Oleh: Agus Riyanto | 4 Juli 2009

SEMANGAT SALING BERBAGI, BERBAGI SEMANGAT

Pekan yang lalu saya mendapat dua undangan untuk sharing seputar motivasi diri dari sahabat saya, kebetulan dua hari berturut-turut di dua tempat yang berbeda. Yang pertama sharing bersama sahabat di Komunitas Semangat Donk Indonesia, dan satu lagi spesial malam Minggu sharing di sebuah organisasi remaja yang luar biasa. Jika yang pertama sharing untuk beberapa rekan mahasiswa, maka yang kedua tidak kalah menarik karena harus bicara di depan audience yang kebanyakan siswa SMP dan SMA. Untuk itu, tepat jika saya ingin menanamkan kepada rekan-rekan muda pentingnya dream building dan semangat untuk mengambil action mulai dari sekarang demi kemajuan diri dan pencapaian di masa depan. Baca Lanjutannya…

Oleh: Agus Riyanto | 1 Juli 2009

BULATKAN TEKAD DAN TAWAKKAL [2]

Sahabat pembaca yang berbahagia. Cukup lama kita tidak saling menyapa melalui karya, Alhamdulillah kini kita bisa berjumpa kembali untuk saling berbagi. Kali ini saya melanjutkan artikel beberapa bulan yang lalu yang berjudul “Bulatkan Tekad dan Tawakkal”, yang jika diambil intisarinya kira-kira sebagai berikut: “Tentukan dulu goal-nya, dan kita tekadkan untuk meraihnya”.

Selanjutkan kali ini kita akan mencoba sharing, apa sebenarnya yang harus kita lakukan setelah kita memiliki goal dan tekad yang kuat untuk mewujudkannya. Jika unsur pertama yang harus kita lakukan adalah memiliki tekad yang benar-benar kuat, maka unsur berikutnya yang harus kita lakukan adalah yang akan kita bahas berikut ini.

Unsur kedua: TAWAKKAL

Tekad saja tidak cukup untuk mewujudkan impian, karena akan kita jumpai berbagai hal di sekitar kita yang membuat apa yang kita tekadkan lama-lama surut dan pudar. Sering juga orang-orang di sekitar kita membuat motivasi dan antusiasme kita dalam meraih impian menjadi kerdil. Mereka seringnya meyakinkan bahwa sesuatu yang bisa kita raih itu hanya mimpi belaka. Dari situ akan timbul keraguan-keraguan akibat dari pengaruh negatif yang dihembuskan oleh para vampire penghisap optimisme tersebut. Baca Lanjutannya…

Oleh: Agus Riyanto | 11 Mei 2009

THE POWER OF POSITIVE ATTITUDE

Oleh : Final Prajnanta

Sikap atau dalam bahasa Inggrisnya attitude diyakini merupakan modal utama kesuksesan seseorang. William Clement Stone (4 Mei 1902 – 3 September 2002), seorang pengusaha sukses dan penulis buku pengembangan diri mengatakan bahwa There is little difference in people, but that little difference makes a big difference. The little difference is attitude. The big difference is whether it is positive or negative. (Ada sedikit perbedaan pada manusia, tetapi perbedaan kecil ini menyebabkan perbedaan yang besar. Perbedaan kecil itu adalah sikap. Perbedaan besarnya adalah apakah sikap ini positif atau negative.) Orang yang mempunyai sikap positif cenderung orangnya antusias dan selalu optimis, sebaliknya orang yang selalu bersikap negatif cenderung kurang antusias dan menjadi pesimis.

Suatu penelitian di Universitas Standford, menyimpulkan bahwa kesuksesan ditentukan oleh 87.5% attitude atau sikap dan hanya 12.5% karena kemampuan akademik seseorang. Jadi, jika anda mempunyai kemampuan akademik rata-rata, janganlah kecewa hati. Demikian pula jika tingkat pendidikan anda saat ini belum optimal, jangan merasa takut tidak akan sukses karena kesuksesan lebih ditentukan oleh sikap.

Sikap Optimis vs Pesimis

Dalam kehidupan di sekitar kita selalu terdapat orang-orang yang pesimis dan orang-orang yang optimis. Biasanya mayoritas orang adalah pesimis. Kata-kata yang sering diucapkan orang pesimis adalah :

- ”Ah, saya nggak mampu…”

- ”Nggak berani ah mencoba tantangan itu…”

Sementara orang-orang optimis akan selalu mengatakan :

- ”Saya siap menerima tantangan apa pun yang diberikan!”

- ”Saya harus sukses!”

Apa yang menyebabkan orang-orang berperilaku pesimis? Baca Lanjutannya…

Oleh: Agus Riyanto | 11 Mei 2009

MEMBANGKITKAN SEMANGAT HIDUP

***

Salam sejahtera sahabat semua. Cukup lama saya tidak menyapa Anda melalui tulisan-tulisan saya karena akhir-akhir ini banyak tugas membuat makalah. Jadi, saya tetap menulis, namun tulisannya bukan untuk diposting di sini. Sebelum melanjutkan artikel yang lalu, tentang bagaimana kita membulatkan tekad kemudian bertawakkal, saya akan mengulas bagaimana agar hidup kita tetap bersemangat. Semoga apa yang diuraikan berikut ini bermanfaat.

Ada seorang rekan pembaca yang bertanya melalui e-mail, “Pak Agus, bagaimana caranya membangkitkan semangat hidup?” Rekan saya tersebut berkisah bahwa ia sering keliru memaknai sebuah hadits yang berbunyi, “Beramallah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok”. Ia beranggapan bahwa buat apa bekerja keras meraih kesuksesan dunia kalau pada akhirnya kita juga akan mati.

Ya, memang benar kita akan mati, tapi bukan berarti kita menjadi bersikap apatis seperti itu. Pada suatu saat nanti maut pasti akan menjemput, dan berakhirlah kontrak hidup kita di dunia ini. Namun jika hal ini menjadikan kita kehilangan semangat untuk berjuang dan bekerja keras untuk mewujudkan cita-cita kita, atau paling tidak berusaha agar kita bisa meraih kehidupan yang lebih baik maka menurut saya pemahaman seperti itu agak kurang tepat. Saya tidak menyalahkan, tetapi hanya menyayangkan.

Akhirat memang harus kita dapatkan, namun dunia juga tidak boleh kita abaikan. Dan yang paling ideal adalah kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Semua orang pasti menghendaki kedua hal tersebut. Jadi ada keseimbangan dalam hidup ini. Di samping bekerja keras untuk urusan dunia, di sisi lain kita juga tidak melupakan ibadah kita kepada Tuhan. Kita tidak mementingkan dunia saja, tapi kita juga tetap ingat kepada Allah SWT, dan sadar betul kewajiban kita kepada-Nya. Dengan memahami pentingnya keseimbangan hidup tersebut, kita akan memiliki sebuah semangat untuk menjalani hidup ini dengan dinamis, optimis dan bahagia.

Ada beberapa hal yang dapat membangkitkan semangat hidup, antara lain: Baca Lanjutannya…

Oleh: Agus Riyanto | 9 April 2009

BULATKAN TEKAD DAN TAWAKKAL

Suatu hari seorang sahabat bertanya melalui email, “Kalau ada orang yang terlahir dengan otak yang cerdas mereka mudah meraih kesuksesan yang mereka impikan. Lha, bagi orang yang pikirannya pas-pasan, bagaimana saya bisa sukses dalam hidup ini?”

Sering kali kita mendengar orang lain di sekitar kita menceritakan dirinya. Namun, jika kita amati mereka lebih menonjolkan kekurangan atau rasa ketidakberdayaan yang mereka rasa ada padanya. Mereka berfokus pada sesuatu yang “negatif” dari diri mereka sendiri. Saya sengaja memberi tanda petik pada kata “negatif” karena ini sebenarnya hanya persepsi mereka saja. Kalau menilai keterbatasan diri, rasanya banyak orang yang lebih punya alasan. Alasan yang menguatkan bahwa dirinya tidak bisa ini, tidak bisa itu dan sebagainya. Baca Lanjutannya…

Oleh: Agus Riyanto | 9 April 2009

BANGKIT INDONESIA!!!

Bangsa kita pernah dijajah selama 3,5 abad oleh bangsa lain. Belanda adalah negara yang pernah menjajah bangsa kita paling lama. Jika kita mendengar cerita dari kakek atau nenek kita yang dulu pernah mengalami sendiri masa penjajahan, tentunya kita akan tahu betapa menderitanya bangsa ini ketika ditindas dan dikuras kekayaannya oleh bangsa lain. Rakyat kita menjadi miskin, bodoh dan menderita.

Dari pengalaman itu, seharusnya kita harus bertekad bulat untuk bisa bangkit menjadi bangsa yang berjaya dan berakhlak mulia, yang tidak diremehkan dan ditindas oleh bangsa lain. Mungkin secara fisik bangsa kita telah merdeka, namun apakah jiwa kita juga sudah merdeka? Apakah secara ekonomi juga sudah merdeka? Baca Lanjutannya…

Oleh: Agus Riyanto | 28 Maret 2009

MENULIS, SIAPA TAKUT?

Artikel ini saya tulis untuk menjawab pertanyaan seorang sahabat pembaca dari Bogor yang bercita-cita menjadi penulis buku, tetapi masih mengalami kesulitan dan merasa belum pantas menulis buku.

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas sharingnya. Bukan berarti saya lebih pandai dari anda, namun mari kita belajar bersama karena pada hakikatnya kita sama-sama menjadi pembelajar dalam kehidupan ini. Pembelajar sejati tak ‘kan pernah berhenti belajar selama hayat masih dikandung badan… Keep learning!

***

Sahabatku, sebetulnya menulis bukanlah hal yang sulit, namun juga tidaklah mudah. Menulis membutuhkan tekad, kerendahan hati untuk terus belajar dan suasana yang hati yang kondusif. Tentang kiat-kiat menulis sudah pernah saya bahas. Silahkan anda buka halaman “Tips”, di situ saya mengulas tips menulis yang efektif agar hasilnya lebih maksimal, baik dalam menulis artikel maupun buku. Semoga uraian tersebut  bisa memberikan manfaat dan inspirasi kepada anda yang membutuhkan. Baca Lanjutannya…

Oleh: Agus Riyanto | 12 Maret 2009

BULAN SABIT: JADILAH PURNAMA!!!



Pada artikel yang lalu saya menulis tentang “Bulan: Sabit untuk Purnama atau Purnama untuk Sabit?” yang isinya belumlah mencerminkan judul artikel tersebut dan menimbulkan pertanyaan bagi sahabat yang membacanya. Bahkan senyum saya sempat tersungging ketika membaca komentar Pak Wuryanano–seorang pengusaha, motivator dan life inspirator yang luar biasa prima dan saya kagumi. Pasalnya beliau menghubungkan kata “bulan” tersebut dengan wanita; tentang keadaan wanita bila masih didatangi bulan (atau kedatangan bulan), atau harapan wanita tentang bulan agar selalu datang padanya, dan seterusnya… He..he..he.. saya juga jadi teringat teman saya yang baru menikah, kemudian mereka berbulan madu. Atau ketika teman saya yang lain kelelahan dalam aktivitasnya, maka kemudian dia minum STMJ (Susu, Telor, Madu, Jahe). Hmm… yang ini malah tidak ada hubungannya sama sekali. Hanya ada kata “madu”-nya, dan sebelumnya ada kata “bulan madu”. Bicara tentang bulan, saya juga jadi ingat pernah mimpi berjalan malam hari diiringi bulan, bulan purnama, anehnya bulannya ada empat, tapi itu sekedar mimpi… bunga tidur di malam hari.

Terlepas dari semua persepsi di atas tentang bulan, mari sekarang kita ulas kata “bulan” dari sisi yang lain, sebagaimana maksud dari tulisan saya sebelumnya, yakni pesan dari seorang sahabat–sang penulis novel “Kepribadian Alina”, kepada saya di suatu malam. Semoga pesan ini bisa bermanfaat pula untuk sahabat-sahabat yang lain, yang saat ini masih dalam proses pencarian jati diri atau proses perjuangan menjadi manusia dewasa yang lebih baik dan bijaksana. Baca Lanjutannya…

Oleh: Agus Riyanto | 5 Maret 2009

BULAN: SABIT UNTUK PURNAMA ATAU PURNAMA UNTUK SABIT?


***

Tadi sore sore saya bermain dengan keponakan saya yang cakep, cute dan manis. Dia sedang digendong engkongnya, namun menangis karena ingin minum ASI, dan ibunya baru selesai mandi. Untuk menghiburnya, saya pun berjingkrak-jingkrak dengan gaya Mr. Bean—meskipun tidak mirip, ya… dimirip-miripkan saja, hehehe. Mengherankan memang, keponakan saya yang baru genap berusia lima bulan itu—sedang lucu-lucunya, bisa sedang menangis langsung tertawa terbahak-bahak. Begitu saya berhenti beraksi maka tangisnya kembali mengaum (hmm… memangnya harimau? Maksudnya tangisnya meledak…). Namun begitu saya beraksi lagi, ia pun dalam sepersekian detik kembali tertawa terpingkal-pingkal. Mulut mungilnya yang belum ditumbuhi gigi terbuka lebar mengeluarkan tawanya yang menggemaskan. Saya hampir tidak menemukan jeda antara tangis dan tawanya. Sungguh indah Allah menciptakan makhluknya yang bernama manusia. Tidak ada beda baginya antara tangis dan tawa. Baca Lanjutannya…

Oleh: Agus Riyanto | 28 Februari 2009

DEMI KASIH IBU


Demi kasih ibu…

Yang telah tumbuhkan aku dewasa

Aku akan berusaha membahagiakannya

Menjadi anak yang berbakti Baca Lanjutannya…

Oleh: Agus Riyanto | 24 Februari 2009

HIDUP INDAH DENGAN “BISMILLAAH”

Hidup yang kita inginkan, di samping yang berkecukupan, tentu juga yang penuh berkah. Dan perasaan bahagia pasti ingin menyelimuti hati kita meskipun hidup kita tidak bergelimang harta, karena apakah hanya dengan harta kita bisa bahagia? Tentu tidak!

Setidaknya bahagia itu bisa kita peroleh di saat kita mau mensyukuri karunia-Nya yang terlimpah kepada kita tiada henti. Dan juga menjadikan Dia, Sang Pencipta, selalu menyertai semua langkah kita.

Kita bisa melakukannya dengan menyertakan nama-Nya di setiap aktivitas kita. Kita sebut nama-Nya setiap kita hendak memulai seluruh aktivitas hidup kita, semuanya, dari bangun tidur sampai tidur lagi. Baca Lanjutannya…

Oleh: Agus Riyanto | 17 Februari 2009

EKSPANSI KESADARAN

Sebenarnya saya ingin memposting Love Story berjudul “Bunga Cinta dari Negeri Sakura” yang sejak awal Januari lalu selalu menggoda pikiran saya, namun karena ada hal yang saya pikir lebih baik jika didahulukan untuk disampaikan maka saya memutuskan menunda kisah romance yang sekarang masih berlanjut tersebut. Dan ketika Denpasar menjadi saksi…, ketika hanya “Watashi wa aisiteru” yang menjadi kata-kata terakhir…, semua itu akan menjadi kisah istimewa. Semoga di kesempatan mendatang Love Story yang dimaksud bisa hadir di sini menyapa sahabat semua.

Itu semua karena ada pertanyaan sahabat pembaca yang sedang ditunggu jawabannya. Namun sebelum saya menjelaskan pertanyaan yang dimaksud, ada baiknya sepenggal kisah di bawah ini saya sampaikan terlebih dahulu. Baca Lanjutannya…

Oleh: Agus Riyanto | 14 Februari 2009

KEINDAHAN CINTA

Cinta… Sembuhkan IBU

***

Dalam cinta tidak ada syarat
Dalam cinta tidak ada perjanjian
Dan juga penyesalan…

Cinta itu bagai kehidupan
Dan bila kita tak bisa meninggalkan kehidupan
Kenapa harus meninggalkan cinta…

Suka dan duka hanya bagai angin lalu
Dunia ini sangatlah indah
Ini suatu kenyataan… Baca Lanjutannya…

Oleh: Agus Riyanto | 14 Februari 2009

SENYUM TERINDAH


Jagoanku: BORN TO BE A CHAMPION

***

Sahabat-sahabatku, betapa indah senyumnya…
Dialah jagoanku…

Hari ini saya kehabisan kata-kata untuk menuliskan kalimat betapa besar rasa sayangku padanya… Baca Lanjutannya…

Oleh: Agus Riyanto | 8 Februari 2009

MENEMBUS KETERBATASAN

Bersama Alang-Alang Timur dan Suminaring Prasojo, 2 penulis novel best seller

***

Tanggal 23 Januari yang lalu adalah hari di mana saya berjumpa dengan seorang penulis novel yang luar biasa prima. Sebenarnya pertemuan ini bukanlah direncana. Bermula dari informasi seorang kawan bahwa sore itu di toko buku Gramedia di kotaku akan ada jumpa penulis, dua orang sekaligus, dan salah satunya adalah penulis idola saya. Maka sore itu menjadi tidak biasanya, pada jam 15.00 WIB saya telah berkemas untuk cabut, padahal saya selalu pulang kerja setelah Ashar atau menjelang Maghrib.

Segera saya menghubungi seorang teman yang akan datang bersama. Kebetulan buku-buku karya penulis idola yang saya koleksi saya titipkan ke teman tersebut, dan menurut rencana akan saya mintakan tanda tangan kepada sang penulis idola tersebut. Terburu-buru sampai di Gramedia, ternyata acara sudah dimulai. Melihat penulis yang sedang berbicara di hadapan pengunjung bukanlah orang yang saya kira, saya pun segera bertanya kepada pramuniaga yang ada di situ. Memang benar, tokoh penulis yang saya maksud tidak ada jadwal sore itu ke Gramedia. Lantas, dari mana kawan saya tadi mendapat informasi yang salah ini; pikirku dalam hati.

Walaupun demikian, saya tidak menjadi begitu kecewa karena jumpa penulis lain yang sedang berlangsung juga cukup menarik setelah disimak, dan semakin menarik ketika sedikit demi sedikit saya mulai mengerti jalan ceritanya. Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori