Oleh: Agus Riyanto | 15 Oktober 2007

ANTARA CINTA DAN NAFSU

Banyak muda-mudi jaman sekarang yang asyik masyuk terseret dalam pergaulan bebas. Pacaran seolah menjadi budaya. Pacaran menjadi nuansa bagi mereka untuk menuangkan rasa cinta pada sang kekasih. Rasa rindu ingin bertemu selalu menghantui mereka, para remaja yang sedang dimabuk cinta. Malangnya, ajang bercengkerama dua anak manusia berlainan jenis (bukan muhrim) ini lebih digemari dari pada membaca buku-buku motivasi atau kegiatan positif lainnya. Lebih malang lagi, tontonan sinetron-sinetron di televisi lebih memperparah lagi keadaan ini.

Tak dapat dipungkiri lagi, di masa sekarang, ada keprihatinan mendalam di balik fenomena itu. Dengan “mengatasnamakan cinta”, muda-mudi itu banyak yang lupa akan batasan-batasan yang digariskan agama. Melalui ajang yang disebut pacaran itu, terjadilah sebuah interaksi intensif dari perasaan saling suka, sering bertemu, dan seterusnya yang berujung pada terjadinya berbagai kontak fisik dalam kesempatan yang sepi berdua. Tak jarang mereka sampai terjerumus ke jurang perzinaan, karena tak bisa mengendalikan diri. Akhirnya, hubungan yang awalnya istimewa bagi mereka, menjadi penyebab terjadinya dosa besar dan hancurnya masa depan bagi pelakunya. Sekali lagi, sebelumnya mereka melakukannya dengan “mengatas namakan cinta”.

Ada kisah nyata seorang wanita yang dulu jadi teman sekelas semasa SD. Dia adalah gadis yang manis menurut penilaian umum. Walau sedikit centil, ia banyak disukai teman-temannya. Sejak SD ia sudah telibat hubungan asmara dengan kakak kelas yang juga masih tetangga saya. Walau itu mungkin cinta monyet, namun kisah itu terus berlanjut hingga SMA. Malangnya, ketika masih kelas 1 SMA, si gadis ternyata telah berbadan dua sehingga mau tidak mau harus kawin sangat muda. Tak berapa lama, keluarlah anaknya dari rahimnya sehingga dapat dikata ABG (Anak Baru Gede) tiba-tiba mengeluarkan anak yang bisa “gede”. Setelah semua itu terjadi, hilanglah masa-masa indah si gadis dalam berproses menjadi manusia dewasa. Dia harus menjadi sosok ibu di saat jiwanya masih pancaroba, sementara gadis-gadis lain sedang menikmati kebebasan mencari jati diri. Dia kini kelihatan sudah tua dengan badan gemuknya layaknya ibu-ibu kelahiran era 70an. Kecantikannya hanya terlihat sekejap mata setelah bencana itu tak dapat dihindarinya. Ia telah kehilangan masa mudanya… Lalu, siapa yang salah?

***

Begitu naifkah, kata cinta yang harusnya dijaga kesuciannya, menjadi ternoda. Lalu, benarkah itu cinta? Ataukah hanya nafsu yang terkamuflase? Jadi, ketika sepasang muda-mudi sedang asyik berduaan, sebenarnya cinta ataukah nafsu mereka yang “berbicara”? Apakah emosi ataukah akal sehat mereka yang lebih dominan?

Jika ada seorang gadis yang berkata pada kekasihnya, “Kuserahkan segala milikku untukmu sebagi bukti cintaku padamu…” Dia menganggap itu sebagai sebuah pengorbanan karena cinta. Tapi begitukah pengorbanan untuk cinta? Ataukah itu untuk nafsu?

Ada seorang pemuda menanyakan pada pacarnya, “Bila kau benar cinta padaku, apa buktinya?” Atau dalam kesempatan lain, “Sebagai bukti cinta, maukah kau kucium, kupeluk… (dan seterusnya).” Atau dalam kasus lain, jika yang minta ini itu adalah sang gadis, dan ketika si pemuda menolaknya lantas dibilang pengecut. Apakah harus begitu membuktikan cinta?

Begitu mudahkah mengatas namakan “cinta” untuk suatu perbuatan dosa. Apakah itu benar cinta, atau itukah yang dinamakan nafsu? Yah, sebagai makhluk jenius yang dikaruniai akal budi yang sempurna, kita sebagai manusia pasti tahu perbedan keduanya, antara nafsu dan cinta. Dan sebagai generasi muda yang terpelajar, sudah sepantasnyalah kita tidak mencampuradukkan kedua hal itu untuk melegalkan hasrat (baca: hawa nafsu) kita.

Sekarang adalah era informasi yang serba canggih, bukan era manusia gua ratusan abad yang lalu. Manusia semakin cerdas dan punya peradaban tinggi. Jadi, harus tahu apa itu arti cinta yang sesungguhnya, dan jangan menodai makna cinta dengan pelampiasan hasrat nafsu birahi dengan mengatasnamakan cinta.

Begitu parahnya pergaulan bebas muda-mudi di jaman ini, yang melegalkan perbuatan maksiat sebagai sebuah kebiasaan yang wajar. Hal itu bukan tanpa bukti. Ada wanita yang berkisah langsung dan katanya ingin bertaubat. Ada juga laki-laki yang berkisah dengan perasaan bangga tanpa ada niat memperbaiki diri sedikitpun. Ada juga cerita dari teman yang sering dijadikan curhat teman-temannya. Pendek kata, kita harus mengurut dada mengetahui realitas kelabu ini. Mereka ada di tengah-tengah kita. Itu terjadi di tengah-tengah kita.

Belum lagi banyaknya kasus-kasus pergaulan intim muda-mudi di luar nikah yang menghebohkan, direkam layaknya film dokumenter, namun akhirnya aib itu tersebar. Dan bagi si pelaku, pasti malu yang tak terkira harus mereka tanggung. Juga bagi keluarganya, itu semua menjadi aib yang memalukan, menghancurkan martabat keluarga, dan meluluhlantakkan segala kebanggaan. Ironisnya, pelakunya kebanyakan adalah sepasang kekasih yang masih pelajar atau mahasiswa. Lebih ironis lagi, mereka melakukannya atas nama cinta.

Pertanyaannya: apakah semua itu hanya dibiarkan saja? Atau hanya jadi bahan pemberitaan belaka?

Nama cinta bukanlah untuk sesuatu yang nista. Cinta adalah anugerah Yang Kuasa yang harus kita jaga kesuciannya. Jika kita mencintai kekasih kita, maka dengan cinta itulah kita menjaganya, bukan menodainya. Cinta selalunya suci dan mulia bila ia dimiliki oleh seorang “pecinta sejati”. Banyak kisah cinta yang menjadi legenda. Tajmahal yang indah di negeri India tercipta karena cinta. Rabiah Al Adawiyah menjadi legenda sufi wanita karena cintanya pada Sang Pencipta.

Pasangan legenda Rama–Shinta, Romeo–Juliet, Kais–Laila, menjadi kisah sepanjang masa karena cinta mereka. Tidak ada kisah melegenda tentang nafsu yang tak terkendali dalam hubungan dua insan lain jenis tanpa ikatan pernikahan. Adanya hanyalah skandal, perselingkuhan, perzinaan, dan nama lain sejenis yang amoral.

Jadi, jangan katakan ‘cinta’ jika kita tidak bisa memaknainya dengan makna yang sebenarnya. Jangan samakan cinta dengan nafsu hanya karena kita kurang kendali diri. Jangan mengkambinghitamkan cinta sebagai sarana pelampiasan nafsu. Dan yang lebih penting lagi, pergaulan bebas tak akan terjadi bila muda-mudi kita bisa memaknai cinta dengan sebenarnya dan memegang teguh ajaran agama dengan istiqomah (konsisten) sampai tiba masanya gerbang pernikahan terbuka.

Bagaimana menurut pendapat Anda?


Tanggapan

  1. Tidak Ada Pacaran dalam Islam sebelum Qta Sah Menikah dengan
    Seseorang yang qta yakini ( sholat Istikharah ) bakal menjadi suami/istri Qta.

    Jangan katakan Cinta jika qta belum siap untuk menikahinya.

    Nikah Dulu baru Pacaran. Oke Kan Bro..?

  2. Yn stuju bgt dgn artikel qm,thanx yach artikel qm dh nguatin yn.

  3. sy stuju sekali sm artikel anda. memang sbenarny klu seseorng yg cinta n cynk sm pasanganny dia ngk akn pernah “memaksa” pasangan utk melakukan hal yg blum pntas dilakukan dgn mengatas namakn cinta.

  4. Cinta memang anugerah, tapi cinta juga adalah sebuah permainan sosial yang ada hubungannya dengan Law of Attraction. Silakan lihat http://www.hitmansystem.com/blog/the-secret-law-of-attraction-113.htm untuk penjelasan lebih lengkap.

  5. Ya cinta mang bullshit, hanya cinta kepada Alloh yang harus kita kuatkan. Dalam pacaran itu bukan cinta tapi hanya nafsu. Kang giman kabarnya eva ni! Eh, yang kirim komentar yeni teman kita bukan ya? Kelas 3F

  6. Ohayo oniichan… genki???
    Sa… kyou mo ichi nichi ganbarimasho!
    Miraie no aru hito ni naro!

    Saigo made ganbarimasho!

    Artinya :
    …………………………. (tanda tanya)

  7. cinta dan nafsu…..
    bak dua sisi mata uang…..
    tak terpisahkan…….

    cinta dan nafsu……
    sejauh mana batasmu……..
    ternyata……..
    sangat tipis………

    berahimu… cintaku….
    cintaku…. berahimu…..
    mana tahaaannnnn…….

    mencintai sekaligus dicintai……
    dua kata sakti…..
    jika dihayati dengan baik dan benar….
    akan menjadi cinta yang sejati…..
    tuk… menahan hawa nafsu….

  8. [...] : klik di sini Post a Comment       Read More Post a [...]

  9. ThANk yOu,yAUw bWt tULisn qMu…
    AqU StUJu bNgeT sM sMua tULisN qmU.
    MmNg bnAR ciNta itU Tak shARusnyA DicMPUr adUkn oLEh nAFsu,sbB ciNta daN NAfsu itU Jelas jAUh bERbeDA…
    SkaLi Lgi mKAci yAach.. TULisn qMU ItU sngT MmbnTu AqU DLm mMbuKA MatA BHwa ciNTa taK SlaLu disERTai pNgoRBnN hAWa nAFsu…

  10. Syukron ats smwany.. Tlsan km bnr2 bgus.. Hny dg mncntai se2org krn Allah lah qt tk kn prnh trjrmus kdalm jrang nfsu.. Yg dhrpkn saat qt mncntai se2org bknkah hnya ridho dr-Nya..

  11. Cinta adalah kata pengungkapan hati yg paling dalamdimana cinta harus diwjudkan dalam sikap dan perbuatan jadilah cinta yg sejati dalam kasih Allah,cinta tidak mesti hatrus memliki,cinta adalah ungklapan kasih sayang terhadap lain jenis, cinta yg benar adalah betul2 tulus seperti gambaran allah cinta kepad kita tanpa pandang bulu,jika kita mengerti arti cinta terhadap Allah maka kita akn bisa mengerti arti makna cinta pada orang lain , jgn samakan cinta nafsu,sama dengan cinta kasih seperti yang allah berikan pada kita, yg pada intinya cinta jadilah seperti yang kita terapkan pada Allah , juga kita terapkan pada lain jenis kita, saling melindungi saling memahami dan saling pengertian terhadap pasangan kita, krn arti pasangan sesunguhnya saling melengkapi akan kekurangan kita, demikian penjelasan saya yentang cinta, tthx matur nuwun kwok kwok kwok bla bla bla bla cayo

  12. Sy sgt stju dg artikel yg Anda tlis.
    Pada intinya,cinta it suci,dn sswt yg suci it sdh slayakna qt jaga.
    Cinta tdk ad paksaan,lahr scr alami,mrupakan anugrah indah yg dbrikan Than..
    0ke?

  13. Cinta adalah anugerah Yang Kuasa yang harus kita jaga kesuciannya dan bila kita sudah saling mencintai kekasih kita, maka dengan cinta itulah kita menjaganya dan mempertahankannya…..

    Nafsu itu mempunyai arti kata yang luas,sebab disisi lain tanpa nafsu kita tidak akan mendapatkan yang kita cintai dan tidak akan bisa memahami apa dan siapa yang kita sayangi karena setiap manusia memiliki nafsu untuk mencintai dan dicintai pasangannya….. karena nafsu itu mempunyai makna yang luas…….

  14. Cinta adalah Karunia Ilahi…..tulus, suci nan murni.
    janganlah kesucian cinta dinodai dengan nafsu….
    karena cinta sejati adalah cinta yg mengantarkan kita kederajat manusiawi.
    Ada Cinta adapula nafsu mereka akan seiring adanya.Karena itu….pandai-pandailah dalam meredam hawa nafsumu…supaya tidak tegelincir kelembah nista.

  15. cinta mang indah tapi apakah cinta itu harus ternodai…………….seharus kita harus jaga cinta itu karna kalau kita tdk jaga kita kan sensara

  16. mmg remaja jman sekarang banyak menyalah artikan cinta,dan tdk mengambil sisi positif tapi sisi negatif saja.

  17. cinta…..cinta…cinta…..
    yach….nafsu dan cinta perbedaannya….bgai angka 11 dan 12……!!!!!!!!
    klo qta cinta ama se2orang…..uda pzt qta nafzu sm dy…..tp klo nafsu sm org…blm tentu qta cinta ama dy……gitzu aza…..
    thankz…..!!!!!!!!

    chi imoet…..

  18. Saya lg dilema,keksh sy bil dia cinta sy dgn stulus hatinya,tp kok ktanya “Punya nya dia” kangen lama g dsentuh. jujur sy benci dan jijik dgn gtuan.apa sy hrs ptus sm keksh sya??


Beri tanggapan

Your response:

Kategori