya banyak orang Indonesia pergi ke LN utk kerja cuman gara2 rupiah turun….
    makanya kita semua skrg hrs tahu gmna cara utk menrik orang2 tsb kmbli ke Indonesia….

  7. boleh dunk aq maw jawab pertanyaan guru qw dari sini!!!! dikiiiiiiit aja!!!! yayayayaya!!!!! cz, aq bingung mw nyari yg lebih ringkasZzzzz!,…………..

  8. Terima kasih buat sahabat2 yang sudah memberikan apresiasi.
    Semoga ada manfaat yang bisa diambil.

  9. Terima kasih artikelnya. Membantu sekali sebagai bahan pengerjaan materi makalahku. Sip!

  10. aku tu bingung…..
    amerika yang krisis..kenapa indonesia ikut-ikutan ya…
    kayak demam aja…
    Apa kurang vitamin indonesia ya…?

  11. thanks
    makalahku bisa selesai karena dari sini bahannya lengkap

  12. kasian bangt ya dunia ini…krisis trusss. apa ini salah satu tanda kiamat ya?

  13. Mas Erwan, kiamat itu ada 2 macam, yakni kiamat besar dan kiamat kecil.

    Dalam kasus ini, dari dulu yang namanya krisis selalu bikin banyak orang kena “kanker” alias “kantong kering”, hehehe…

    Yang tidak boleh terjadi dalam hidup kita adalah “krisis iman”, karena akibatnya sangat berbahaya.

    Salam SDA!

  14. Assalamu alaikum bang, saya dari makassar, ini kunjungan pertama ke blog abang. Artikel yang menarik, paling tidak bisa menambah pengetahuan saya tentang krisis yang terjadi di dunia akibat dari keongkahan amerika yang merasa dapat mengontrol dunia ini. Oia artikel ini juga bisa kan saya pakai sebagai bahan tugas makalah saya. Pasti bisa dong.. Makasih.. Saya insyaAllah bakal datang lagi, sapa tau ada artikel buat makalah saya yang laen, he..he..he Salam hangat dari Makassar.

  15. Wah keren

  16. bisa jadi masukan skripsi gue

  17. Great Topic, Great Analysis and It’s nice to read it.

  18. teruskan berkarya man….ganbate’!!!!

  19. nice artikel, izin ngutip buat makalah…tks…

  20. saya ingin tanya pengaruh krsis ekonomi di AS terhadap negara berkembang seperti indonesia contoh nya apa?

  21. saya izin ambil buat makalah yah bang. makasih. nanti saya ambil dan cantumkan creditnya. makasih.

  22. sama bang ijin jg ya buat bahan proposal heheh

  23. May I simply say what a relief to discover an individual who genuinely knows what they’re talking about on the net. You actually realize how to bring a problem to light and make it important. More and more people have to look at this and understand this side of your story. I was surprised you are not more popular given that you surely have the gift.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 65 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: